Pembalut Dingin untuk Wanita: Saking Dinginnya Bukannya Nyaman Malah Bikin Kapok

Pembalut Dingin untuk Wanita: Saking Dinginnya Bukannya Nyaman Malah Bikin Kapok

Pembalut Dingin untuk Wanita: Saking Dinginnya Bukannya Nyaman Malah Bikin Kapok (Unsplash.com)

Mungkin maksud produsen pembalut wanita baik ya, berusaha mengerti kebutuhan konsumennya. Sayang, inovasi pembalut dingin malah bikin kapok!

Menstruasi menjadi periode yang melelahkan bagi setiap perempuan. Saat masa itu datang, badan terasa seperti meriang, pinggang terasa pegal, kepala sakit, perut bagian bawah juga mendadak nyeri. Akhirnya, mood jadi berantakan. Apalagi kalau ada drama pembalut wanita. Ya pembalut bocor lah, geser lah, dsb.

Untuk mengatasi drama pembalut yang kerap membuat emosi wanita tersulut, produsen pembalut berlomba-lomba menciptakan inovasi. Tentu saja inovasi tersebut adalah hasil dari observasi terhadap beberapa hal yang kerap dikeluhkan wanita saat datang bulan. Contohnya soal pembalut bocor. Dulu, nggak ada pembalut yang bagian belakangnya lebih lebar. Lalu, lahirlah pembalut dengan bagian belakang lebih lebar dan panjang sebagai solusi.

Kemudian, untuk mengatasi persoalan gerah yang kerap dikeluhkan oleh pengguna pembalut, muncullah pembalut dengan technology cooling sistem alias pembalut dingin. Tapi, maaf-maaf aja, nih, saya sih ogah pakai pembalut sensasi dingin. Kapok!

Pengalaman menggunakan pembalut dingin

Berawal dari penasaran, saya memutuskan untuk mencoba pembalut dengan sensasi dingin. Nggak hanya dari satu merek, tapi dari berbagai merek yang sering nangkring di etalase minimarket. Setelah dicoba, masing-masing pembalut memiliki tingkat dingin yang berbeda. Ada yang “maknyesss”, ada pula yang B aja.

Sebelum saya bagikan testimoni menggunakan pembalut dingin, saya mau cerita dulu soal klaim bahwa pembalut dengan technology cooling sistem membuat area kewanitaan jadi lebih nyaman saat menstruasi. Menurut saya, klaim ini agak berlebihan.

Nyatanya, pembalut dingin ini terasa sama saja dengan pembalut wanita pada umumnya. Bedanya, dia dingin. Itupun dinginnya hanya di awal. Selang beberapa menit kemudian, sudah nggak lagi terasa dinginnya.

Pembalut dingin terlalu dingin hingga bikin kapok

Lanjut ke bagian testimoni. Pengalaman nggak menyenangkan pernah saya alami saat menggunakan pembalut dingin, tepatnya saat hendak cebok setelah buang air kecil. Rupanya efek dingin yang ada pada pembalut menempel pada kulit luar area vagina. Akibatnya, ketika area tersebut terkena siraman air, ada perasaan nggak nyaman. Sangat nggak nyaman malahan.

Kenapa bisa begitu? Ya karena si kulit kaget akibat adanya perubahan suhu yang tiba-tiba.

Perasaan nggak nyaman tiap kali terkena air itu kemudian membuat saya jadi “aras-arasen” atau ogah-ogahan tiap kali mau ke kamar mandi. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Daripada harus menanggung batu ginjal gara-gara nahan buang air kecil, saya lebih memilih untuk tabah dan menahan rasa nggak nyaman saat cebok. Kapok!

Yang perempuan butuhkan dari pembalut…

Sebagai perempuan, kami, eh, saya, sebetulnya nggak butuh-butuh amat pembalut dengan inovasi yang fafifu macam sensasi dingin. Buktinya, alih-alih memberikan kenyamanan, pembalut dingin justru meninggalkan trauma. Yang kami butuhkan dari pembalut wanita sebetulnya dua hal saja.

Pertama, permukaan lembut supaya kulit nggak iritasi. Kedua, daya serap maksimal supaya anti bocor-bocor club.

Soal kenyamanan, satu-satunya cara supaya tetap nyaman saat memakai pembalut wanita ya dengan sering-sering menggantinya, yaitu tiap 4 jam sekali. Selain faktor kenyamanan, sering mengganti pembalut juga dianjurkan untuk mengurang risiko infekti bakteri pada alat reproduksi.

Kecuali, jika yang digunakan adalah menstrual cup. Pengguna nggak perlu repot-repot mengganti tiap 4 jam sekali karena menstrual cup bisa menampung lebih banyak darah. Menstrual cup aman dipakai hingga 6 bahkan 12 jam.

Kesimpulan

Intinya, kenyamanan pembalut wanita itu bukan dengan menambahkan efek dingin. Mending produsen fokus untuk memproduksi pembalut wanita yang lembut dan tahan bocor karena itu lebih berguna.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 4 Inovasi Pembalut Wanita yang Nggak Terlalu Penting dan Harusnya Stop Produksi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version