Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya (Pixabay.com)

Awal tahun ini saya sempat mengikuti liburan open trip dengan teman saya. Di situ saya berkenalan dengan seseorang yang berprofesi sebagai pekerja tambang. Perusahaannya pun cukup terkenal. Di awal, obrolan kami seputar daerah asal, pengalaman liburan, dan alasan menggunakan jasa open trip. Sampai kemudian dia mulai bercerita soal latar belakangnya yang seorang pekerja tambang. Dari situ, saya mulai tertarik dan bertanya tentang kehidupan di kawasan pertambangan.

Dari percakapan itu, saya kemudian mengetahui bahwa pendapatan tinggi yang sering melekat pada pekerja tambang punya konsekuensinya sendiri. Saat bekerja, seorang pekerja tambang yang ditempatkan di lokasi tertentu harus menghadapi nasib terpisah dengan pasangannya bisa lebih dari 6 bulan.

Komunikasi tetap bisa dilakukan melalui smartphone. Mungkin kalau dibandingkan dengan pekerja imigran yang merantau atau para pelaut yang terpisah tahunan, kisaran 6 bulan tidak terlalu lama. Tapi tetap saja, konsekuensi harus berpisah lama apalagi bagi yang baru menikah akan sangat berat.

Tentu 6 bulan lebih yang diceritakannya adalah pengalaman pribadi. Bukan gambaran semua pekerja tambang. Sebab, ada yang bisa lebih lama dari itu. Sistem kerja di pertambangan yang berbeda-beda, jabatan dan status pekerja yang dimiliki, peraturan perusahaan, serta lokasi penambangan mempengaruhi durasi kerja tersebut. Pola pekerjanya umumnya melalui sistem roster yaitu beberapa minggu bekerja dan beberapa minggu libur.

Waktu istirahat yang begitu penting

Selain soal waktu bekerja, aspek lain adalah tentang waktu istirahat. Saya sebelumnya mengira tinggal di kamp penambangan membuat mobilitas pekerja jadi lebih efisien. Namun realitasnya, kamp yang dekat dengan area kerja menandakan bahwa durasi kerja dalam sehari bisa begitu panjang.

Mereka harus menjalani pekerjaan yang repetitif berjam-jam, bahkan bisa 24 jam, paparan suhu ekstrim, debu batu bara yang tebal, silika kristalin yang dapat terhirup, kebisingan yang mengusik telinga, serta ancaman dari risiko alat berat yang ada di sekitar mereka.

Apa yang dihadapi oleh pekerja tambang tersebut membuat berisiko mengalami banyak penyakit, mulai dari gangguan pendengaran, infeksi pernapasan, serta gangguan pada otot dan rangka. Semua hal itu jadi kombinasi yang membuat pekerja tambang mengalami trauma dan kelelahan berat.

Kalau kelelahan pekerja kantor menghasilkan kesalahan dokumen, maka kelelahan pekerja tambang berefek pada nyawa. Sebab yang di sekitar mereka bukan printer atau alat fotocopy, tapi kendaraan besar dan mesin berat yang bikin merinding.

Efek kelelahan punya implikasi pada kesehatan mental. Sebab mereka harus menjalani kehidupan yang penuh keterasingan, pola kerja yang tidak menentu, dan kehidupan yang jauh dari dukungan sosial dan emosional.

Pekerja tambang berhadapan dengan ketidakpastian industri

Selain itu, mereka juga dihadapkan pada ketidakpastian industri. Karena besarnya pendapatan yang mereka peroleh tidak selalu seirama dengan kendali mereka atas masa depannya. Terlebih pekerjaan mereka berhubungan dengan komoditas global yang harganya sangat fluktuatif. Mereka juga dihadapkan pada konsekuensi berpindah tempat yang bikin mental pun jadi kelelahan. Harus pindah sana, tahun depan pindah lagi. Begitu terus.

Mendengar semua realitas itu, saya jadi makin menyadari bagaimana gaji yang besar di sektor tambang tidak datang tanpa konsekuensi. Para pekerjanya harus menghadapi kompensasi atas risiko, jarak, kesepian, kelelahan, dan momen kehidupan di lingkungan pertambangan yang terus berulang.

Bahkan saat pensiun, banyak dari pekerja ini harus menjalani masa tua dengan membawa penyakit yang bersumber dari tumpukan tekanan yang dihadapi saat menjadi pekerja.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Kerja di Sektor Pertambangan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version