Kondisi Pasar Minggu saat ini sebetulnya sedang berada di ujung tanduk. Semakin hari semakin sepi. Pedagang yang dulu sibuk melayani pelanggan setiap hari, sekarang malah lebih banyak bengongnya sambil memikirkan nasib. Sangat berbanding terbalik kondisi keramaiannya bila dibandingkan ketika saya masih kecil. Per 2025 kemarin saja pihak manajemen menyatakan bahwa ada 300 kios yang tutup di sana.
Semuanya berawal dari pandemi Covid-19 pada 2020 kemarin. Meskipun pandemi sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu, dampaknya masih terasa pada para pedagang di Pasar Minggu. Aturan yang membatasi aktivitas di luar rumah membuat masyarakat sampai saat ini terbiasa untuk membeli kebutuhan melalui toko-toko online. Tinggal klik dan barang pun sampai di rumah. Hal tersebut lebih efisien dan tentunya nggak bisa disalahkan.
Sekarang pertanyaannya adalah sampai kapan Pasar Minggu ingin terus seperti ini? Apakah mau bangunan-bangunan pasar yang terlanjur berdiri itu terlantar sehingga menjadi angker? Kalau jawabannya tidak, ada baiknya pengelola Pasar Minggu belajar dari tetangga-tetangganya yang pernah juga mati dimakan sepi, tapi bisa bangkit kembali dengan hebat, yaitu Blok M Square dan Pasar Santa.
Belajar dari Blok M Square dan Pasar Santa
Dulu, pandemi juga mematikan Blok M Square dan Pasar Santa. Namun, mereka bisa bangkit kembali dengan mengundang pedagang-pedagang yang menawarkan produk yang diminati anak-anak muda di Jakarta. Sampai sekarang kalau kita mengunjungi Blok M Square di akhir pekan, ramainya minta ampun. Bahkan, netizen sampai berkelakar dengan mendeklarasikan Negara Blok M.
Ramainya Blok M Square disebabkan ada banyak jenis produk yang membuat anak muda ingin mengunjungi, yaitu kuliner, buku bekas, dan rekaman musik fisik. Begitu pun dengan Pasar Santa. Di sana kita bisa menemukan berbagai macam jenis kopi dari berbagai daerah. Sekarang siapa sih orang yang nggak suka ngopi? Selain itu, di sana kita juga bisa menemukan aksesoris-aksesoris yang sesuai dengan selera anak muda Jakarta saat ini.
Hal-hal tersebutlah yang absen dari Pasar Minggu. Produk yang ditawarkan oleh pedagang-pedagang masih cenderung terfokus kepada sembako, pakaian, dan perangkat teknologi. Inilah yang menjadi PR bagi pengelola. Mereka harus mencari cara untuk mengundang banyak pedagang yang menawarkan produk yang diminati anak muda.
Ketinggalan zaman soal digitalisasi
Hal yang selanjutnya perlu dilakukan untuk pengelola adalah memasuki ruang digital. Jujur saja, Pasar Minggu sangat ketinggalan soal digitalisasi. Padahal, ruang digital penting untuk dikuasai agar pihak pengelola bisa mempromosikan berbagai hal yang ada di Pasar ini.
Langkah ini sudah diambil terlebih dahulu oleh Blok M Square dan Pasar Santa melalui akun Instagram mereka, yaitu @blokmsquare dan @pasarsanta. Di sana kita bisa melihat bagaimana akun yang dikelola secara resmi tersebut mempromosikan pedagang-pedagang di tempatnya masing-masing. Lah, sedangkan Pasar ini punya akun Instagram saja nggak. Bagaimana anak-anak muda yang digital native mengetahui dan mau berkunjung ke Pasar?
Pasar Minggu, bersiaplah mati kalau tidak mau adaptasi
Sebenarnya kunci agar Pasar ini tidak mati di kemudian hari adalah beradaptasi dengan zaman. Memang betul Pasar Minggu itu merupakan pasar tradisional. Tapi, bukan berarti akan terus dikelola dengan cara-cara tradisional dong. Pihak pengelola nggak boleh gaptek kayak boomer yang sulit dikasih tau mengenai perubahan zaman.
Kunci selanjutnya adalah prinsip ekonomi dasar, yaitu supply dan demand. Pengelola harus bisa membaca minat anak muda. Dan, mengisi kios-kios kosongnya dengan pedagang yang menjual produk yang diminati tersebut. Bila kedua kunci itu diterapkan segera dengan baik oleh pihak pengelola, tidak perlu waktu lama untuk mengembalikan Pasar ini ke masa kejayaannya.
Bukankah keren bila Pasar Minggu kembali ramai dan mendeklarasikan dirinya sebagai Negara Pasming untuk menyaingi Negara Blok M?
Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Dekat Markas Besar Polisi, Tapi Banyak Preman di Blok M Jaksel, Mengapa?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















