Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pariwisata Banyuwangi Jangan Berharap Melampaui Bali, Perbaiki Dulu Kekurangan yang Lain

Anik Sajawi oleh Anik Sajawi
29 Juli 2023
A A
Surat Terbuka untuk Bupati Banyuwangi Terkait Minuman Keras (Unsplash)

Surat Terbuka untuk Bupati Banyuwangi Terkait Minuman Keras (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Perkembangan pariwisata di Jawa Timur tentu tidak akan terlepas dari Kabupaten Banyuwangi yang digadang-gadang bakal melesat menyusul Bali dan meninggalkan Jember. Hanya saja, banyak skeptisisme dalam pernyataan tersebut.

Misalnya, Banyuwangi dianggap mengekor Kabupaten Jember dengan meniru Jember Fashion Carnaval (JFC) gelaran festival terbesar yang diakui dunia. Bahkan dianggap sejajar dengan Rio Carnival di Rio de Janeiro, Brazil.

Tidak tanggung-tanggung, Banyuwangi memplagiasi dengan nama Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang konon digadang-gadang jadi fashion carnaval terbaik meski belum diakui seperti JFC dan sudah digelar beberapa waktu lalu. Tidak hanya meniru konsep, bahkan Dynand Fariz yang notabene pendiri JFC dibajak untuk bisa membuat BEC dikenal oleh dunia, meski tetap saja belum terlaksana.

Lalu tentang konsep ekowisata yang digaungkan di Banyuwangi sejak satu dekade terakhir terkesan maksa. Banyuwangi yang memiliki potensi beragam dipaksakan harus mengambil sisi bisnis pariwisata yang tentunya cukup menyulitkan bagi para warga lokal. Sebab mereka yang seharusnya petani atau bekerja di sektor lain seakan dipaksa oleh keadaan untuk mengadu nasib dengan potensi wisatanya.

Event adat yang tak lagi sakral

Idealnya, kritik terhadap pariwisata Banyuwangi memang harusnya makin gencar dilakukan. Lantaran, berbagai upaya yang dilakukan oleh pemangku kebijakan di sana selalu berbasis pada retorika yang belum terlihat bentuknya. Salah satu contohnya adalah memasukan event adat yang sakral dengan ditetapkan sebagai agenda Banyuwangi Festival. Hal itu justru membuat sisi kesakralan tradisi itu perlahan hilang.

Bahkan bentuk kesakralan yang hilang akibat protokoler pemangku kebijakan membuat beberapa event adat yang saya lihat berlangsung gagal. Seperti Penari Seblang Banyuwangi yang punya sesi trance sebagai keunikannya. Gara-gara berbagai kondisi yang tak proper, akhirnya bikin penari tak maksimal.

Kesakralan tradisi yang diobok-obok ini bikin kita bertanya-tanya, apakah intervensi ini sepadang? Atau malah menghilangkan identitas demi bisnis?

Pembangunan wisata Banyuwangi yang nanggung

Meski diakui berbagai inovasi terlihat dilakukan secara masif oleh pemangku kebijakan di Banyuwangi. Sayangnya yang kita lihat ya inovasinya itu-itu saja, seperti membangun Lorong Bambu tidak jauh dari Taman Blambangan Banyuwangi yang usianya 11-12 dengan patung bambu Getah-Getih di Jakarta.

Baca Juga:

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Atau proses revitalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang setelah dibangun minim perawatan. Mulai sampah yang tidak dibersihkan, kolam ikan yang penuh lumut, hingga banyak penerangan yang padam. Sehingga membuat tempat tersebut jadi surga tersembunyi bagi muda-mudi yang dimabuk asmara lantaran gelap gulita seperti di RTH Maron Genteng dan Kedayunan Kabat.

Meski diakui memang wisata di Banyuwangi lebih banyak dibandingkan Kabupaten Jember. Tapi hal itu malah jadi bumerang, lantaran perawatan yang dilakukan tak sebanding dengan semangatnya dalam membangun. Akhirnya ya, kunjungannya menurun.

Seperti di Destinasi Wisata Air Terjun Lider di Kecamatan Songgon yang sebenarnya memiliki potensi alam sangat indah. Tapi, lantaran minim perawatan dan perbaikan di sana-sini membuat destinasi ini terkesan membahayakan bagi pengunjung.

Mulai dari potensi longsor di beberapa titik, jalur yang tertutup pohon tumbang sehingga membuat pengunjung harus susur sungai menuju air terjun. Saat susur sungai itulah yang membahayakan wisatawan lantaran potensi banjir ketika di wilayah hulu Gunung Raung diguyur hujan deras.

Harusnya terus berbenah dan niat membangun wisata

Saya, jujur saja, nggak bisa bayangkan kalau hal tersebut beneran kejadian. Saya tidak mendoakan pariwisata di Banyuwangi buruk. Tapi andai pembenahan tak segera dilakukan, hal-hal buruk menunggu. Sehingga perlu upaya serius yang dilakukan pemangku kebijakan, agar cita-cita melesat melampaui Bali tidak hanya imajinasi.

Banyuwangi tidak akan menyalip daerah mana pun dalam waktu yang begitu cepat jika polanya begitu-begitu saja. Tapi, jika caranya benar dengan terus berbenah dan niat membangun wisata, tentu saja semua bisa terjadi. Pada akhirnya, dunia wisata tidak selebar daun kelor, ada banyak hal yang bisa dilakukan agar tidak boncos.

Penulis: Anik Sajawi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menebak Alasan Mitos Santet Tumbuh Subur di Banyuwangi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2023 oleh

Tags: Banyuwangipariwisata
Anik Sajawi

Anik Sajawi

Anak bungsu ideoligis Jean-Paul Sartre yang menulis untuk keabadian. Gemar menonton drama korea yang sesekali menulis untuk berbagi cerita.

ArtikelTerkait

3 Alasan Licin Banyuwangi Jadi Tempat yang Tepat untuk Menghabiskan Hari Tua

3 Alasan Licin Banyuwangi Jadi Tempat yang Tepat untuk Menghabiskan Hari Tua

26 Oktober 2023
Ketika Jogja Nggak Ramah bagi Orang yang Buta Arah Mata Angin, Google Maps Adalah Penyelamat Mojok.co

Ketika Jogja Nggak Ramah bagi Orang Buta Arah Mata Angin, Google Maps Adalah Penyelamat

11 Mei 2024
Kawah Ijen via Banyuwangi: Jalur Red Flag yang Mengancam Pengendara

Kawah Ijen via Banyuwangi: Jalur Red Flag yang Mengancam Pengendara

8 November 2023
Situbondo, Bondowoso, dan Jember, Tetangga Banyuwangi yang Berisik Nggak Pantas Diberi Respek

Situbondo, Bondowoso, dan Jember, Tetangga Banyuwangi yang Berisik Nggak Pantas Diberi Respek

25 Desember 2025
Mempertanyakan Pembangunan Terminal Sritanjung Banyuwangi: Terminal kok Jauh dari Pusat Kota dan Ekonomi, buat Apa?

Mempertanyakan Pembangunan Terminal Sritanjung Banyuwangi: Terminal kok Jauh dari Pusat Kota dan Ekonomi, buat Apa?

9 Juni 2023
Pengalaman Pertama Naik Bus Ekonomi 14 Jam: Murah sih, tapi Banyak Huru-hara, Sopir Nggak Ramah!

Pengalaman Pertama Naik Bus Ekonomi 14 Jam: Murah sih, tapi Banyak Huru-hara, Sopir Nggak Ramah!

17 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

14 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026
Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

18 Januari 2026
Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026
8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.