Sebagai warga Lamongan yang punya bakat alami berburu tempat cangkruk dan pemandangan ciamik di sepanjang jalur Pantura, saya berani mengklaim bahwa Pantai Pengkolan adalah local pride Lamongan yang paling paripurna.
Namanya memang terdengar agak janggal bagi wisatawan luar daerah. Tapi percayalah, begitu kamu menginjakkan kaki di sana, keindahan yang ditawarkan benar-benar di luar ekspektasi.
Berbeda dengan pantai arus utama yang menjual hamparan pasir putih generik, Pantai Pengkolan punya karakteristik yang sangat unik. Pesisirnya dihiasi bentangan batu karang alami dan pecahan kerang yang estetik, dipadukan dengan rimbunnya tanaman bakau di sekitarnya. Air lautnya segar, pantainya relatif bersih, dan angin sepoi-sepoinya bikin siapa saja betah bertahan berjam-jam.
Apalagi kalau berkunjung pas sore hari. Sensasi berburu sunset di sini itu epic banget. Kalau kamu warga Lamongan atau penikmat jalanan Pantura tapi belum pernah ke sini, rugi asli!
Namun, di balik segala pesona alamnya yang tiada tara itu, Pantai Pengkolan Lamongan sejatinya adalah sebuah destinasi amat sangat potensial, tapi bernasib sial.
Pantai Pengkolan Lamongan: digeser kuasa akses jalan dan dianaktirikan pemkab
Bertahun-tahun menjadi surga tersembunyi, Pantai Pengkolan harus rela terus-menerus berada di bawah bayang-bayang destinasi wisata pesisir Lamongan lainnya yang lebih komersial.
Alasannya pun sangat logis dan pragmatis, yakni kalah tragis di sektor infrastruktur jalan. Perlu diakui bahwa wisata masa kini menuntut aksesibilitas tinggi. Bus-bus pariwisata berukuran jumbo butuh jalan aspal mulus dan lebar agar bisa melenggang kangkung tanpa hambatan.
Dan ketika pantai-pantai tetangga mulai dibolehi dan dimanjakan dengan jalanan megah, Pantai Pengkolan Lamongan justru dibiarkan merana. Hebatnya, alih-alih dikembangkan secara serius oleh pemerintah daerah, pantai ini dibiarkan bertahan hidup secara murni organik lewat inisiatif warga lokal.
Masyarakat sekitar bahu-membahu memberi napas buatan. Mereka membuka warung-warung kecil penyedia jajan ringan dan minuman sachet, menata kantong parkir yang sebenarnya cukup luas di area dalam. Yang paling juara: membebaskan HTM alias masuknya gratis tis.
Sikap swadaya warga ini tentu patut diacungi jempol. Tapi masak iya destinasi seciamik ini selamanya cuma disuruh mengandalkan warung kopi warga dan kerelaan swadaya tanpa ada campur tangan pemerintah daerah?
Potensi raksasa yang terjebak jalur seukuran sepeda motor
Secara letak geografis, Pantai Pengkolan Lamongan ini sebenarnya sangat strategis karena menempel di kawasan Pantura. Dikelilingi ekosistem pesisir yang masih asri, saya berani bertaruh tempat ini punya modal sosial dan ekonomi yang besar untuk dipoles jadi destinasi unggulan daerah.
Sayangnya, potensi raksasa itu harus membentur tembok realitas yang amat sangat menyebalkan: akses jalannya memprihatinkan.
Jalur masuk menuju pantai ini sangat terbatas dan teramat pas-pasan. Hanya cukup dan nyaman dilalui oleh kendaraan roda dua. Bagaimana kalau bawa mobil? Wah, siap-siap saja menguji ketrampilan menyetir tingkat dewa. Kamu harus berjuang ekstra keras agar roda tidak terperosok atau pusing setengah mati jika mendadak berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan.
Pantai Pengkolan Lamongan sebenarnya tidak butuh lagi promosi influencer di Instagram atau tambahan kedai makanan viral. Yang dibutuhkan pantai ini adalah kepastian masa depan dan rencana pembangunan yang nyata dari pemerintah, khususnya pelebaran dan pembenahan akses jalan.
Sejauh ini, Pemkab Lamongan seolah-olah menggantung nasib Pantai Pengkolan dalam ketidakpastian. Apakah pantai ini sengaja dibiarkan jadi “surga rahasia” khusus penunggang sepeda motor saja, mau dinaikkan kelasnya jadi kawasan wisata publik yang ramah mobil, atau memang sekadar dipelihara seadanya agar tidak terkesan benar-benar terbengkalai?
Sangat disayangkan jika potensi seindah ini harus redup dan gagal berkembang secara maksimal hanya karena masalah jalanan sempit yang tak kunjung diaspal dengan layak. Semoga saja Pantai Pengkolan segera dapat perhatian. Agar tidak sial secara terus-terusan.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kabupaten Lamongan Bernasib Suram jika Wisata Bahari Lamongan Tidak Pernah Ada
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.