Informasi
ADVERTISEMENT

Pangandaran indah, tapi aksesnya merepotkan, terlebih kalau tidak bawa kendaraan pribadi

Pangandaran indah, tapi aksesnya merepotkan, terlebih kalau dari Jakarta dan tidak bawa kendaraan pribadi Mojok.co

Pengalaman pertama saya berkunjung ke Pangandaran rasa-rasanya agak menyebalkan. Bukan karena alamnya atau warga lokalnya, tapi lebih pada transportasi umum yang tersedia. Perjalanan ini pun sebenarnya bukan murni iktikad liburan mandiri, melainkan agenda outing kantor yang wajib diikuti.

Jika bukan karena urusan pekerjaan, rasanya saya tidak akan pernah memasukkan destinasi ini ke dalam daftar perjalanan akhir pekan dari ibu kota. Persoalan utama langsung muncul saat kami mulai memikirkan moda angkutan umum. Bayangan tentang perjalanan praktis seketika buyar melihat terbatasnya akses yang ada.

Akses ke Pengandaran dari Jakarta merepotkan 

Rencana awal untuk menggunakan transportasi umum dari Jakarta ke Pangandaran ternyata jauh lebih rumit dari yang diperkirakan. Ketiadaan bus yang melayani rute Jakarta-Pangandaran secara langsung membuat kami beralih ke kereta. Namun, pilihan jadwal kereta api yang mengular ke arah Jawa Barat ini terhitung sangat sedikit dan tidak fleksibel untuk rombongan.

Mencari bus langsung sangat sulit, sementara jalur kereta api menuju lokasi memang tidak tersedia. Kami harus turun di Stasiun Banjar atau Sidareja, lalu menyambung perjalanan darat dua jam lagi. Kerumitan transit dan risiko keterlambatan inilah yang akhirnya mematahkan niat kami untuk naik kendaraan umum.

Pangandaran sebenarnya memiliki daya tarik alam yang sangat memikat, terutama bentangan garis pantainya yang memesona. Keindahan pemandangan laut dan suasana pesisirnya seolah menyimpan potensi wisata yang luar biasa besar jika dikelola dengan aksesibilitas yang matang. Sangat disayangkan bahwa pesona alam sehebat ini belum ditunjang oleh infrastruktur transportasi publik yang memadai bagi wisatawan luar daerah.

Ketimpangan antara keindahan destinasi dan keterbatasan akses publik ini menjadi catatan tersendiri sepanjang perencanaan perjalanan. Minimnya rute angkutan massal langsung membuat potensi wisata daerah ini terasa terisolasi dari jangkauan masyarakat umum yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Tanpa adanya agenda pekerjaan, kerumitan akses ini jelas menjadi pertimbangan utama untuk enggan berkunjung.

Pangandaran butuh akses yang terintegrasi

Setelah menimbang berbagai kerumitan transit dan keterbatasan pilihan moda angkutan dari Jakarta, wilayah pesisir ini sejatinya sangat mendesak membutuhkan konektivitas transportasi umum yang saling terhubung secara terpadu. Integrasi antara kereta api, bus antarkota, dan pengumpan lokal akan mempermudah mobilitas wisatawan tanpa perlu memikirkan kerumitan berganti kendaraan secara mandiri. Keberadaan sistem yang efisien pasti memangkas durasi serta biaya perjalanan secara signifikan.

Keputusan akhir rombongan kami yang akhirnya membawa mobil pribadi menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan akses publik justru memicu ketergantungan pada kendaraan privat. Jika kawasan wisata unggulan ini memiliki jaringan angkutan terpadu yang memadai, tentu lebih banyak orang tergugah untuk berkunjung dengan nyaman. Pembenahan aksesibilitas secara menyeluruh merupakan kunci utama agar potensi wisata kawasan ini berkembang maksimal.

Jadi, pengalaman pertama hendak berkunjung ke Pangandaran ini membuka mata saya tentang betapa indahnya potensi wisata lokal yang sayangnya masih terhambat oleh minimnya akses transportasi umum yang terintegrasi.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Bus Sinar Jaya rute Cileungsi ke Bandara Soetta adalah penyelamat saya dari ongkos taksi online yang nggak masuk akal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 September 2026 oleh .

Dodik Suprayogi

Penggiat pertanian yang sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti Jakarta.