5 Pamali yang Masih Dipelihara Beberapa Pemilik Warung Kelontong di Makassar

Kesaktian dan Keunikan Warung Madura di Tengah Gemerlapnya Ibu Kota

Kesaktian dan Keunikan Warung Madura di Tengah Gemerlapnya Ibu Kota (Onyengradar via Shutterstock.com)

Di tengah modernitas seperti sekarang ini, pamali masih dipertahankan dalam kebudayaan masyarakat Makassar. Pamali adalah larangan dan pantangan yang jika dilanggar dipercaya akan memberi dampak buruk bagi diri sendiri atau orang sekitar. Beberapa orang memercayai itu, namun sebagian lainnya ada juga yang abai. Terlepas dari percaya atau nggak percaya, ada beberapa pamali yang masih dipercayai masyarakat di Makassar khususnya para pemilik warung kelontong.

#1 Tidak menjual minyak tanah malam hari

Kendati bahan bakar ini sudah jarang ditemukan, namun masih ada beberapa warung kelontong yang setia menjaga eksistensinya. Selain sebagai bahan bakar, minyak tanah juga kerap dimanfaatkan sebagian orang sebagai bahan obat, sehingga masih kerap dicari.

Akan tetapi bagi sebagian orang di Makassar, menjual minyak tanah bukan sebatas relasi antara ketersediaan produk dan adanya daya beli. Lebih dari itu, ada waktu khusus yang dipercayai sebagian pemilik warung kelontong di Makassar untuk nggak menjual minyak tanah, yakni pada malam hari.

Alasannya beragam, mulai dari minyak tanah identik dengan api, identik dengan terbakar, atau ada yang semata meyakini tanpa tahu alasan lebih jauh. Intinya agar mereka nggak terkena sial.

Jadi, kalau kalian ke Makassar dan pengin beli minyak tanah, jangan kesal atau merasa pemilik warung kelontong sombong lantaran nggak menjual minyak tanah di malam hari meski stoknya ada. Sebab, para pemilik warung ini punya kepercayaan lebih dari sebatas nilai yang tertera pada nilai mata uang.

#2 Tidak menjual garam malam hari

Garam merupakan salah satu bumbu penyedap paling sering digunakan di dalam masakan. Wajar jika keberadaan penting. Karena alasan itulah membuat banyak pemilik warung kelontong menyetok garam karena barang ini termasuk barang lancar terjual dan nggak mudah rusak. Kendati demikian, sebagai pembeli kalian harus memperhatikan waktu saat ingin membeli, sebab beberapa warung kelontong di Makassar nggak akan menjual garam saat malam hari.

Baca halaman selanjutnya

Menurut beberapa pemilik warung kelontong yang saya temui…
Menurut beberapa pemilik warung kelontong yang saya temui, sebenarnya nggak ada alasan filosofis yang mereka ungkapkan. Para pemilik warung hanya menyakini informasi ini secara temurun, jika menjual garam pada malam hari akan membawa sial sehingga bisa berdampak buruk bagi kondisi jualan di warung.

#3 Tidak menjual jarum malam hari

Jarum merupakan benda tajam dan runcing, hal itu membuat beberapa pemilik warung kelontong di Makassar nggak berani menjual benda ini di malam hari. Mereka meyakini, menjual jarum di malam hari itu pamali. Bisa bikin warung bangkrut.

Bagi para pemilik warung, menolak pembeli nggak akan memberikan kerugian besar. Sebaliknya, jika mereka melanggar pamali akan berpotensi memberi dampak buruk bagi warung yang mereka kelola. Sederhananya, lebih baik cari aman.

#4 Tidak menjual silet malam hari

Sama halnya dengan jarum, silet merupakan benda tajam, sehingga beberapa pemilik warung kelontong di Makassar memilih untuk nggak menjual barang itu saat malam hari. Jadi kalian butuh silet atau pisau cutter saat malam hari, sebaiknya nggak usah cari di warung kelontong, ya. Beli saja ke Indomaret atau Alfamart terdekat di Makassar. Konsep pamali ini tentu nggak ada di kamus mereka.

#5 Tidak menjual lilin malam hari

Lilin biasanya digunakan saat lampu padam di malam hari, sehingga umumnya pembeli yang nggak memiliki stok di rumah akan mencari lilin di warung kelontong. Sayangnya, beberapa warung kelontong di Makassar nggak akan menjual barang ini saat malam hari. Sebab, lagi-lagi para pemilik warung percaya hal itu akan membawa bencana bagi warung kelontong mereka.

Itulah beberapa pamali yang masih dipercayai oleh pemilik warung kelontong di Makassar. Jika ditilik secara filosofis, ada kemungkinan beberapa pamali ini merupakan salah satu strategi kebudayan yang sengaja diciptakan nenek moyang kita untuk menjauhi atau mendekatkan diri pada hal-hal tertentu. Orientasinya bisa posifif atau sebaliknya. Entahlah.

Penulis: Munawir Mandjo
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Alasan Orang Suka Males Berbelanja di Warung Kelontong Milik Tetangga.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version