Bagi orang luar kota yang jarang piknik ke ujung barat daya Jawa Timur, mengenal orang Pacitan itu layaknya seperti berkenalan dengan karakter di film-film mistis. Semasa kuliah dan bekerja di Solo saja misalnya, saya menyebut asal tinggal daerah saya, respons yang muncul sering kali seragam. Kalau tidak ditanya soal pak SBY, ya ditanya soal dukun kondang, ilmu santet, atau black magic. Why?
Entah dari mana asalnya stigma itu berkembang. Mungkin karena bentang alam daerah kami dipenuhi ribuan goa gelap seperti Goa Kalak yang kerap jadi tempat tirakat dan semedi. Atau mungkin kisah misteri Kampung Pitu di Desa Temon, Arjosari yang melarang lebih dari tujuh kepala keluarga tinggal di sana. Orang luar mengira kami bertahan hidup dengan cara mengirim guna-guna ke tetangga kabupaten sebelah. Tapi nyatanya tidak seperti itu.
Sekali lagi, mohon maaf, tuduhan itu sungguh ketinggalan jauh dari info A1. Hari gini di Pacitan sudah tidak ada yang sempat memikirkan bagaimana caranya menyantet orang. Daripada memelihara tuyul yang belum tentu lolos verifikasi data kesejahteraan sosial, anak-anak muda kreatif di Pacitan memilih melakukan hal yang jauh lebih strategis dan menghasilkan cuan: melakukan industrialisasi terhadap wahana horor itu sendiri.
Sejarah di bibir Pantai Pancer Door Pacitan
Gerakan “ekonomi horor” yang saya maksud ini tidak lahir dari gelas kosong. Sejarah mencatat bahwa pada 12 Desember 2025 lalu, sebuah tonggak baru perfilman nasional resmi ditancapkan di atas pasir Pantai Pancer Door, Pacitan. Digagas oleh maestro sinema Indonesia, Garin Nugroho, bersama Forum Komunitas JAFF dan Komunitas Ruang Film Pacitan: lahirlah Festival Film Horor (FFH) pertama di Indonesia.
Pada edisi perdananya tahun lalu, festival ini langsung menghentak dengan menjaring ratusan film horor dari berbagai penjuru nusantara. Utamanya sineas lokal Pacitan. Sesuatu yang awalnya dipandang remeh dan sebelah mata, kini berlanjut ke edisi kedua tahun ini dengan mengangkat tema “Indigo”. Acara puncak Festival Film Horor 2026 sendiri dipastikan akan digelar secara masif pada 14 hingga 17 Oktober 2026 mendatang. Ayo dong main ke Pacitan!
Digembleng profesional, no klenik musiman
Industrialisasi horor di Pacitan ini tidak berjalan secara amatiran atau sekadar bermodal nekat asal jalan. Ekosistem kreativitas ini dibangun lewat jalur akademik yang cukup serius. Sebagai buktinya, pada awal September 2026 ini saja, para sineas muda, pelajar, dan komunitas film lokal di Pacitan berkumpul di kawasan Song Meri untuk mengikuti pelatihan intensif dari para pakar.
Tidak tanggung-tanggung, mereka digembleng langsung oleh para praktisi andal dari Jogja Film Academy (JFA). Melalui workshop penyutradaraan, penulisan skenario, hingga manajemen produksi ini, mitos-mitos lokal yang awalnya hanya menjadi konsumsi obrolan pos kamling dirombak total menjadi produk industri kreatif yang memiliki standardisasi tinggi.
Anak muda Pacitan diajari caranya mengukur pencahayaan di dalam goa yang gelap, menangkap audio kesunyian malam yang mencekam. Hingga mengarahkan aktor agar bisa memancarkan aura ketakutan yang menekan psikologis tanpa perlu berteriak histeris. Ini adalah bukti nyata bahwa bagi kami, horor adalah ilmu pengetahuan yang bisa diriset, diproduksi, dan diuangkan secara halal. Bukan bersekutu lho ya.
Dari mitos dukun ke horor purbakala di Dusun Weru Pacitan
Jika orang luar mengira horor di Pacitan cuma selevel hantu pocong jadi-jadian atau gundul pringis, mereka jelas belum main ke Museum Song Terus di Dusun Weru, Desa Wareng. Tidak hanya sekadar menampilkan aura mistis kuno yang kumuh, museum prasejarah modern ini justru tampil megah dan estetik. Namun, di balik dinding futuristiknya, tempat ini menyimpan “teror” yang jauh lebih tua dari nenek moyang kita. Yaitu, jejak hunian purba hingga fosil berusia ratusan ribu tahun.
Bagi industri film, situs prasejarah di Dusun Weru ini adalah modal komoditas dan tambang emas untuk sub-genre folk-horror (horor atas tradisi/kisah mitos kuno). Bayangkan jika sineas Pacitan memanfaatkan amfiteater terbuka di Weru ini sebagai panggung pemutaran film horor malam hari. Menonton film tentang misteri masa lalu, dikelilingi oleh ribuan fosil asli, dan tepat berseberangan dengan mulut gua hunian purba yang asli, akan memberikan sensasi horor psikologis yang tidak bisa ditiru oleh bioskop megah mana pun di kota sekaliber Jakarta.
Rahasia di balik nama “Piala Mbah Sayem”
Keterkaitan emosional antara sejarah purba dan industri horor modern ini dipakemkan dengan sangat cerdas oleh komite festival. Banyak penonton luar kota yang merinding saat melihat piala utama yang diperebutkan di ajang Festival Film Horor Pacitan, ya namanya “Piala Mbah Sayem”. Mereka mengira itu adalah nama hantu lokal atau dukun legendaris yang gemar mengutuk dan mencari tumbal orang.
Padahal, plot twist-nya jauh lebih ilmiah. Nama Mbah Sayem aslinya diambil dari julukan warga dan arkeolog untuk kerangka manusia purba ras Australomelanesoid berusia 10.000 tahun yang ditemukan di Goa Song Terus pada 1999. Kerangka purba utuh yang terkubur dalam posisi kaki terlipat inilah yang bertransformasi menjadi simbol supremasi film horor di Indonesia. Sesuatu yang dianggap klenik oleh orang awam, justru menjadi representasi penghargaan seni berbasis sains dan sejarah yang patut diperebutkan.
Ironi “kota horor” tanpa bioskop komersial
Di balik glorifikasi industrialisasi horor dan jaringan internasional ini, tersempil sebuah ironi tingkat tinggi yang sangat layak ditertawakan bersama. Pacitan boleh saja punya Festival Film Horor berskala nasional, punya bioskop imersif modern seperti di Museum Song Terus. Bahkan punya sineas yang digembleng langsung oleh Jogja Film Academy. Tetapi, faktanya, kabupaten ini sama sekali tidak memiliki bioskop komersial arus utama seperti XXI atau CGV.
Ini adalah horor kehidupan nyata bagi para pencinta sinema lokal seperti saya. Jika kami ingin menonton film box office terbaru di hari rilisnya, kami harus melakukan ritual touring spiritual terlebih dahulu. Kami harus menembus jalanan meliuk-liuk nan gelap gulita membelah bukit selama berjam-jam menuju Solo, Jogjakarta, atau Ponorogo hanya demi membeli selembar tiket bioskop mall.
Jadi, bayangkan betapa ajaibnya daerah ini. Kami belum punya bioskop modern, tapi kami sudah mahir mengekspor film horor buatan kami sendiri ke luar negeri.
Ketakutan lokal yang menembus New York
Hasil dari komodifikasi horor ini pun tidak main-main. Industri horor lokal bentukan arek-arek Pacitan terbukti memiliki bahasa yang universal dan punya daya jual internasional yang wahid. Beberapa film pendek independen yang lahir dari ekosistem ini sukses diekspor dan diputar di Psychic Reader Film Festival di Brooklyn, New York, Amerika Serikat.
Bayangkan saja, hantu lokal yang terinspirasi dari atmosfer tanah Pacitan, kini sukses membuat penonton di belahan bumi utara sana merinding di dalam gedung bioskop modern. Ini adalah bentuk place branding dan ekspor budaya paling tak terduga yang pernah ada dari sebuah kabupaten di ujung Jawa Timur.
Jadi, mulailah berhenti melabeli Pacitan sebagai kota black magic. Kami sudah jauh melampaui fase kuno semacam itu. Di bawah asuhan para sineas muda dan dukungan ekosistem sejarah di Dusun Weru, hantu-hantu lokal di Pacitan kini sudah tidak punya waktu untuk gentayangan di malam mencekam. Mereka sudah punya kesibukan baru. Dikontrak menjadi aktor, membantu memutar roda ekonomi kreatif, dan menyelamatkan anak muda Pacitan dari horor yang sesungguhnya di dunia nyata: UMK daerah yang pas-pasan.
Penulis: Purwoko Ajie
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Pacitan: Daerah yang Tak Terjamah Pemerintah, padahal Punya Banyak Cerita Sejarah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
