Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Pesan dari orang tua untuk sesama orang tua, stop paksa anak yang baru masuk SD jadi juara kelas

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
24 Juli 2026
A A
Pesan untuk orang tua ambis yang khawatir anaknya nggak juara kelas Mojok.co

Pesan untuk orang tua ambis yang khawatir anaknya nggak juara kelas (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari lalu, saya membaca keresahan orang tua di Threads. Kepada netizen, si ibu bertanya bagaimana cara untuk legowo. Sebab, anaknya yang baru saja masuk kelas 1 SD dinilai menunjukkan tanda-tanda tidak bakal jadi juara kelas. 

Saya tidak tahu “tanda-tanda tidak bakal jadi juara kelas” yang disebutkan oleh si ibu. Saat silaturahmi ke akun pembuat utas, ternyata jejaknya sudah lenyap. 

Tebakan saya, mungkin di hari pertamanya, anak si ibu tampak pasif dan pemalu. Sehingga, lahirlah kecemasan bahwa si anak akan tertinggal dibanding teman sebayanya. 

Saya juga orang tua. Sebagai sesama orang tua, saya tahu perasaan khawatir akan masa depan anak pastilah ada. Sungguh, saya paham akan hal itu. Yang tidak saya pahami adalah, kenapa anak tidak bakal jadi juara kelas itu dianggap sebagai suatu hal yang sangat penting.

Orang tua jangan terlalu dini menilai anak

Saya jadi ingat. Saat anak kedua saya masuk kelas 1 SD, kemampuan membaca dan menulisnya sama sekali belum lancar. Jujur, sempat ada rasa khawatir dia tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, lalu dia trauma sekolah, dan jadi tidak bahagia. 

Saat itu, mana sempat saya berpikir soal juara kelas. Fokusnya cuma bagaimana caranya biar anak anak bisa bahagia dan nyaman di sekolah.

Setelah merenungkannya lagi, anak yang masuk kelas 1 SD itu sebenarnya stres lho. Masuk kelas 1 SD jadi salah satu transisi paling ekstrem dalam hidup seorang anak. Dari lingkungan TK yang sarat dengan bermain, mereka tiba-tiba dilempar ke ruang kelas yang menuntut kedisiplinan. Mereka harus duduk berjam-jam belajar membaca, menulis, dan berhitung.

Dengan situasi yang tidak mudah di awal-awal masuk sekolah itu, masa iya harus diperberat dengan ekspektasi orang tua? Langsung dicap tidak pintar oleh orang tuanya sendiri pula. Duh, terlalu dini,kasihan mereka.

Baca Juga:

Orang tua masa kini lebih percaya sekolah swasta daripada sekolah negeri

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

Menuntut itu melelahkan

Saya tahu punya anak yang jadi juara kelas itu membanggakan. Saya pun mengalaminya. Betapa bangga saya ketika anak pertama saya tidak hanya bisa juara di kelasnya, tapi juga masuk ke peringkat paralel di sekolahnya. 

Lantas, apakah itu berarti saya tidak bangga pada anak kedua yang tidak juara kelas? Ya, nggak. Saya tetap bangga ke dia. Bangga karena anak kedua saya, meski tidak juara kelas, tapi dia sangat santun. Tiap anak punya kemahiran atau kepintaran masing-masing. 

Harus diakui, kita sering kali terjebak dalam ilusi bahwa sukses di sekolah itu selalu soal capaian akademik. Itu sebabnya, banyak orang tua memaksakan standar akademik yang ketat pada anak, meski si anak belum matang usianya. 

Padahal, itu sama saja dengan menyiksa batin anak secara perlahan. Kita lelah karena terus menuntut kesempurnaan, dan anak-anak kita jauh lebih lelah karena merasa tidak pernah cukup di mata orang tuanya sendiri.

Bahaya label dini dari orang tua

Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira ibu-ibu si pembuat utas tadi sadar nggak ya kalau kekhawatiran dia yang berlebihan itu bisa jadi bumerang? Masalahnya gini, ketika orang tua, apalagi ibu merasa khawatir, perasaan itu sebenarnya nyetrum ke anak lho. 

Fenomena ini namanya emotional contagion atau penularan emosi. Si anak jadi menyerap ketakutan, ketegangan, dan rasa tidak aman yang dirasakan oleh figur utamanya di rumah. 

Dalam sebuah studi yang mengeksplorasi hubungan antara ekspektasi orang tua dan kesehatan mental anak, terungkap bahwa tekanan akademik dini yang tidak dikelola dengan bijak justru memicu internalizing problems seperti kecemasan berlebih, hilangnya rasa percaya diri, hingga penurunan motivasi belajar secara drastis.

Sederhananya, ketika orang tua terus-menerus memandang anaknya dengan tatapan cemas atau kekecewaan terselubung karena dianggap tidak pintar, anak bukannya termotivasi untuk mengejar ketertinggalan, tapi yang mereka tangkap justru pesan bawah sadar bahwa diri mereka cacat dan mengecewakan. 

Sengeri itu dampaknya, Bund. Yakin masih mau dilanjutkan melabeli anak?

Sebuah refleksi

Orang tua yang belum apa-apa sudah mencemaskan anaknya tidak bisa juara kelas, seharusnya belajar dari kisah orang-orang sukses yang pernah gagal di masa sekolahnya. 

Thomas Alva Edison kecil pernah dikeluarkan dari sekolah karena gurunya menganggap otak Thomas kacau dan tidak bisa menyerap pelajaran. Albert Einstein pun dicap sebagai anak yang lambat, pemimpi, dan tidak akan sukses di bidang apa pun. Tapi, sejarah telah membuktikan bahwa penilaian akademik di masa anak-anak, bukanlah penentu segalanya.

Pada akhirnya, segala macam kekhawatiran orang tua terhadap anak sebetulnya adalah PR utama orang tua. Yaitu, bagaimana orang tua bisa memisahkan antara ambisi pribadi dengan kenyataan biologis atau psikologis anak. 

Sebab, jika ditelisik lebih jujur, jangan-jangan yang selama ini sebenarnya orang tua takutkan bukanlah masa depan si anak, melainkan ketakutan akan runtuhnya gengsi sosial di hadapan orang lain. 

Hayo, lho…

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2026 oleh

Tags: ambisambisiusjuara kelasOrang Tuaranking
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Dear, Orang Tua_ Please Banget, Jangan Bonceng Anak Naik Motor dengan Posisi Berdiri. Bahaya! terminal mojok

Dear, Orang Tua: Please Banget, Jangan Bonceng Anak Naik Motor dengan Posisi Berdiri, Bahaya!

13 September 2021
Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Adalah Komentar Paling Jahat dan Tidak Perlu Mojok.co

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

26 April 2026
tuyul orang tua bungkuk hantu mojok

Penjelasan tentang Mitos Orang yang Jalannya Bungkuk Tandanya Memelihara Tuyul

15 Juli 2020
6 Pengalaman Saya Jadi Anak Karyawan Indofood Selama 26 Tahun Terminal Mojok.co

6 Pengalaman Saya 26 Tahun Jadi Anak Karyawan Indofood

25 Februari 2022
segera menikah punya kakak mau nikah itu mengesalkan mojok.co

Dilema Karena Diminta Segera Menikah Sekaligus Dibuat Ragu Oleh Ibu

29 Juni 2019
Misteri Orang Tua BoBoiBoy: Kenapa Mereka Tak Pernah Muncul? Apakah Ada Rahasia Besar di Balik Hal Itu?

Misteri Orang Tua BoBoiBoy: Kenapa Mereka Tak Pernah Muncul? Apakah Ada Rahasia Besar di Balik Hal Itu?

30 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seminggu buka jastip sudah cukup membuat saya paham kenapa jastiper sering pasang fee mahal

Seminggu buka jastip sudah cukup membuat saya paham kenapa jastiper sering pasang fee mahal

18 Juli 2026
Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang  Mojok.co

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

19 Juli 2026
MK batalin sistem jahat dan korup bernama kuota internet hangus (Unsplash)

Skema jahat dan korup bernama “kuota internet hangus” resmi dibatalin sama MK, 235 triliun uang rakyat dicuri lewat skema ini

24 Juli 2026
Dosa pengusaha kuliner, pakai foto hasil AI untuk jualan hingga pembeli merasa tertipu Mojok.co

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

20 Juli 2026
Kompensasi delay pesawat payah, saya pernah menunggu lebih dari 2 jam cuma dapat air mineral Terminal

Kompensasi delay pesawat payah, saya pernah menunggu lebih dari 2 jam cuma dapat air mineral

23 Juli 2026
Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.