Membicarakan Salatiga tidak akan pernah ada habisnya. Selain keindahannya, Salatiga akhir-akhir ini banyak dibahas sebagai salah satu destinasi slow living favorit orang-orang kota.
Jujur, sebagai warga lokal alias warlok, saya dan banyak teman sering kali bertanya-tanya, kenapa orang-orang kota ini pengin sekali tinggal di Salatiga. Kalau tergiur pindah ke Kota Toleransi ini hanya karena potongan video di medsos, saya rasa, sebaiknya kalian pikir ulang untuk pindah ke sini.
Menurut saya, sebagai warlok, potongan video yang tersebar di medsos itu overrated. Memang sih, kota ini cukup menyenangkan, tapi sebatas tempat singgah aja. Kota ini nggak pernah cocok untuk dijadikan tempat menetap entah untuk slow living maupun tujuan lain.
Hidup di Salatiga kini sudah mahal
Sejujurnya, hidup di Salatiga itu nggak murah-murah amat, apalagi kalau dibandingkan dengan UMK-nya. Itulah yang dirasakan warlok seperti saya.
UMK Salatiga tercatat sekitar Rp2,6 juta per bulan. Ironisnya, mengutip data Susenas BPS yang dirilis Databoks, rata-rata pengeluaran per kapita di Salatiga mencapai Rp2,4 juta per bulan. Catatan ini naik 0,54 persen dibanding 2024 dan resmi menduduki peringkat ke-2 pengeluaran perkapita tertinggi di Jawa Tengah.
Anatomi pengeluarannya pun makin bikin geleng-geleng kepala. Pos makanan, mencapai sekitar Rp895 ribu (36,73 persen), sementara pos bukan makanan membengkak sekitar Rp1,5 juta (63,27 persen). Artinya, biaya hidup nonpangan di sini memang sudah mencekik banget.
Tentu mereka yang memilih gaya hidup slow living di sisa hidupnya pasti sudah punya segudang tabungan. Namun, kalau jadi mereka, mungkin saya akan memilih daerah lain di Jawa Tengah yang biaya hidupnya lebih terjangkau dengan karakteristik daerah yang mirip.
Sebab, selain soal biaya hidup yang tidak bisa dibilang murah, ada alasan lain yang membuat kalian sebaiknya berpikir dua kali sebelum pindah ke Salatiga.
Minim fasilitas transportasi publik
Kalian yang ingin slow living di Salatiga mesti siap bawa kendaraan sendiri, kalau tidak, hidup bakal lebih berkali-kali lebih repot. Asal tahu saja, tidak ada transportasi umum terintegrasi di Salatiga. Jangan bayangkan ada Transjakarta dan KRL, di Salatiga cuma ada ojek online dan angkot yang kian terbatas.
Ngomong-ngomong soal angkot, angkot di kota ini pun makin merangsek menuju kepunahan. Berdasarkan data Dinas Perhubungan yang dirilis oleh BPS Salatiga, jumlah angkutan dalam kota di Salatiga tercatat sebanyak 421 unit pada 2020.
Sementara itu, Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mencatat 406 unit armada angkutan perkotaan pada 2025. Walaupun selisihnya nggak drastis, tapi tetap aja jumlahnya mengalami penurunan.
Realitas di lapangan pun bahkan jauh lebih memprihatinkan. Mayoritas angkutan umum mangkrak. Bahkan, sekarang jumlahnya bisa dihitung jari. Saya rasa jauh dari jumlah 400-an. Pelayanannya pun makin nggak jelas dengan waktu tunggu yang nggak pasti dan rutenya yang gagal menjangkau kawasan permukiman baru.
Untuk sekadar mampir di akhir pekan, keterbatasan angkot ini mungkin tak jadi masalah. Namun, kalau kalian mau menetap di Salatiga, ini tentu akan jadi beban.
Harga properti naik ugal-ugalan
Sampai tulisan ini ditulis, saya belum menemukan data resmi pemerintah yang secara khusus menyajikan rata-rata harga rumah dan tanah di Salatiga. Jadi, angka yang saya pakai murni harga listing dari sejumlah portal properti sebagai gambaran kasar penawaran pasar saat ini. Dan, saya kaget sendiri dengan hasilnya.
Soal hunian, menurut portal properti 99.co, pada 2026 harga rumah baru di Puri Wahid Regency atau Graha Arimbi ditawarkan mulai Rp550 jutaan. Sementara Gardenia, ada di kisaran Rp400 juta. Kalau mengincar kawasan eksklusif seperti Taman Mutiara, harga penawaran iklannya bahkan ada yang menembus Rp2 miliaran.
Pasar rumah bekas pun nggak kalah tinggi. Pada marketplace properti, Pinhome, harga penawaran rumah seken di wilayah Tingkir berkisar antara Rp470 juta hingga Rp550 jutaan. Secara umum, iklan rumah seken di Salatiga dipasang mulai Rp215 juta sampai lebih dari Rp1 miliar.
Emang sih, ada penawaran rumah murah di kisaran Rp250 juta. Tapi statusnya rata-rata rumah subsidi dengan lokasi dan spesifikasi yang sangat terbatas.
Bahkan, untuk urusan sewa pun nggak jauh berbeda. Kawan saya aja sampai geleng-geleng kepala saat saudaranya dari Semarang pindah ke Salatiga. Sekadar ngontrak rumah kecil di Argomulyo yang masuk gang sempit aja biaya sewa per tahunnya udah tembus Rp27 juta.
Selanjutnya, mari beranjak ke harga tanah. Melihat dari platform Brighton, harga penawaran tanah di kawasan strategis Jalan Diponegoro berada di kisaran Rp6 juta hingga Rp9,8 juta/m. Iklan tanah di lokasi lain seperti Grogol ditawarkan sekitar Rp3,5 juta/m. Rata-rata harga listing tanah di Salatiga pun berada di angka Rp2,5 juta hingga Rp2,7 juta/m.
Sekali lagi, orang-orang yang berencana slow living mungkin sudah punya segudang tabungan. Namun, sekali lagi, kalau saya jadi mereka, dengan harga properti seperti ini, mending mempertimbangkan daerah lain.
Salatiga makin padat penduduk dan jalanan makin sesak
Saya rasa, klaim bahwa Salatiga menawarkan suasana tenang kini sah jadi mitos usang. Luas wilayah kota ini hanya sekitar 56,67 km. Namun, data BPS Salatiga 2025 menunjukkan jumlah penduduknya sudah menembus 199.906 jiwa. Artinya, tingkat kepadatannya melonjak tinggi mencapai 3.528 jiwa/km.
Nggak berhenti disitu. Akibat dari minimnya fasilitas transportasi umum, warga akhirnya bergantung total pada kendaraan pribadi. BPS Jawa Tengah pun mencatat jumlah kendaraan di Salatiga meroket jadi 175.352 unit pada 2025. Didominasi 142.725 sepeda motor dan 25.291 mobil pribadi.
Bayangkan, ratusan ribu kendaraan dijejalkan ke jalanan sempit Salatiga. Maka tak heran kalau sekarang kemacetan parah jadi pemandangan harian di Jalan Jendral Sudirman, kawasan Pasar Raya, hingga koridor Sidomukti dan Tingkir. Janji “slow living” pun buyar. Berganti stres akibat macet dan polusi harian.
Jadi, ketenangan seperti apa lagi yang mau kalian cari dari kota sempit yang ruangnya makin sumpek dan jalanannya makin sesak ini?
Melihat realitas ini, itu mengapa saya bingung dengan orang yang punya niat pindah dan menetap di Salatiga? Sekali lagi, kalau alasannya cuma karena kota ini terasa nyaman, saya rasa itu alasan yang sangat dangkal.
Sudahlah, jangan tertipu oleh romantisasi keindahan sudut kota ini di media sosial. Hidup di sini nggak senyaman bayanganmu. Gaya hidup bersahaja pun sebenarnya cuma cara halus warga lokal menutupi keprihatinan. Kami hidup sederhana bukan karena mau, melainkan karena memang cuma itu yang kami mampu.
Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Blora bisa lebih unggul dari Bojonegoro kalau Pemkab lebih becus membenahi hal-hal ini.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
