Katanya, punya rumah di desa dengan halaman luas itu enak. Banyak yang menyimpan mimpi ini. Pokoknya, besok, kalau punya rumah, ada halamannya yang luas.
Katanya, sih, biar bisa melihat anak-anak main sambil ngopi-ngopi santai bareng istri depan teras. Ala-ala drama sinetron. Kata orang juga, rumah di desa dengan halaman luas itu bagus. Bakal kelihatan lebih megah dan luas aja.
Tapi, bagi saya yang punya rumah di desa dengan halaman luas ternyata nggak enak. Apalagi rumah saya nggak ada pagarnya. Jadi, semua orang bisa bebas keluar dan halaman. Nah, kondisi ini yang membuat saya benci sendiri sama halaman rumah saya yang luas.
Warga menjadikan halaman rumah saya sebagai tempat parkir
Tetangga rumah di desa itu ada tujuh keluarga. Dan kebetulan, dari tujuh keluarga itu, hanya rumah saya yang punya halaman depan relatif lebih luas. Bahkan lima rumah nggak punya halaman sama sekali. Sebenarnya ada, tapi cuma setengah meter.
Oleh sebab itu, kalau ada acara rutin seperti yasinan, tahlil, kumpul ibu-ibu arisan, dan sebagainya semua nitip parkir di halaman rumah saya. Kata mereka, parkir di rumah saya itu enak. Rindang dan tempatnya luas, katanya. Rumah di desa, jadi harus mau kelimpahan seperti itu.
Sebetulnya, saya nggak bermasalah kalau halaman rumah di desa ini jadi tempat parkir. Saya justru senang karena bisa membantu. Apalagi hidup di desa, di mana kita harus aware dengan kebutuhan sesama,
Namun, yang lama-lama bikin saya resah adalah cara mereka parkir. Ada yang sembarangan parkir di tengah jalan. Ada juga yang menaruh motor mepet banget sama pintu masuk. Kadang, kami yang punya rumah malah nggak mendapat akses untuk keluar dan masuk.
Makanya, saya dan keluarga jadi cukup sering jadi “tukang parkir dadakan”. Kalau mau pergi, harus meminggirkan motor dulu. Semakin resah ketika mereka mengunci stang. Jadi butuh tenaga ekstra untuk meminggirkan motor. Kami sudah mengingatkan, tapi selalu terjadi. Pusing.
Halaman rumah di desa menjadi lapangan sepak bola dadakan
Anak-anak di desa saya sangat suka main bola. Khususnya anak laki-laki. Tentu ini kegiatan baik, menyehatkan badan, ketimbang menghabiskan banyak waktu di kamar sambil main hape seharian.
Sayangnya, lagi dan lagi, rumah di desa dengan halaman rumah, jadi sasaran. Yaitu, ya rumah saya.
Jadi, di desa saya, belum ada fasilitas lapangan yang cukup luas untuk anak-anak bermain. Kalau anak-anak mau bermain di lapangan luas, lokasinya cukup jauh dari desa. Makanya, mereka mencari tempat yang dekat. Jadi, saya memahami dan mengizinkan anak-anak ini bermain di halaman rumah saya.
Nah, punya rumah di desa dengan halaman luas itu bisa serba salah. Saya suka melihat anak-anak ini aktif bermain di luar. Namun, kadang, ya namanya anak-anak, belum bisa mengontrol diri.
Kadang, mereka bermain bola seperti di stadion. Halaman rumah saya di desa ini memang luas, tapi ya nggak seluas itu kalau buat main bola ramai-ramai. Mereka jadi lupa diri dan nggak mengontrol seberapa kuat menendang bola. Sangat sering jendela rumah saya jadi sasaran. Untung saja jendela rumah saya masih bisa bertahan.
Nggak tahu waktu
Bermain memang menyenangkan. Namun, yang jadi masalah adalah ketika nggak tahu waktu. Apalagi “menghadapi” anak-anak. Rumah di desa ini jadi sumber rasa serba salah.
Jadi, ada kalanya saya pulang kerja dengan kondisi badan sangat lelah. Saya hanya ingin segera istirahat. Namun, halaman rumah saya di desa ini sedang begitu ramai oleh “pertandingan sepak bola”.
Saat itu waktu sudah sangat sore, mungkin sudah hampir Magrib. Namun, anak-anak itu nggak peduli dan terus bermain. Beberapa warga yang lewat sudah memperingatkan mereka untuk pulang. Namun, ya anak-anak ini nggak mau tahu. Kalau belum benar-benar gelap, mereka belum berhanti.
Sebagai yang punya rumah, saya jadi serba salah. Kalau menegur, akan ada yang mengira saya nggak ngasih izin. Kalau tidak menegur, nanti anak-anak ini nggak sadar bahwa mereka merugikan orang lain.
Rumah di desa nggak selamanya memberi ketenangan
Kondisi ini memang tricky. Ada yang bilang, pasti enak punya rumah di desa. Namun, kadang, malah sebaliknya. Malah nggak tenang.
Jujur, saya itu orangnya gampang risih. Apalagi kalau ada “gangguan” yang terlalu mengganggu ketenangan. Entah itu sesuatu yang nggak rapi, kotor, atau berisik.
Dulu, saya sudah ingin memasang pagar. Namun, setelah diskusi dengan orang tua, katanya jangan. Katanya lebih enak tanpa pagar. Yah, beginilah jadinya. Maka, kalau ada yang bilang punya rumah di desa sudah pasti enak, saya yakin ketenangan hidupnya belum pernah terusik.
Penulis: Salsa Bela
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
