Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Niat Memulai Zero Waste untuk Peduli Lingkungan, Malah Didoakan Susah Dapat Jodoh

Riris Aditia N oleh Riris Aditia N
24 Juni 2020
A A
zero waste mojok.co

zero waste mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Kalian pernah mendengar istilah zero waste? Itu lho, sebuah gerakan peduli lingkungan yang berfokus pada pengurangan sampah. Namanya saja zero waste (nol sampah). Jadi, kita dibiasakan agar tidak terus-terusan menghasilkan sampah yang berpotensi terbuang sia-sia.

Saya tau kalian akan berkata “memangnya bisa? Mana ada manusia di jaman sekarang yang tidak menghasilkan sampah sama sekali??”

Awalnya saya juga ragu. Tapi ternyata ada orang macam it. Mereka sama-sama hidup di muka bumi, makan, mandi, main, njajan, ngupil, tapi mereka nggak menghasilkan sampah sama sekali. Bahkan, akhir-akhir ini gerakan zero waste mulai menjadi tren dan gaya hidup masyarakat urban.

Semua dimulai dari penasaran. Seperti manusia pada umumnya, awalnya saya ikut-ikutan mencibir, eh lama-lama jadi naksir. Sebagai langkah awal, saya PDKT dulu tuh dengan cara mengikuti akun-akun zero waste di instagram, diantaranya: @zerowaste.id_official, @zerowasteadventure, @sustanation, @dk.wardhani, dll.

Dari postingan mereka itulah saya baru sadar bahwa selama ini kita dibodohi perintah “Buanglah sampah pada tempatnya”. Ternyata, sekadar buang sampah pada tempatnya itu nggak cukup. Kita pasti mikir, halah yang penting rumah kita bersih dan bebas dari sampah. Tapi, yang luput dari perhatian adalah: kita tidak pernah tahu kemana sampah-sampah kita berakhir?

Dari tempat sampah depan rumah, diangkut menuju TPS, lalu dibawa ke TPA. Di situlah sampah seluruh warga kota ditimbun bertahun-tahun hingga membentuk gunung-gemunung. Menurut data Dinas Lingkungan Hidup, volume sampah di Jakarta saja mencapai 7500 ton per hari. Itu sudah kayak membangun candi Borobudur setiap hari cuy!

Ibaratnya, rumah kita kebanjiran akibat keran air jebol. Kalau kita cuma bersihin air yang menggenang tanpa menutup keran airnya ya nggak bakal surut tuh banjir. Sama kayak masalah sampah. Kalau kita terus-terusan menghasilkan sampah (meskipun sampah tersebut sudah kita buang pada tempatnya) ya tetap aja jadi masalah di TPA.

Inilah pentingnya memulai gaya hidup zero waste. Hindari penggunaan barang sekali pakai dan mulai biasakan daur ulang sampah. Kalau bisa, penuhi segala kebutuhan dengan membuatnya sendiri agar tidak membawa pulang sampah. Mulai dari bikin sabun mandi sendiri, minyak goreng sendiri, dll. Langkah yang ketiga ini memang paling susah sih. Baru aktivis zero waste tingkat sufi yang sudah berhasil melakoninya.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Sebaiknya, kita fokus dan istiqomah pada upaya zero waste paling dasar, yaitu hindari penggunaan barang sekali pakai. Kalian pasti sudah familiar dengan gerakan untuk membawa botol minum, wadah makan, tas belanja, hingga sedotan ramah lingkungan yang bisa digunakan berulang-ulang. Nah, itu adalah salah satu bentuk zero waste paling dasar.

Tidak perlu bingung beli tumbler atau sedotan stainless yang harganya fantastis. Gunakan yang ada saja. Karena kunci zero waste adalah bijak dalam mengatur konsumsi sehari-hari.

Mungkin, hal yang lebih penting untuk kalian siapkan adalah mental. Ini nggak main-main,serius. Pertama kali bawa tas belanja sendiri dan menolak tas kresek dari mbak-mbak kasir Alfamart itu rasanya kayak uji nyali.

Kedengarannya lebay, tapi coba bayangkan: Kalian ngantri di kasir, lalu harus menolak tas kresek yang harganya cuma 200 perak demi memulai zero waste. Kemudian, kalian malu-malu mengeluarkan tas belanja sendiri, sementara ibu-ibu yang ngantri di sebelah nyinyir, “Saya pakai tas kresek aja mbak. Nggak papa, cuma nambah 200 perak aja kok,”

What the fuuu!!! Niat saya untuk mengurangi sampah malah dicap ‘terlalu pelit’ mengeluarkan 200 perak.

Tidak berhenti di situ saja. Saat saya mulai membiasakan beli makan dengan membawa wadah sendiri, para penjualnya yang justru memaksa saya pakai kantong plastik. Saya berusaha menolak, tapi mereka bersikukuh membungkus wadah makan saya dengan plastik. Saya pun tak kuasa menolak, sampai akhirnya mereka membisiki saya, “Biar dapat lamaran Mbak”

Apaan sih maksudnya? Apa hubungannya sama ‘dapat lamaran’?

Kayaknya salah denger deh, saya meyakinkan diri saya seperti itu. Anehnya, kejadian itu berulang sampai lebih dari lima kali di penjual yang berbeda-beda. Ternyata ada mitosnya di Jawa. Mitosnya adalah kita harus memasukkan barang-barang yang kita beli ke dalam kantong kresek kalau ingin mendapat lamaran.

Sumpah, ini adalah mitos paling aneh yang pernah saya dengar. Bahkan, ada seorang penjual baju yang memasang wajah penuh amarah saat saya menolak tas kreseknya. Padahal, saya sudah siap memasukkan baju yang saya beli ke dalam ransel. Tapi, beliau berkali-kali memarahi saya, “Gak ilok nak, gak ilok… nanti nggak dapat jodoh lho!”

Ya Allah, ini mitos apaan sih?? Apakah wajahku terlihat sejones itu sampai para penjual yang tak kukenal mengkhawatirkan kedatangan jodoh hamba?? Apakah ini penyebabnya diriku tak ada yang melamar?

Beginilah susahnya hidup di negara yang kaya akan mitos. Akhirnya, semua kembali lagi pada niat kita, masih mau melanjutkan zero waste atau cukup menyerah sampai di sini. Kalau sebelumnya kita dibodohi perintah “Buanglah sampah pada tempatnya”. Sekarang jangan sampai kita dibodohi lagi oleh mitos-mitos yang tak terbukti kebenarannya itu.

BACA JUGA Nebak Karakter Orang dengan Modal Stalking Instagram dan tulisan Riris Aditia N. lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

—

Terakhir diperbarui pada 24 Juni 2020 oleh

Tags: zero waste
Riris Aditia N

Riris Aditia N

Freelance writer & stroyteller

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

15 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

16 Januari 2026
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.