Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Ngantuk Nonton Film Dune Bukan karena Otak Pas-Pasan, Emang Nggak Suka Aja!

Muhammad Sabilurrosyad oleh Muhammad Sabilurrosyad
20 Oktober 2021
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Film Dune, sejak awal kemunculannya sudah bikin huru-hara. 

Film atau tontonan lainnya, memiliki berbagai pilihan kemasan dan format untuk ditawarkan pada penonton. Oleh karena itu, wajar apabila terbentuk selera penonton yang terbagi-bagi. Dalam film, selain memiliki pilihan genre yang berbeda, juga terdapat berbagai perbedaan kemasan.

Ada film yang diperuntukan penonton pecinta jedar-jeder berfokus pada aksi, ada film yang fokus dengan cerita dan jalinan narasi, ada pula film yang berfokus pada pencapaian artistik. Dan semua itu memiliki penikmatnya masing-masing, yang akhirnya membentuk segmentasi.

Film Dune akhir-akhir ini menjadi perbincangan menarik. Dune tampil seolah-olah menjadi film sci-fi dengan kemasan blockbuster mewah. Ini membuat para penonton yang hobi nonton ledak-ledakan dan aksi memukau melirikan matanya.

Namun, film Dune juga punya keinginan berupa pencapaian secara artistik dengan jalinan cerita yang penuh. Dua buah aspek yang tidak selalu bisa memuaskan segmentasi penonton tertentu.

Hasilnya, film Dune berhasil menimbulkan pergesekan antar penonton dengan referensi seleranya masing-masing itu. Dune berhasil banjir pujian, tapi ada juga penonton yang merespons secara negatif dengan berbagai ekspresi, mulai dari bilang bosan, ngantuk, bahkan yang sampai berani menilai jelek.

Beberapa waktu lalu, tulisan Mas Riyanto agak menarik perhatian saya. Tulisannya menjadi bukti adanya pergesekan penonton beda selera tersebut. Dia menulis bahwa Orang yang Ngantuk Pas Nonton Film Dune Pasti Kapasitas Otaknya Pas-pasan.

Sek, sek, sek. Ada satu hal yang mengganjal dari tulisan itu. Nggak boleh ta, kita ngerasa ngantuk ketika nonton film?

Baca Juga:

Panduan Memahami Plot Film Dune buat Kalian yang Keburu Ngantuk

Orang yang Ngantuk Pas Nonton Film Dune Pasti Kapasitas Otaknya Pas-pasan

Ada berbagai faktor kenapa seseorang bisa tertidur saat nonton film. Bisa saja kondisi tubuh dan pikiran yang sedang tidak fit, sehingga tidak siap dengan pilihan film yang sudah terlanjur dipesan tiketnya. Atau, ya karena memang nggak suka aja, nggak cocok. Dan semua itu, tidak ada korelasinya dengan otak. Ngantuk nonton film itu reaksi yang manusiawi, tidak berkaitan dengan penilaian, dan tidak berhubungan dengan kapasitas otak. Lagian, film Dune memang se-membosankan itu, kok, buat saya.

Dune bagi saya memang sebuah film yang memiliki babak pertama yang cukup berat dilalui. Babak pertama film ini penuh dengan penyebutan istilah-istilah yang tidak familier, mulai dari nama tokoh yang belum tau wujudnya, nama tempat-tempatnya, nama jabatan, julukan, hingga memahami hubungan antar karakternya yang juga bejibun. Butuh waktu buat penonton untuk memahami konteks setiap dialog yang ada, untuk menyambungkan setiap titik misteri dan pemahaman semestanya.

Jadi, wajar saja sebenarnya kalau hal njelimet nan muter-muter ini bikin beberapa penonton merasa bosan. Lalu, kalau bosan, di bioskop ngapain? Ngantuk bisa jadi opsi baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Terus, emang kenapa kalau ngantuk? Emang nggak boleh nyerah nonton film, ya?

Lagian, tidak semua orang bisa mengagumi seperti apa yang Mas Riyanto kagumi. Apalah itu sinematografi ciamik dan musik menggelegar Hans Zimmer, kalau kehadiran cacing besar alaska yang ternyata bisa membuat penonton terhibur.

Maksudnya, ya terima aja kalau ada orang yang nggak suka film bertempo lambat dan penuh dialog terlepas dari cerita yang wah, makna yang dalam, isu yang bagus, atau sinematografi memukau. Emang nggak cocok aja, beda selera. Nggak perlu merasa membela film segitunya seolah-olah ada kewajiban menerangkan perihal selera terbaik dan terbenar. Nggak ada yang bisa maksain untuk suka.

Lagian, merasa ngantuk dan bosan menonton film adalah hal yang wajar dan manusiawi. Dan bagi saya, reaksi itu bebas nilai, tidak mengandung penilaian bagus atau jelek, dan tidak merepresentasikan kualitas filmnya. Orang boleh untuk merasa bosan dan ngantuk nonton film, tapi tetap merasa itu film yang bagus. Saya saja butuh berkali-kali nonton film-film Christopher Nolan atau Zack Snyder karena selalu ketiduran di tengah jalan atau kebosanan setengah mampus. Namun, saya tetap merasa filmnya bagus.

Kecuali, orang yang beda selera ini melanggar batasan dalam memberi penilaian sembarangan. Selera nggak membenarkan kita untuk mendiskreditkan sebuah film dengan penilaian secara dangkal cuma modal “filmnya jelek dan ngebosenin”. Kayak mau ngekritik, tapi nggak punya argumen atau kurangnya perbendaharaan kata. Apa bedanya dengan selebgram review makanan modal “rasanya kek mau meninggal”. Padahal bisa cukup bilang nggak suka atau nggak cocok, kan itu selera, dan nggak bisa digugat.

Duh, pengkelas-kelasan tontonan ini mulai nggak mashook, buat siapa pun, baik itu orang yang nggak tahan sama film lambat dan ngatain orang lain elitis, maupun sinefil pengagum Wong Kar Wai. Lagian, yang otaknya pas-pasan itu bukan cuma orang yang ngantuk nonton Dune, tapi juga mereka yang curigain film Nussa nggak-nggak hanya modal kostum.

Sumber Gambar: Akun Instagram DuneMovie

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2021 oleh

Tags: BosenFilm DuneNgantuk
Muhammad Sabilurrosyad

Muhammad Sabilurrosyad

Tukang nonton.

ArtikelTerkait

Menelisik Hak Asasi Tiap Manusia untuk Mendapatkan Tidur Siang yang Berkualitas

Menelisik Hak Asasi Tiap Manusia untuk Mendapatkan Tidur Siang yang Berkualitas

1 November 2019
Orang yang Ngantuk Pas Nonton Film Dune Pasti Kapasitas Otaknya Pas-pasan terminal mojok.co

Orang yang Ngantuk Pas Nonton Film Dune Pasti Kapasitas Otaknya Pas-pasan

18 Oktober 2021
Panduan Memahami Plot Film Dune buat Kalian yang Keburu Ngantuk terminal mojok.co

Panduan Memahami Plot Film Dune buat Kalian yang Keburu Ngantuk

21 Oktober 2021
ngantuk

Bengi Angel Turu, Isuk Angel Tangi, Awan Ngantukan

27 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai Padang Adalah Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar Mojok.co

Pantai Padang Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar

8 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

9 Februari 2026
4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja Mojok.co

4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja

8 Februari 2026
Dilema Punya Honda Mobilio: Nyaman Dikendarai dan Irit, tapi Kaki-Kaki Mobilnya Sering "Keseleo" Mojok.co

Dilema Punya Honda Mobilio: Nyaman Dikendarai dan Irit, tapi Kaki-Kaki Mobilnya Sering “Keseleo”

7 Februari 2026
Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Surat Terbuka untuk KAI: War Tiket Lebaran Bikin Stres, Memainkan Perasaan Perantau yang Dikoyak-koyak Rindu!

7 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.