Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS tidak seharusnya terjadi. Miris sekali karena keduanya sebenarnya adalah korban dari sistem kesehatan yang sangat tidak sehat.

“Tidak semua luka datang dari goresan dan penyakit fisik. Adakalanya datang dari kalimat yang diucapkan ketika seseorang berada dalam keadaan paling tidak berdaya.”

Agaknya nasihat itu relevan untuk menggambarkan konteks yang dialami oleh seorang pasien BPJS bernama Yurizal. Dalam unggahan Threads-nya, dia mengaku tidak kunjung memperoleh kamar rawat inap padahal telah menunggu hingga 8 jam. 

Keluhan Yurizal sebetulnya mengungkap personal akut soal tata kelola dan sistem pelayanan kesehatan, terlebih bagi mereka pengguna BPJS.

Sayangnya, keluhan Yurizal justru memicu “serangan” komentar dari sejumlah pengguna Threads lain. Belakangan, para penyerang itu diketahui banyak yang berprofesi sebagai dokter dan nakes.

Alih-alih memberikan pengertian soal keterbatasan kamar, mekanisme yang tersendat, dan beban rumah sakit yang over kapasitas dengan tenang dan santun, banyak dari nakes justru memberikan komentar bernada ejekan dan hinaan.

Sekilas ketika saya baca, ada yang menyinggung soal status sosial (kemiskinan), diminta serangan jantung saja kalau mau cepat ditangani, dan bahkan menyarankan ke ruangan jenazah saja kalau ingin segera mendapat ruangan.

Sangat miris bahwa kata-kata itu dilempar kepada orang yang kondisinya sedang sekarat, membutuhkan pertolongan, dan berada dalam kondisi tak berdaya. Makin memilukan setelah muncul kabar bahwa yang bersangkutan telah meninggal dunia pada 31 Juli lalu.

Keluhan pasien itu masalah tata kelola, bukan serangan pribadi kepada nakes

Kita harus menyikapi kondisi ini dengan hati-hati. Sebab kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa meninggalnya Mas Yurizal karena keterlambatan memperoleh kamar. Kita juga belum mengetahui secara pasti apakah ketika menunggu, beliau sama sekali tidak memperoleh pertolongan secara medis sambil menanti tersedianya ruang inap.

Tapi yang jelas, kita nggak bisa membenarkan hinaan dari nakes. Karena, keluhan pasien BPJS itu sebenarnya berkaitan dengan masalah tata kelola atau sistem yang sejak awal memang menjadi masalah. Jadi, keluhan Yurizal bukan serangan personal kepada para nakes dan dokter.

Keluhan pasien BPJS dan perilaku nakes nggak ada hubungannya

Sekali lagi saya mau menegaskan bahwa keluhan pasien BPJS dan perilaku nakes dan dokter seharusnya nggak ada hubungannya. Masalah nakes dan dokter adalah kepada sistem.

Kita sama-sama tahu kalau masalah tata kelola layanan kesehatan masih jauh dari menyenangkan. Mulai dari keterbatasan fasilitas dan nakes yang bekerja dalam ritme dan tekanan tinggi. Sudah begitu, saya mendengar kabar kalau BPJS telat membayar rumah sakit.

Maka, yang terjadi, banyak dokter dan nakes berhadapan dengan beban administrasi dan ekspektasi. Efeknya, mereka sangat rentan mengalami kelelahan fisik dan mental. Semua itu makin membebani ketika mereka harus menanggung kemarahan dari masyarakat atas sesuatu yang di luar kendali mereka.

Nakes bukan mesin di pabrik yang bisa bekerja tanpa makan, minum, dan mengambil jeda. Oleh karena itu, ritme kerja yang humanis, jumlah tenaga kesehatan yang memadai, fasilitas rumah sakit yang terus bertambah, serta sistem rujukan yang efisien dalam sistem tata kelola BPJS memang perlu terus dibenahi.

Konflik nakes dan pasien BPJS rentan terjadi tapi tidak bisa dibenarkan

Apabila beban pelayanan terlalu berat sementara fasilitas tidak sebanding dengan antrian pasien, maka konflik antara nakes dan pasien BPJS akan terus muncul. 

Maka dari itu, kritik terhadap para nakes tidak boleh membuat kita abai terhadap masalah yang di luar kendali mereka, yaitu sistem dan fasilitasnya.

Tapi, kita harus sadar bahwa memahami soal kausalitas dari perilaku “agresif” dari para nakes tidak sama dengan membenarkan perilaku mereka di media sosial.

Jadi begini, kelelahan memang bisa bikin orang mudah marah. Tetapi, tidak juga membuatnya berhak secara bebas mengumpat dan menghina pasien BPJS. 

Tekanan kerja dapat menjelaskan mengapa empati seseorang jadi berkurang, tapi tidak otomatis menghilangkan tanggungjawabnya untuk mengendalikan ucapan. Itulah yang namanya profesional, bukan?

Hidup pasien udah berat, jangan dihujat 

Tidak hanya nakes, siapa saja yang bekerja di bidang pelayanan boleh merasa lelah. Boleh marah terhadap sistem yang amburadul. Tapi, keputusan untuk menjadikan orang yang sedang sakit sebagai objek hinaan adalah soal pengendalian moral dalam diri.

Tanyakan pada diri sendiri, “Pantaskah saya mengumpat dan menghina orang sakit?”

Yang paling membuat saya kecewa adalah, banyak komentar dalam Threads almarhum yang bisa dikategorikan sebagai penghinaan kelas.

Pasien BPJS seolah-olah dianggap orang miskin yang tidak pantas menuntut fasilitas yang layak. Hanya karena pelayanannya ditanggung oleh sistem jaminan sosial dari negara, maka diminta bersyukur sudah dilayani. Meski dengan cara yang ketus, meremehkan, dan tidak empatik.

Dalam kehidupan bermedia sosial, kita harusnya sadar betul bahwa kita tidak sepenuhnya bisa memisahkan identitas profesional yang kita miliki di dunia nyata. 

Sebagai nakes, boleh kok berpendapat atau mengeluh soal tekanan pekerjaan. Tapi ketika identitasnya sebagai tenaga kesehatan tampil secara publik, maka masyarakat akan mengaitkannya dengan profesinya sebagai “pelayan” di sektor kesehatan. Mereka tidak hanya menuntut narasi yang edukatif, tapi juga humanis.

Jadi, bagi para tenaga kesehatan, kalian boleh marah, kesal, dan merasa capek. Tapi jangan jadikan kami para pasien BPJS sebagai sasaran kemarahan kalian. 

Sebab, antara tenaga kesehatan dan pasien, sama-sama korban. Yaitu korban dari sebuah sistem yang gagal memanusiakan manusia.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version