Informasi
ADVERTISEMENT

Naik motor dari Semarang ke Demak lewat pantura adalah ujian bertahan hidup yang sebenarnya

Naik motor dari Semarang ke Demak lewat pantura adalah ujian bertahan hidup yang sebenarnya

Orang bilang pulang kampung itu menyenangkan pasti belum pernah pulang dari Semarang ke Jepara melewati Demak naik motor lewat pantura. Sejak kuliah di Semarang, saya sudah puluhan kali bolak-balik rute ini, dan setiap berangkat saya merasa seperti peserta uji nyali yang kebetulan membawa ransel dan bekal dari ibu. Bedanya dengan acara televisi, di sini tidak ada kru yang siap menolong, hanya tukang tambal ban yang kadang muncul di saat yang tepat, kadang tidak.

Rutenya cuma itu-itu saja mulai dari Semarang, Genuk, Sayung, Demak, lalu terus ke arah Jepara. Tapi begitu dijalani, rute ini berubah jadi kurikulum tersembunyi tentang kesabaran, refleks, dan kepasrahan. Saya belajar membaca genangan seperti membaca pesan mantan: kelihatannya dangkal, ternyata dalam.

Saya baru sadar perjalanan ini mengajarkan lebih banyak hal daripada beberapa mata kuliah yang saya ambil.

Truk pantura nggak pernah kenal kata permisi, mau di Semarang, mau di mana pun

Di pantura, pengendara motor adalah rakyat jelata, dan truk kontainer adalah raja yang berjalan tanpa merasa perlu menengok kanan atau kiri. Ukurannya sebesar rumah kontrakan, klakson mereka seperti pengumuman kiamat, dan mereka menyalip dengan keyakinan orang yang percaya dunia memang diciptakan untuknya.

Pernah suatu sore di dekat daerah Demak lebih tepatnya di Genuk, sebuah truk menyalip dari kanan padahal di depannya masih ada truk lain. Saya tidak terjepit, tapi cukup dekat untuk merasakan angin dan getarannya sampai ke dada. Anehnya, sopirnya melambaikan tangan seolah baru melakukan kebaikan. Dari situ saya paham: di jalan ini, sopan santun adalah barang mewah.

Hafal letak lubang adalah bekal hidup paling berguna selama kuliah

Kalau galeri seni butuh pameran, datang saja ke ruas jalan Semarang ke Demak ini. Ada lubang yang kecil dan manis, ada yang dalam dan sinis, ada yang baru ditambal tapi sudah retak sebelum aspalnya dingin. Setelah sering lewat, saya hafal beberapa di antaranya seperti hafal wajah teman sekelas. Di jalan ini, refleks lebih penting daripada IPK.

Yang paling menyiksa adalah lubang di malam hari. Dia tidak pernah mengumumkan diri. Saya hanya tahu dia ada ketika roda depan masuk dan badan terguncang sampai nyawa sempat pamit sebentar. Lebih menyakitkan lagi tambalan yang justru lebih tinggi dari jalannya, seolah solusi memang harus ikut menyumbang masalah baru.

Kalau genangan sudah setinggi velg, itu bukan jalan lagi, itu kolam

Kalau kamu berkendara dari Semarang, rob dan banjir di kawasan Sayung dan sekitarnya bukan cerita baru. Yang baru setiap kali adalah kejutannya. Kita tidak pernah tahu genangan itu cuma setinggi mata kaki atau cukup untuk mematikan mesin.

Saya sendiri belum pernah sampai menuntun motor. Tapi saya pernah jadi penonton setia drama itu. Di depan saya, ada pengendara yang nekat menerobos genangan dengan percaya diri, lalu mesinnya mati tepat di tengah. Dia turun, celana digulung, wajahnya pasrah seperti orang yang baru dapat kabar buruk dari dosen pembimbing. Saya menahan gas pelan-pelan, iba sekaligus lega karena bukan saya yang jadi tontonan hari itu. Sejak itu saya punya prinsip yaitu di genangan, jadilah pengikut, bukan pelopor.

Ironisnya, warga di sana sudah terbiasa. Mereka meninggikan rumah atau tanah dan menjalani hidup seolah genangan adalah tetangga yang menumpang terlalu lama.

Tapi anehnya, jalan Semarang Demak ini tetap bikin kangen

Setelah bertahun-tahun, saya sadar rute Semarang ke Demak ini tidak sekadar jalan. Dia urat nadi ekonomi yang dilewati ribuan truk, tapi kondisinya sering seperti tidak dianggap penting. Orang bicara soal logistik dan pertumbuhan ekonomi di seminar, sementara yang menanggung getarannya adalah mahasiswa di motor yang membawa oleh-oleh dari rumah.

Meski begitu, saya tetap pulang lewat jalan ini. Mungkin karena ada warung kecil atau Indomaret dan Alfamart yang buka sampai larut untuk menemani perjalanan pulang. Mungkin karena ada sopir truk yang kadang mengalah dan memberi lampu sein sebagai tanda terima kasih. Atau mungkin karena di ujung perjalanan ada rumah dan doa ibu yang selalu menyertai.

Jadi, kalau suatu hari kamu naik motor dari Semarang ke Jepara, bawalah jas hujan, cek ban, dan ikhlaskan sedikit waktu. Jalan ini tidak akan berubah hanya karena kita mengeluh. Tapi setidaknya kita sampai dengan cerita, dan di negeri ini, cerita sering jadi satu-satunya hal yang gratis dan tidak berlubang.

Penulis: Mukhamad Bayu Kelana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal yang Bikin Saya Gelisah Saat Melewati Jalur Pantura Semarang Demak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2026 oleh .

Mukhamad Bayu Kelana

Mahasiswa Sarjana Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang.

Exit mobile version