Informasi

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi Mojok.co

Jalur dalam Monumen Kapal Selam Surabaya itu sempit

Kedua, soal jalurnya yang memang relatif sempit. Di benak saya, entah kalau pengunjung lain, pasca dari Monkasel yang tertanam di pikiran adalah soal sempitnya, bukan soal kisah militernya. Ketika masuk, semuanya terasa rapat. Lorongnya sempit, banyak bagian yang bisa membuat orang harus mennoleransi yang lainnya, menunggu giliran, dan mengatur langkah.

Poin positifnya ya selain informasi sejarah, Monkasel mengajarkan pengunjungnya untuk menekan ego agar tidak merasa dirinya sebagai pusat kehidupan di dunia ini. Ya sebab kalau egois ya agak susah bergerak di dalamnya.

Baca juga Jalan Panggung, Sisi Lain Surabaya yang Tidak Pernah Saya Duga.

Nggak cantik untuk konten medsos

Ketiga, Monumen Kapal Selam Surabaya tidak cocok untuk konten media sosial. Mungkin, ketika berada di luar, kalian bisa mengambil foto kapal selam yang unik. Itu pun kalau cuaca gak panas, orang jadi betah untuk berswafoto.

Akan tetapi, kalau sudah masuk ke dalam, agak sedikit susah. Sebab cahaya di dalam Monkasel nggak ramah buat kamera HP. Sudutnya pun terbatas, ruangnya sempit, dan semua itu membuat kalian sadar bahwa tidak semua tempat wisata diciptakan untuk feed yang rapi. Ada tempat yang memang dibuat untuk pengetahuan, bukan untuk estetika, contohnya ya Monkasel ini.

Itulah beberapa alasan kenapa Monkasel saya labeli sebagai tempat wisata yang cukup sekali dikunjungi. Yah bukan berarti tempatnya jelek atau tidak penting. Seperti yang tulis sebelumnya soal wisata Goa Jatijajar. 

Ada destinasi yang memang seru untuk diulang karena menawarkan ketenangan, keseruan, dan ruang untuk membangun kenangan. Tapi, ada juga destinasi yang layak dikunjungi hanya untuk sekali datang. Bukan karena kurang, tapi karena pengalaman dan informasinya cukup sekali diterima. Dan, Monkasel adalah salah satunya.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2026 oleh .

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

Exit mobile version