Mobil Listrik untuk Keperluan Dinas, Satu Lagi Atraksi Pemerintah yang Makin Nggak Lucu

Mobil Listrik untuk Keperluan Dinas, Satu Lagi Atraksi Pemerintah yang Makin Nggak Lucu

Mobil Listrik untuk Keperluan Dinas, Satu Lagi Atraksi Pemerintah yang Makin Nggak Lucu (Pixabay.com)

Pemerintah Indonesia terkesan serius dalam penggunaan mobil listrik secara masif. Kendaraan listrik dianggap lebih hemat dan bersih. Upaya awal yang dilakukan Pemerintah adalah dengan… pengadaan mobil listrik untuk keperluan dinas.

Bentar, bentar. Ingin mendorong hemat, dengan mengganti mobil dinas dengan mobil listrik, lah?

Benar, penggunaan mobil listrik sebagai kendaraan operasional pengganti kendaraan dengan bahan bakar memang jauh menekan nilai polusi, tapi mbok yo dipikir sek, Bapak Ibu yang terhormat.

Saya nggak mau mengulang argumen yang sudah beredar seperti sudahkah ketersediaan listrik tercukupi, kualitas jalan yang masih amburadul, dan argumen serupa. Saya mau ke argumen paling dasar aja, apa urgensinya?

Begini lho, Bapak Ibu sekalian. Di tengah karut marut kenaikan BBM ini, rasanya tidak sensitif jika wakil rakyat, yang dianggap jadi biang keladi naiknya harga-harga serta meningkatnya penderitaan warga ini malah dapat karpet merah untuk kemewahan. Mobil listrik itu, nggak bisa dimungkiri lagi, adalah barang mewah. Nggak masuk di nalar negara mendorong penghematan, tapi dimulai dengan memberi kemewahan ke pejabatnya.

Saya ulangi lagi. Mobil listrik, adalah kemewahan. Dan kemewahan, jelas, bukan prioritas banyak orang. Kenapa kebijakan yang jelas-jelas tak bermanfaat buat banyak orang malah dikebut?

Mobil listrik untuk keperluan dinas ini malah bisa dimaknai kalau pejabat ngebet ganti mobil dinas yang lebih mewah lho. Ujungnya, sentimen negatif makin memuncak. Ya bukan rahasia lagi sih kalau rakyat adalah prioritas ke sekian, tapi mbok ya jangan diperlihatkan secara gamblang gitu lho.

Kesiapan negara yang belum ada kejelasannya semakin membuat ragu dengan keputusan pemerintah. Sebenarnya ditujukan kepada siapa kebijakan ini? Jika ditujukan untuk masyarakat menengah ke bawah kok sepertinya sangat ngawur. Kemudian kalau ditujukan untuk masyarakat menengah ke atas kok tingkat kesiapannya masih kurang. Atau memang kebijakan ini ditujukan untuk pemerintah itu sendiri karena beliau-beliau ini mungkin sudah waktunya memiliki kendaraan baru.

Rasanya kok jahat ya kalau dipikir-pikir. Upah tak naik signifikan, tapi harga-harga dibiarkan naik secara tak terkontrol. Alih-alih mencari solusi untuk rakyat, yang dilakukan malah wacana mobil listrik sebagai mobil dinas. Ya Tuhan, urip kok ngene banget sih.

Rakyat pun semakin skeptis terhadap kinerja pemerintah yang setiap hari malah memberikan blunder baru. Padahal, untuk saat ini, pemerintah seharusnya masih berfokus untuk menstabilkan harga bahan baku lain yang kemungkinan juga naik akibat naiknya BBM.

Gara-gara mobil listrik untuk dinas ini, isu utama yang seharusnya tetap digaungkan malah semakin tertutupi, ya salah satunya isu penting mengenai kenaikan BBM ini. Pemerintah terdahulu yang protes mati-matian ketika BBM dinaikkan kini malah ikut mencekik rakyatnya dengan kebijakan yang sama. Rakyat dipaksa bekerja semakin mati-matian dengan gaji dan tunjangan yang tidak bertambah. Profesi seperti driver, ojek, dan kurir yang mengandalkan kendaraan sebagai senjata utama mereka semakin berhemat. Sedangkan, pemerintah malah berpesta pora secara terang-terangan dengan mengumumkan hadirnya tumpangan baru.

Pada akhirnya, rakyat memang harus mengandalkan diri mereka sendiri untuk sekadar bernafas esok hari. Lagipula, segala upaya penyuaraan sudah dilakukan seperti demo serentak di berbagai wilayah, namun belum ada jawaban dari mereka yang sepertinya semakin jauh di atas sana, sampai-sampai lupa melihat kami yang berada di bawah ini.

Mungkin kenaikan BBM ini memang kejutan dan hal yang disengaja oleh pemerintah sebagai bentuk promosi penggunaan mobil listrik baru di Indonesia. Bapak Ibu pejabat kebetulan memang punya kesempatan terlebih dahulu untuk mencobanya, kemudian baru rakyat satu persatu mendapat giliran. Makanya sambil menunggu giliran, sementara rakyat tetap sabar dulu ya. Nggak apa-apa dibikin susah secara sistematis, yang penting pejabatnya bisa punya mobil dinas baru.

Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mobil Listrik Makin Nggak Menarik ketika Tarif Dasar Listrik Bakal Naik

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version