Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Mitos Jangka Jayabaya: 5 Ramalan yang (Katanya) Terjadi dan Sengkarut Sejarahnya

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
17 September 2023
A A
Mitos Jangka Jayabaya: 5 Ramalan yang (Katanya) Terjadi dan Sengkarut Sejarahnya

Mitos Jangka Jayabaya: 5 Ramalan yang (Katanya) Terjadi dan Sengkarut Sejarahnya (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang bakal sering dibahas ketika menyongsong pemilu? Banyak sih, mulai dari isu SARA sampai perkara ramalan siapa yang akan jadi presiden. Salah satunya pasti ramalan dalam Jangka Jayabaya. Banyak orang mengaitkan isi dari kitab ini dengan situasi Indonesia, entah masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Kitab yang konon meramalkan masa depan Indonesia ini menyimpan ratusan “ramalan”. Beberapa ramalan konon sudah terjadi. Apa saja ramalan yang sudah terjadi itu? Dan lebih penting, apakah Jangka Jayabaya benar-benar ramalan masa lampau?

ADVERTISEMENT

Siapa yang menulis Jangka Jayabaya?

Narasi tentang Jangka Jayabaya selalu sama: ditulis oleh Prabu Jayabaya, raja Kediri yang digdaya dan dikenal sebagai peramal. Tapi, apa iya begitu? Apakah Prabu Jayabaya benar-benar menulis kitab fenomenal ini?

Sebenarnya asal muasal kitab ini masih diperdebatkan, tapi mayoritas ahli sepakat jika Jangka Jayabaya bukanlah karya dari Prabu Jayabaya. Salah satu alasannya adalah tidak adanya bukti valid tentang penulis kitab ini. Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, pujangga era Prabu Jayabaya, juga tidak pernah menyebut Prabu Jayabaya memiliki karya tulis apa pun. Dan lebih penting, kitab ini baru muncul pada tahun 1600-an Masehi.

Lantas siapa yang menulis kitab tersebut? Ada beberapa versi yang beredar, salah satunya terkait dengan Sunan Giri III. Karya beliau berjudul Kitab Musarar disebut sebagai sumber dari Jangka Jayabaya. Sedangkan versi Jangka Jayabaya yang dianggap “asli” digubah oleh Pangeran Wijil. Dan sekali lagi, bersumber dari Kitab Musarar.

Versi kedua menyatakan bahwa Jangka Jayabaya ditulis oleh Ranggawarsita, pujangga besar Jawa. Alasan utamanya adalah isi ramalan itu terkesan mendukung Serat Kalatidha, karya Ranggawarsita tentang zaman edan. Akan tetapi versi kedua ini masih diperdebatkan. Apakah Ranggawarsita yang menulis Jangka Jayabaya, atau malah menyadur isinya ke dalam Serat Kalatidha?

Jangka Jayabaya ada demi kepentingan politis

Dari kedua versi lahirnya Jangka Jayabaya, semuanya bermuara pada hal yang sama: kepentingan politis. Dari versi pertama, Jangka Jayabaya dipandang memperkuat validasi Giri Kedaton, yaitu pesantren Sunan Giri yang punya kekuatan besar hingga dijuluki “kedaton” alias kraton. Isi kitab itu seolah mendukung lahirnya Giri Kedaton sebagai bagian dari ramalan masa silam.

Sedangkan versi kedua menilai Jangka Jayabaya dan Serat Kalatidha adalah alat proter Ranggawarsita pada Kasunanan Surakarta. Serat Kalatidha ditulis ketika pangkatnya di Kraton tidak dinaikkan sesuai harapan sehingga dia melempar kritik kepada pemerintahan Kasunanan Surakarta yang disebut telah masuk zaman gila atau zaman edan.

Baca Juga:

Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri

Patung Macan Putih, Ikon Wisata Baru Kediri yang Menarik Wisatawan

Tidak hanya kelahirannya, Jangka Jayabaya juga dipelihara sebagai alat politis di era modern. Dari pra kemerdekaan, konsep Ratu Adil dari Jangka Jayabaya mendapat tempat spesial dalam perjuangan. Dari Cokroaminoto sampai Soekarno disebut sebagai Ratu Adil yang akan memerdekakan Indonesia.

Akhirnya Jangka Jayabaya terus dipelihara dengan banyak alasan. Beberapa tokoh menjadikannya sebagai cara memenangkan hati rakyat, sekaligus menyebut tokoh lain bagian dari zaman edan. Sisanya terus membahas kitab ini untuk menjawab berbagai peristiwa yang terjadi, termasuk pandemi dan bencana alam.

Ramalan yang (katanya) terjadi

“Tapi, bukankah ada ramalan yang terbukti?” Saya sih tidak bisa menolak 100 persen. Memang Jangka Jayabaya disebut ramalan karena beberapa poin dalam kitab ini jadi nyata. Namun sebelum kita percaya lebih jauh, saya mau mengingatkan beberapa hal lagi.

Pertama, isi Jangka Jayabaya memang cukup fleksibel. Seperti ramalan pada umumnya, tidak ada muatan yang tegas meramalkan sesuatu. Maka bisa jadi ramalan yang jadi nyata itu karena Anda cocok-cocokkan saja.

Kedua, perkara kapan ditulis. Jika teori Sunan Giri atau Ranggawarsita ini benar, kitab ini bukanlah karya kuno dan beberapa ramalan yang terbukti nyata sebenarnya sudah terjadi saat “penulis sebenarnya” hidup.

#1 Kereto mlaku tanpo jaran, tanah Jawa Kalungan Wesi (Kereta berjalan tanpa kuda, tanah Jawa berkalung besi)

Ini adalah ramalan paling populer dari Jangka Jayabaya. Kebetulan, ramalan ini juga membuka kitab fenomenal ini. Banyak yang menghubungkan bahwa ungkapan ini meramalkan kereta api dan kendaraan bermesin masuk ke tanah Jawa. Kalungan wesi dianggap sebagai rel kereta yang mengelilingi tanah Jawa.

#2 Semut ireng anak-anak sapi (Semut hitam anak-anak sapi)

Ungkapan ini dianggap meramalkan kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia. Istilah semut hitam menggambarkan bagaimana tentara kolonialis dari Eropa yang berbaris memasuki Indonesia. Ada juga yang menyebut semut hitam juga menggambarkan keuletan bangsa Eropa. Sementara itu, anak sapi disebut merujuk pada kebiasaan orang Eropa untuk minum susu sapi.

#3 Kejajah saumur jagung karo wong cebol (Terjajah seumur jagung oleh orang kerdil)

Ini ramalan yang disebut sebagai bukti kehebatan Jangka Jayabaya. Ungkapan ini dianggap merujuk pada penjajahan Jepang pada era Perang Dunia II. Selain sangat cepat yang dipandang seumur jagung, orang Jepang juga dianggap pendek alias kerdil. Akan tetapi, beberapa orang menilai ungkapan ini menggambarkan kedatangan orang Mongol saat masa akhir Kerajaan Kediri.

#4 Kodo Ijo ongkang-ongkang (Katak hijau duduk berleha-leha)

Istilah ongkang-ongkang memang susah diterjemahkan, tapi maknanya adalah tingkah laku yang jumawa dan cenderung congkak. Nah, ungkapan ini dipandang meramalkan Orde Baru di mana ABRI yang berseragam doreng hijau berkuasa dan semena-mena. Ungkapan ini, meskipun bisa sangat bias, dijadikan bukti kehebatan ramalan Jangka Jayabaya.

#5 Ratu ora nepati janji, musna kekuasaane (Raja tak menepati janji, musnah kekuasaannya)

Ungkapan satu ini juga cenderung bias dan bisa menggambarkan berbagai pemimpin dalam sejarah Indonesia. Ada yang menganggap raja yang dimaksud adalah Pakubuwono III yang dinilai tidak menepati janji para leluhur dan mendekat pada kolonialis Belanda. Ada yang menyebut kalau ini meramalkan Soekarno yang tidak menepati janji kesejahteraan sehingga lengser. Dan tentu saja, Soeharto juga disebut sebagai ratu yang disinggung.

Masih ada banyak poin ramalan dalam Jangka Jayabaya yang dianggap sudah terjadi, namun mayoritas ungkapan di dalamnya lebih dekat dengan urusan moral. Degradasi moral menurut Jangka Jayabaya ini sendiri juga sudah terjadi dari zaman dulu. Sisanya juga terus diotak-atik dan dicari padanannya dengan peristiwa hari ini.

Lalu, bagaimana kita memandang Jangka Jayabaya? Apakah sebagai karya sastra besar atau karya raja misterius yang meramalkan masa depan? Apakah menjadi peringatan atas degradasi moral atau validasi seorang pemimpin?

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Tafsir Lain Ramalan Jayabaya Perihal Masa Depan Jawa yang Dipercaya Akurat.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 September 2023 oleh

Tags: Jangka Jayabayakediriramalanramalan jayabaya
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Jalan-jalan ke Pasar Pahing Kediri, Pasar Tertua dan Spot Kulineran di Kediri

Jalan-jalan ke Pasar Pahing Kediri, Pasar Tertua dan Spot Kulineran di Kediri

2 September 2023
mitos di sekitar gunung kelud kediri erupsi hujan abu mojok.co

4 Mitos yang Menyelubungi Gunung Kelud di Kediri

24 Juni 2020
3 Dosa Tempat Kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare Kediri yang Bikin Kecewa

Nggak Semua Orang Pare Ngerti Bahasa Inggris, Bro! Kau Pikir Semua Orang Pare Hidup di Kampung Inggris?!

5 September 2023
Simpang Tiga Mengkreng Sebenarnya Milik Kediri, Nganjuk, Atau Jombang?

Simpang Tiga Mengkreng Sebenarnya Milik Kediri, Nganjuk, Atau Jombang?

26 September 2024
Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa

Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa

9 Agustus 2025
Stasiun Kediri Kian Memikat dengan Alunan Lagu dan Lokomotif Ratusan Tahun Mojok.co

Stasiun Kediri Kian Memikat dengan Alunan Lagu dan Lokomotif Ratusan Tahun

3 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Udara Bersih, Hak Asasi yang Cuma Bisa Dirasakan Warga Depok Sebulan Sekali

28 Juni 2026
Pengalaman Pahit Punya Usaha Laundry, Karyawan Banyak Drama hingga Pelanggan Tak Tahu Diri Terminal

Pengalaman Pahit Punya Usaha Laundry, Karyawan Banyak Drama hingga Pelanggan Tak Tahu Diri

24 Juni 2026
TransJatim Dibenci, tapi Ia Penyelamat Mahasiswa Surabaya (Wikimedia Commons)

Ugal-ugalan Sopir TransJatim Menyelamatkan Masa Depan Mahasiswa Mojokerto yang Kuliah di Surabaya

22 Juni 2026
Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Pejuang Rupiah

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Memahami Perjuangan Pejuang Rupiah di Atas Aspal

25 Juni 2026
Masuk UIN Saizu Purwokerto yang Saya Benci setelah Ditolak Kampus Impian Bukanlah Akhir dari Segalanya Mojok.co

Masuk UIN Saizu Purwokerto yang Saya Benci setelah Ditolak Kampus Impian Bukanlah Akhir dari Segalanya

22 Juni 2026
Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan

Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan

28 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.