Informasi
ADVERTISEMENT

Lulusan S2 Merantau ke Jakarta Sudah 3 Tahun: Kini Tidak Lagi Memikirkan Mimpi tapi Cara Bertahan Hidup dan Tetap Waras

Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Lulus S2 bukan jaminan jalan menuju mimpi besar bisa terbuka

Dulu saya berpikir, setelah lulus S2 semuanya akan lebih baik. Saya akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar. Nyatanya, mendapatkan pekerjaan dengan gaji setara UMR tidak segampang yang saya bayangkan. Ijazah S2 tidak menjamin hidup kita lebih baik.

Setiap hari, pikiran saya terasa berkecamuk, penuh dengan kecemasan dan ketakutan tentang masa depan. Bagaimana jika saya tidak kunjung mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih baik? Apakah saya bisa tetap waras di Jakarta? Semua keresahan itu terasa sangat nyata.

Di sisi lain, saya juga tidak punya gambaran pekerjaan yang jelas jika harus pulang kampung. Saya takut menjadi pengangguran, sebab peluang kerja di kampung halaman jauh lebih sempit. 

Jika saya pulang kampung, penghakiman itu pasti jatuh. Orang kampung pasti berpikir, percuma sekolah tinggi sampai S2, kerja di Jakarta, tapi nggak jadi siapa-siapa.

Drakor membuat hidup tampak lebih waras di Jakarta

Di tengah rasa takut dan tekanan memegang ijazah S2, nonton drakor menjadi cara sederhana yang membantu saya tetap waras di Jakarta. Lewat satu atau dua episode setiap malam, saya menemukan jeda. Setiap kisah membawa saya ke dalam dunia lain (fiktif) yang sejenak membuat saya melupakan kerasnya hidup.

Terkadang, kalau sedang meratapi nasib sebagai lulusan S2 tanpa pekerjaan besar, saya memilih menonton drakor bergenre romcom dan psikologi. Dua genre yang berbeda, tetapi sama-sama memberi ruang untuk mengurai emosi. 

Setelah semua perasaan tumpah, entah melalui tawa atau tangisan, perasaan saya jadi agak lega. Drakor memberi saya kesempatan menangis tanpa merasa lemah, tertawa tanpa merasa bersalah, dan berharap tanpa merasa naif.

Baca juga: Mahasiswa S3 Tertawa di Koridor Kampus Bukan karena Bahagia, tapi Menertawakan Nasibnya Sebagai Pabrik Akademik dan Nasib Jurnal Ditolak 5 Kali

Berani untuk bertahan hidup

Saat stres sedang memuncak, saya bisa menghabiskan satu drakor dalam semalaman di akhir pekan. Saya sadar tidak bisa membanggakan pencapaian seperti itu. Namun, itulah cara paling sederhana yang bisa saya lakukan untuk refreshing dan healing tanpa harus menguras isi dompet.

Di kamar kos yang sempit, dengan layar laptop 14 inci atau layar ponsel sederhana, saya belajar bahwa bertahan juga bentuk dari keberanian. Hidup tidak harus selalu progresif dan mengagumkan. Terkadang, hidup tetap stabil dan waras saja sudah menjadi pencapaian luar biasa.

Dan kalau hari ini saya masih waras dan bisa bangun, bekerja, dan memilih untuk tidak menyerah, mungkin itu juga karena drakor yang setia menemani saya setiap malam. Seorang pemegang ijazah S2 yang hidup dengan segala tekanan di Jakarta.

Penulis: Elyatul Muawanah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jakarta Itu Menyebalkan dan Toxic, tapi Perantau Sulit Meninggalkannya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2026 oleh .

Elyatul Muawanah

Perempuan Madura yang enggan menyebut diri penulis paruh waktu, karena menulis adalah undangan momentum. Hanya menulis di waktu-waktu tertentu—saat isi kepala sudah terlalu penuh dan jemari butuh ruang untuk bicara.

Exit mobile version