Merasakan Slow Living di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang Cukup Menguras Kantong

Merasakan Slow Living di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang Cukup Menguras Kantong

Merasakan Slow Living di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang Cukup Menguras Kantong (Unsplash.com)

Nabire adalah salah satu kota “besar” di tanah Papua, selain tentunya kota-kota besar seperti Jayapura, Sorong, atau Manokwari. Terlepas dari menarik atau tidaknya ibu kota Papua Tengah ini, pergi ke sana tetap harus menyiapkan kantong tebal agar benar-benar merasakan gaya hidup slow living.

Bukan karena biaya hidup yang konon katanya mahal di Papua, tapi lebih ke arah biaya transportasi ke sana yang muahaaalnya ngalahin ke Korea. Jika dari Jakarta, estimasi biaya transportasi hampir 9 juta rupiah. Itu belum termasuk biaya menginap, makan, ngopi-ngopi fancy, modol di wc umum, dan balik lagi ke Jakarta kalau ingat.

Sekitar bulan Juli 2022 atau dua minggu setelah pembentukan tiga provinsi baru di Papua, saya berkesempatan berkunjung ke Nabire sebagai ibu kota Provinsi Papua Tengah. Berbekal pembiayaan riset ekonomi hijau yang ditanggung negara, akhirnya saya mendarat di Bandara Douw Aturure. Apabila dengan biaya pribadi, tentu saya tidak akan mampu menginjakkan kaki di Nabire hingga 10 hari.

Pengalaman pergi ke Nabire cukup seru untuk dibagikan sebagai kota yang menurut saya slow living. Tata kotanya cukup rapi dan jalanan yang lengang menambah ke-slow-an tinggal di Nabire.

Transportasi dan tempat menginap

Untuk bisa menuju Nabire, kita bisa memulainya dari penerbangan pesawat Jayapura. Masalahnya hanya ada satu penerbangan ke sana menggunakan pesawat Wings Air ATR 72-600. Alhasil monopoli harga terjadi dengan biaya bisa mencapai 2-3 juta sekali penerbangan, untuk perjalanan yang hanya ditempuh 1 jam 40 menit. Fyi, saking monopolinya, jadwal penerbangan bisa digeser atau dibatalkan maskapai kapan pun.

Masalah berikutnya adalah minimnya pilihan transportasi publik. Jika kita tidak mempersiapkan diri sebelumnya, turun dari bandara pasti kita akan ditarik-tarik supir taksi “plat hitam” untuk ikut dengannya. Beruntung saya memiliki kenalan Orang Asli Papua yang menjemput dan menemani perjalanan saya dan tim dengan mobil pribadinya. Untuk mengunjungi tempat-tempat di Nabire kami hanya perlu mengganti BBM, walaupun di akhir perjalanan kami tetap memberikan uang saku transport sebagai bentuk terima kasih.

Tantangan berikutnya adalah BBM. BBM Pertalite memang satu harga di Nabire, tapi pom bensin cuma buka sehari dua kali dengan rentang waktu 1-2 jam di pagi dan sore hari. Anehnya, jika kita membeli BBM eceran atau BBM di luar pom bensin Pertamina, BBM selalu tersedia dengan harga yang lebih mahal. Mau tidak mau kami selalu membeli BBM eceran untuk menunjang mobilisasi.

Untuk penginapan, di sini ya gitu-gitu aja. Tidak ada yang sekelas Aston, Swiss-Bell, Hyatt, atau minimal seperti IBIS Budget. Setahu saya hanya ada “penginapan biasa” yang tetap saja di sini disebut hotel. Kebetulan saat itu kami memilih menginap di Hotel Nusantara. Jarak dari bandara dengan hotel Nusantara sangat dekat, hanya perlu jogging kurang dari 10 menit.

Harga yang ditawarkan untuk kamar model sederhana sekitar 500 ribu-1 juta. Walaupun sederhana, dijamin bakal betah karena luas kamarnya gede banget, bersih, dan sudah ada AC. Satu hal yang menjadi catatan adalah hotel ini merupakan bangunan lama dan lorongnya menyimpan aura yang mirip bangsal rumah sakit yang agak nyeremin.

Suasana Kota Nabire

Buat kalian yang suka dengan suasana slow living, Nabire pilihan yang tepat. Bahkan dari pengalaman saya, Nabire relatif lebih aman dari kegiatan demo yang sering terjadi di kota besar Papua.

Jalanan ibu kota Papua Tengah ini terlihat senggang dan mulus. Di beberapa sudut kota kita bisa menikmati kafe yang menyuguhkan kopi Papua yang punya aroma nikmat. Salah satu kafe di Nabire yang menjadi favorit saya adalah Enauto. V60 dari biji kopi Paniainya dijamin bakal membuat kita ketagihan walaupun tidak dicampur gula.

Untuk makanan tersedia berbagai macam, dan harganya “lumayan” terjangkau mengingat ini di Papua. Harga pecel lele berkisar 25-30 ribu. Coto Makassar juga tersedia 40 ribuan seporsi, dan tentu saja ikan bakar ukuran besar yang berkisar 100 ribuan.

Di hari Minggu, setiap kegiatan ekonomi harus tutup dari pagi hingga jam 12 siang untuk menghormati Perda yang mengharuskan hari Minggu pagi kegiatan full ibadah di gereja. Makanya saya sebel banget melihat oknum pendatang yang jual nasi kuning/nasi bungkus sembunyi-sembunyi dari Satpol PP. Sangat tidak menghargai slow living di Nabire dalam mencari duit.

Di Nabire toleransi berjalan selaras di tengah masyarakat. Salah satu contoh adalah diizinkannya Islamic Center yang setahu saya belum banyak ada di kota lain di Papua. Ini kan bentuk toleransi yang cukup adil dan harus dijaga di tengah masyarakat Nabire.

Kondisi unik lainnya di ibu kota Papua Tengah ini adalah razia SIM dan operasi pemeriksaan kendaraan oleh kepolisian. Semakin aneh karena polisi di Nabire memeriksa kelengkapan kendaraan seperti film-fim tentara yang menjaga kota dari penyebaran virus zombie. Vibesnya beda banget sama razia SIM di Pulau Jawa. Mosok periksa SIM saja mesti dikawal Brimob laras panjang dan rompi anti-peluru.

Ayolah TNI/POLRI, bisa yok ngurangin tekanan militer dengan masyarakat Papua. Kalau harus melakukan razia SIM, harusnya pakai polisi yang perutnya gemoy saja yang senyam-senyum melambaikan surat tilang.

Tempat wisata

 Ini yang belum banyak orang luar tahu. Nabire punya wilayah garis pantai yang panjang dan cukup indah. Kita bisa pergi ke pinggiran pantai mana saja di kota ini seperti Pantai Manase, Pantai Maaf, dan dll.

Kalau ingin lebih asri, bisa juga ke Kampung Makimi, satu jam dari pusat Nabire. Di sana ada Pantai Monalisa, pantai pasir putih dengan air laut berwarna biru kehijauan yang jernih. Selain itu, masyarakat asli Kampung Makimi secara swadaya melestarikan dan melindungi penyu belimbing dari kegiatan perburuan liar.

Saran saya, sekalian beli tukik penyu seharga 25 ribu yang dijaga masyarakat. Tukik penyu yang dibeli bukan untuk dibawa pulang tapi harus dilepaskan di laut. Itu adalah cara masyarakat Kampung Makimi mencari sumber dana eksternal dari menjaga penyu belimbing yang mereka rawat hingga menetas. Slow living banget, kan? Apalagi kalau beli lebih dari satu terus dibikin taruhan siapa tukik yang sampai duluan ke laut, dijamin waktu Anda habis untuk kegiatan slow-slow. Hehehe.

Atau coba juga pergi ke Kampung Sowa, kemudian menyewa peralatan snorkling dan speedboat untuk pergi ke Pulau Apung. Walaupun saya tidak sampai ke sana, dari informasi kenalan saya, di sana kita bisa berenang bersama hiu paus sekaligus mengelusnya.

Begitulah kehidupan di Nabire, ibu kota Papua Tengah, yang berjalan cukup santai, sederhana, tapi bermakna. Tertarik untuk berkunjung ke sana?

Penulis: Mochammad Wahyu Ghani
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Bandara Aminggaru Ilaga Papua, Bandara Penting dengan Fasilitas Paling Buruk di Indonesia.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version