Pagi itu, langit di atas Kudus masih gelap. Jam menunjukkan pukul lima lewat, dan saya sudah berdiri di depan rumah saudara dengan kunci Suzuki Swift hitam mengkilap di tangan. Mobil mungil ini—city car yang biasanya dipakai mondar-mandir di dalam kota—tiba-tiba harus menempuh rute yang paling tidak ramah: Pantura dari Kudus menuju Rembang. Sekitar 80 kilometer jalan yang konon “tak pernah mulus”.
Saya sempat ragu. Tapi janji bertemu keluarga di pantai sudah telanjur, dan tidak ada pilihan lain. “Yah, kita coba saja,” gumam saya sambil menyalakan mesin. Ternyata, hari itu menjadi ujian terberat sekaligus paling membuktikan karakter Suzuki Swift.
Keluar dari Kudus: jalan yang sudah memberi peringatan
Suzuki Swift yang saya pakai, bermesin 1.2 liter, manual, dan sudah hampir 90 ribu kilometer. Ban masih standar, suspensi belum pernah diganti. Begitu roda depan menyentuh aspal Jalan Lingkar Kudus, saya langsung merasakan getaran pertama. Lubang-lubang kecil yang tersebar seperti jerawat di wajah jalan langsung menyapa. “Ini baru pemanasan,” pikir saya. Truk-truk pasir dari arah Pati sudah mulai berderu, mengisi separuh lajur. Saya harus bermanuver cepat, menyelip di celah-celah sempit.
Swift ternyata lincah. Bobotnya ringan, setirnya responsif. Setiap kali saya menarik tuas persneling ke gigi tiga, mobil ini langsung melompat maju tanpa drama. Tapi yang membuat saya terkejut adalah peredaman suspensinya. Jalan lingkar Kudus memang terkenal rusak parah, penuh tambalan aspal yang sudah mengelupas. Setiap lubang yang saya lewati—beberapa cukup dalam sampai roda terjun bebas—saya siap mendengar “brakkk” keras dari bawah.
Ternyata tidak. Suspensi depan belakang bekerja dengan cukup baik. Guncangannya masih terasa, tapi tidak sampai membuat tulang punggung saya bergoyang-goyang seperti di mobil tua. Saya sempat berpikir, “Ini city car kok bisa segini tangguh?”
BACA JUGA: 9 Rekomendasi Mobil Bekas di Bawah 100 Juta Terbaik untuk Pemula Berkantong Cekak
Memasuki Zona Pantura: Swift melawan truk tronton dan adrenalin nyalip
Setelah melewati Ngembal, suasana berubah drastis. Pantura mulai menunjukkan taringnya. Jalan menyempit, bahu jalan hilang, dan truk-tronton pasir, semen, serta kontainer dari pelabuhan Tanjung Emas bergantian melaju. Kecepatan rata-rata mereka 60-70 km/jam, tapi saya harus menyalip kalau tidak mau terjebak iring-iringan sepanjang puluhan kilometer.
Di sinilah tenaga Suzuki Swift diuji. Mesin K12M 1.2 liter hanya 83 PS, tapi torsi 113 Nm pada 4.200 rpm ternyata cukup nakal. Ketika saya menurunkan gigi ke dua, rpm langsung naik ke 4.500, dan Swift melesat melewati truk pertama dengan cukup percaya diri. Suara knalpot kecilnya terdengar sedikit garang, seolah mobil ini bilang, “Aku kecil-kecil cabe rawit kok.”
Saya ulangi manuver itu hampir dua puluh kali sepanjang rute. Setiap kali berhasil menyalip, saya merasa seperti menang lotre. Tapi yang paling membuktikan adalah saat menghadapi tanjakan kecil. Truk di depan melambat, saya harus menyalip dari lajur kanan yang sempit. Swift tidak goyah. Akselerasinya halus, tidak ada gejala lag yang berarti. Saya sampai tersenyum sendiri di balik kemudi.
Hujan deras di tengah jalan, kabin Swift menjadi pelindung
Tepat setelah melewati Juwana, langit tiba-tiba gelap. Hujan deras mengguyur tanpa ampun. Visibilitas turun drastis. Air menyembur dari ban truk di depan, membentuk dinding air setinggi satu meter. Saya harus menyalakan lampu hazard dan mengurangi kecepatan menjadi 50 km/jam. Di saat seperti ini, biasanya city car langsung menunjukkan kelemahan: kabin berisik, air masuk lewat sambungan pintu, suspensi jadi kacau.
Suzuki Swift yang jelas bukan mobil baru justru membuktikan sebaliknya. Kaca depan dengan wiper yang cepat membuat pandangan tetap cukup jelas. Yang lebih mengesankan adalah kekedapan kabinnya. Hujan deras yang seharusnya menggelegar di atap malah teredam sangat baik. Saya hampir tidak mendengar suara air hujan yang menghantam. Hanya gemuruh mesin dan suara ban yang basah yang masuk. Bahkan angin kencang dari truk yang lewat tidak membuat mobil ini goyang berlebihan.
Yang paling membuat saya kagum adalah penumpang di baris kedua, bisa tertidur nyenyak. Padahal di belakang sana biasanya paling terasa guncangan. Dia tidur pulas selama hampir 30 menit, meski mobil sesekali terlonjak karena lubang yang tertutup air. “Kabin ini sungguh senyap,” katanya begitu bangun di dekat Rembang. Saya hanya bisa mengangguk. Isolasi suara dan getaran Suzuki Swift memang layak diacungi jempol untuk ukuran mobil sekelas ini.
Menuju Rembang: pelajaran dari perjalanan yang menyiksa
Hujan mulai reda ketika kami memasuki kawasan Rembang. Jalan mulai lebih lebar, tapi lubang-lubang tetap setia menemani. Total perjalanan memakan waktu hampir dua setengah jam—bukan karena macet, tapi karena harus ekstra hati-hati. Konsumsi BBM Swift di rute ini tercatat 13,8 km/liter (pertamax), cukup irit mengingat saya sering menyalip dan mesin bekerja keras.
Saat parkir di depan rumah keluarga, saya mematikan mesin dan langsung memeriksa bawah mobil. Tidak ada bunyi aneh, tidak ada oli menetes. Suzuki Swift tetap tenang, seolah baru pulang dari jalan-jalan santai di mall. Saya mengelus dashboard-nya seperti mengelus kepala anak kecil yang baru saja lulus ujian. “Kamu hebat hari ini,” bisik saya.
Banyak orang bilang mengendarai Suzuki Swift di Pantura adalah kesalahan besar. Saya setuju—tapi tak sepenuhnya. Ya, ini memang seperti menyiksa city car mungil di jalan yang tak pernah mulus. Tapi justru di situlah saya menemukan jati diri mobil ini. Suspensinya yang nyaman, tenaganya yang cukup untuk menyalip truk, dan kabin yang senyap bahkan saat hujan deras, membuat perjalanan yang seharusnya melelahkan menjadi cukup menyenangkan.
Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jala
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
