Informasi
ADVERTISEMENT

Menuduh PNS sebagai penyedot anggaran memang gampang, padahal kita tahu siapa yang benar-benar rakus perkara anggaran

Jadi PNS Nggak Pernah Gratis, tetap Butuh Duit  Mojok.co

Pagi tadi saat saya sedang ngopi di depan rumah sebelum berangkat ke kerja sayup suara dari televisi yang layarnya sudah bersemut. Ada seorang ibu terhormat yang duduk manis di gedung dewan bersabda dengan penuh gaya. Katanya uang negara kita ini cuma habis buat ngasih makan PNS.

Mendengar itu rasanya saya ingin melempar gorengan tempe yang baru setengah saya kunyah ke arah televisi. Kok sungguh tega orang yang fasilitas hidupnya ditanggung penuh oleh rakyat dari ujung rambut sampai ujung kaki menuduh abdi negara kelas teri sebagai lintah penyedot anggaran. Sungguh sebuah lelucon satir yang terlalu pagi untuk dicerna lambung Tuan.

Sudah menjadi rahasia umum, kalau ada proyek gagal atau janji manis menguap begitu saja, pasti PNS yang disalahkan. Mereka ibarat keset di pintu rumah kontrakan. Selalu diinjak tiap majikan pulang membawa kotoran dari luar.

Kalau bos besar yang namanya tidak perlu kita sebutkan secara gamblang itu salah bikin kebijakan maka dengan sekejap mata narasi publik dipelintir. Mendadak yang salah adalah birokrasi lamban atau alokasi dana yang tersedot untuk gaji PNS.

Padahal kita semua sadar betul siapa pihak yang rajin menghamburkan triliunan rupiah demi proyek candi zaman modern tanpa faedah jelas.

Senapan diarahkan ke sasaran yang salah

Coba bayangkan Tuan punya sebuah hajatan besar di kampung. Tuan menyewa tukang masak untuk menyiapkan hidangan bagi para tamu undangan. Namun bukannya memberi uang belanja yang cukup sang panitia utama malah sibuk menyewa panggung dangdut paling mahal dan memborong kembang api impor.

Saat tamu protes karena lauknya cuma tempe orek dan kuah sayur bening, sang panitia dengan lantang menunjuk ke arah tukang masak dan berteriak bahwa uangnya habis dimakan oleh mereka. Begitulah kurang lebih potret negara kita saat ini. PNS jabatan rendahan dituduh rakus, sementara elit politik asyik berjoget di atas panggung kemewahan tanpa rasa berdosa.

Para pejabat itu sepertinya sengaja lupa bahwa tidak semua pegawai negeri duduk nyaman di ruangan berpendingin udara. Banyak dari mereka mengabdi sebagai guru di pelosok desa perawat di balai pengobatan pedalaman atau petugas lapangan yang setiap hari kepanasan di jalan.

Gaji mereka sering kali cuma numpang lewat di rekening untuk membayar cicilan kendaraan atau melunasi utang di koperasi simpan pinjam. Menuduh mereka sebagai biang kerok jebolnya kas negara adalah sebuah penghinaan telak terhadap akal sehat masyarakat waras.

PNS bukanlah beban!

Kalau mau bicara soal beban sesungguhnya, mari kita lihat siapa pihak yang paling manja di republik ini. Para wakil rakyat itu sibuk minta mobil dinas baru, anggaran gorden jendela miliaran rupiah, hingga uang pensiun padahal masa pengabdiannya sangat singkat.

Saat mereka tertidur pulas waktu rapat, paripurna argo gaji dan aneka tunjangan tetap berjalan mulus. Sungguh tebal sekali nyali mereka saat menunjuk hidung PNS rendahan, padahal fasilitas hidup mereka sendiri jauh lebih menguras kekayaan negara. Ini merupakan ironi yang membuat kita hanya bisa membuang napas panjang.

Menjadikan PNS sebagai samsak tinju untuk menutupi kebodohan elit memang taktik politik paling gampang. Tokoh utama tetap terlihat suci bersinar bagai pahlawan turun dari langit. Sementara bawahan di lapangan babak belur menanggung dosa kebijakan yang sedari awal cacat logika.

Saya pun meminum tegukan terakhir kopi yang mulai terasa masam di dasar gelas. Suasana warung perlahan semakin riuh dan suara politisi di layar televisi akhirnya tenggelam tertimpa obrolan para warga yang lebih pusing memikirkan harga sembako meroket. Biarkan saja para penguasa itu bicara ngawur, asal kita tidak pernah lupa siapa dalang asli di balik komedi murahan ini.

Penulis: M Wahyu Agani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 September 2026 oleh .

M Wahyu Agani

Kontributor aktif media opini dan satir.

Exit mobile version