Jujur, mending hidup di Rangkasbitung daripada Kota Mandiri Maja.
Saat baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota Mandiri Maja, Lebak, saya merasakan hawa sunyi yang teramat sangat. Padahal, menurut cerita turun temurun, kawasan Lebak sempat digadang-gadang bakal disulap jadi kota industri modern andalan era Orde Baru.
Visi besar Soeharto kala itu sukses memikat pengembang sekelas Ciputra untuk membangun perumahan skala raksasa, lengkap dengan akses jalur KRL yang diandalkan setiap hari.
Akan tetapi, realitas sering kali tak berjalan mulus sesuai rencana. Bertahun-tahun berlalu begitu saja, Maja ternyata masih terasa begitu sepi, gersang, dan terisolasi dari denyut peradaban modern.
Apabila dibandingkan dengan Rangkasbitung yang berada di jalur lintasan kereta api yang sama, Kota Mandiri Maja jelas kalah telak dalam hal keramaian, kelengkapan fasilitas umum, serta geliat ekonomi harian warga.
Impian manis tentang kawasan industri megah itu runtuh seketika tanpa menyisakan apa pun. Visi besar masa lalu kini berubah wujud jadi cerita pengantar tidur siang bolong bagi para perantau yang telanjur mengambil KPR dan beli rumah di sana.
Ambisi Orde Baru untuk Kota Mandiri Maja dan janji manis properti
Dulu, rezim Orde Baru memang hobi melempar wacana megah untuk mendesentralisasi sektor industri ke wilayah-wilayah penyangga ibu kota. Maja dipilih karena dianggap strategis berkat jalur kereta peninggalan kolonial dan ketersediaan lahan kosong yang sangat luas.
Ciputra pun masuk membawa mimpi besar lewat proyek CitraMaja, berharap kawasan ini segera dimasuki deretan pabrik besar serta menyerap ribuan tenaga kerja lokal.
Sayangnya, semua itu kini tinggal janji manis belaka. Alih-alih berubah menjadi kawasan industri yang sibuk dan berdenyut 24 jam, Maja justru menjelma menjadi kota hantu versi siang hari.
Perumahan memang berdiri sangat rapi, tapi urusan perut lapar membuat orang harus mikir dua kali karena warung atau fasilitas penunjang hidup sangat minim. Mau nongkrong santai saja rasanya perlu niat yang jauh lebih kuat dibanding cari kerja.
Kalah dari Rangkasbitung yang lebih hidup
Sebagai sesama tetangga dalam satu kabupaten, Lebak, Kota Mandiri Maja benar-benar terlihat sangat jomplang jika disandingkan langsung dengan Rangkasbitung.
Rangkasbitung tampil jauh lebih manusiawi sebagai pusat pemerintahan daerah, memiliki pasar tradisional yang hidup berdenyut, hingga menyediakan berbagai tempat ngopi pilihan yang asyik bagi anak muda setempat.
Sebaliknya, Kota Mandiri Maja justru terasa seperti dimensi lain begitu rangkaian kereta api menurunkan para penumpangnya. Jarak antartitik di kawasan ini terasa begitu jauh, melelahkan, dan hampa tanpa ujung yang jelas.
KRL memang sangat menolong mobilitas untuk melarikan diri ke Jakarta, tapi begitu turun di stasiun lokal, kesunyian yang mencekik langsung menyergap dada. Setidaknya itu yang saya rasakan.
“Susah banget nyari ojek online kalau udah menjelang maghrib,”kata seorang teman.
Ilusi tata kota yang berakhir jadi dongeng
Mimpi besar untuk menjadikan Maja sebagai pusat industri penyangga ibu kota ternyata cuma angan-angan di atas kertas proyek semata. Para investor swasta tentu lebih memilih berpikir rasional dan logis ketimbang sekadar mengekor ambisi kosong penguasa masa lalu.
Akibatnya, kawasan yang telanjur dibuka secara masif itu sekarang terjebak dalam masalah infrastruktur jalan yang jalan di tempat. Perumahan berdiri megah tanpa dukungan ekosistem ekonomi yang matang, membuat para penghuninya merasa seperti sedang menjalani hukuman buang di pulau terpencil.
Pada akhirnya, ambisi besar membangun kota industri modern di tanah Lebak ini hanya menyisakan monumen kesunyian dan deretan janji kedaluwarsa.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Setelah 3 Bulan Tinggal di Depok, Saya Sadar Ternyata Depok Itu Indah Jika Bisa Menikmatinya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
