Beberapa waktu lalu saya membaca tulisannya Mas Abd. Muhaimin soal fenomena dosen yang mewajibkan mahasiswa untuk membeli buku karyanya. Pas membaca, saya akui saya merasa sangat relate dengan poin-poin yang diberikan. FYI, saya juga pernah menjadi korban beli-beli buku begitu, sejak SMP malah. Bukan LKS, lho ya, beda. Ada beberapa guru yang menulis buku ajar bersama, lalu dijual.
Bahkan pernah ada yang marah besar gara-gara ada 1 anak yang memilih fotokopi ketimbang beli. Kalau diingat, antara miris tapi kok ya lucu ada guru yang sifatnya begitu. Tapi begini, Mas Muhaimin. Saya paham fenomena ini nggak bagus. Tapi, selama saya sekolah dan kuliah rasa-rasanya hal ini nggak semenyebalkan itu kok. Saya malah senang karena beberapa hal ini.
Mahasiswa nggak perlu pusing merangkum bacaan
Oke, dosen memang sudah memberikan kontrak di awal bahwa ada beberapa referensi yang akan dipakai selama 1 semester ke depan. Semuanya terasa aman sampai akhirnya kalian ngecek setiap bukunya. Ada 5 buku berbahasa Inggris. Dan saat sudah di-download, tiap buku rata-rata 300-500-an halaman. Dan kita harus baca setiap kali sebelum pertemuan.
Pertanyaannya, lha emang kalian kalau disuruh baca semua buku itu sempat ta? Jangankan sempat wes, emang kalian mau ta?
Kalau saya sih mager ya. Udah kuliah, ngurusin organisasi dan cari magang, ini ketambahan baca buku tebal yang super mbosenin. Ya justru bagi saya hadirnya buku dosen ini bisa memudahkan kita belajar. Tinggal baca aja 1 buku, beres. Terus enaknya pakai buku dosen itu bahasa yang digunakan lebih simpel juga.
Pembelajaran lebih terarah
Sebelumnya saya bilang bahwa buku dosen bisa membantu mahasiswa untuk belajar lebih efisien. Nah sekarang gini, bayangkan 5 referensi tebal bin membosankan tadi kalian baca semua. Eh tapi pada akhirnya di PPT dosen materinya malah kemana-mana karena referesinya kebanyakan. Ketambahan kapasitas otak juga nggak secanggih Dominic Brian membuat kita makin bingung. Materi yang ini di buku mana lagi? Lha terus quiz sama UTS baca yang mana? Kelar, deh. Udah capek, paham juga nggak.
Dengan demikian, bukankah kehadiran buku dosen membuat pembelajaran lebih terarah dan terpusat? Daripada ngalor-ngidul baca semua, pusing, nggak ngerti apa-apa, mending baca 1 buku aja. Beres kan? Tentu bukannya saya mendorong kalian jadi malas, ya. Referensi itu memang wajib ada. Tapi namanya kan referensi, ya bisa kalian pakai sebagai ilmu tambahan.
Kualitas buku dosen nggak seburuk itu
Saya lihat Mas Muhaimin bilang beli buku itu seharusnya atas dasar suka. Terus bilang juga kalau bukunya ada manfaatnya, kenapa nggak beli buku tentang Gibran? Saya nggak tahu masnya ada trauma apa, tapi percayalah sejak saya SMP buku-buku “pungli” ini justru nggak ada yang mengecewakan. Betulan worth every penny.
Dulu, buku Bahasa Jawa SMP saya cetakannya bagus. Latihan soalnya banyak, layoutnya juga nggak kalah sama penerbit mayor. Terus waktu kuliah, saya ingat punya 3 buku murni karya dosen. Pertama, buku Pengantar Bahasa Indonesia. Isinya betulan daging dan detail. Lalu ada buku Second Language Acquisition. Terakhir, ada buku Cross Cultural Communication.
Parah, sih, buku yang terakhir ini saking insightful-nya masih saya simpan di rak novel karena masih saya baca. Jadi, ya lagi-lagi mungkin temannya Mas Muhaimin nggak coba baca dulu. Belum coba belum tahu, kan?
Saya paham. Fenomena jual-beli buku dosen ke mahasiswa itu memang menyebalkan. Tapi, tentu nggak semua dosen seperti itu. Saya kira masih ada lah keuntungan yang bisa kita petik meski mengurangi uang. Misalnya, kita nggak perlu capek-capek baca semua buku referensi. Mahasiswa itu nggak cuma kuliah, ada yang nyambi jadi ketua BEM, kerja, magang, dll.
Adanya 1 buku dosen ini jelas membuat belajar jadi efisien. Pembelajaran juga jadi lebih terarah karena fokus pada 1 buku. Terakhir, sebetulnya kalau kalian mau baca, buku dosen itu nggak sejelek itu. Pada akhirnya, jual-beli buku itu bagus kalau dosen nggak maksa-maksa apalagi mengancam. Perkara ilmu kok sampe jadi masalah?
Penulis: Bella Yuninda Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Berambisi Jadi Dosen biar Terpandang dan Gaji Sejahtera, Pas Keturutan Malah Hidup Nelangsa
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














