Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Membeli Bukunya Dosen Memang Menyebalkan, tapi Terkadang Memang Membantu kok

Bella Yuninda Putri oleh Bella Yuninda Putri
8 Desember 2025
A A
Membeli Bukunya Dosen Memang Menyebalkan, tapi Terkadang Memang Membantu kok

Membeli Bukunya Dosen Memang Menyebalkan, tapi Terkadang Memang Membantu kok

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisannya Mas Abd. Muhaimin soal fenomena dosen yang mewajibkan mahasiswa untuk membeli buku karyanya. Pas membaca, saya akui saya merasa sangat relate dengan poin-poin yang diberikan. FYI, saya juga pernah menjadi korban beli-beli buku begitu, sejak SMP malah. Bukan LKS, lho ya, beda. Ada beberapa guru yang menulis buku ajar bersama, lalu dijual.

Bahkan pernah ada yang marah besar gara-gara ada 1 anak yang memilih fotokopi ketimbang beli. Kalau diingat, antara miris tapi kok ya lucu ada guru yang sifatnya begitu. Tapi begini, Mas Muhaimin. Saya paham fenomena ini nggak bagus. Tapi, selama saya sekolah dan kuliah rasa-rasanya hal ini nggak semenyebalkan itu kok. Saya malah senang karena beberapa hal ini.

Mahasiswa nggak perlu pusing merangkum bacaan

Oke, dosen memang sudah memberikan kontrak di awal bahwa ada beberapa referensi yang akan dipakai selama 1 semester ke depan. Semuanya terasa aman sampai akhirnya kalian ngecek setiap bukunya. Ada 5 buku berbahasa Inggris. Dan saat sudah di-download, tiap buku rata-rata 300-500-an halaman. Dan kita harus baca setiap kali sebelum pertemuan.

Pertanyaannya, lha emang kalian kalau disuruh baca semua buku itu sempat ta? Jangankan sempat wes, emang kalian mau ta?

Kalau saya sih mager ya. Udah kuliah, ngurusin organisasi dan cari magang, ini ketambahan baca buku tebal yang super mbosenin. Ya justru bagi saya hadirnya buku dosen ini bisa memudahkan kita belajar. Tinggal baca aja 1 buku, beres. Terus enaknya pakai buku dosen itu bahasa yang digunakan lebih simpel juga.

Pembelajaran lebih terarah

Sebelumnya saya bilang bahwa buku dosen bisa membantu mahasiswa untuk belajar lebih efisien. Nah sekarang gini, bayangkan 5 referensi tebal bin membosankan tadi kalian baca semua. Eh tapi pada akhirnya di PPT dosen materinya malah kemana-mana karena referesinya kebanyakan. Ketambahan kapasitas otak juga nggak secanggih Dominic Brian membuat kita makin bingung. Materi yang ini di buku mana lagi? Lha terus quiz sama UTS baca yang mana? Kelar, deh. Udah capek, paham juga nggak.

Dengan demikian, bukankah kehadiran buku dosen membuat pembelajaran lebih terarah dan terpusat? Daripada ngalor-ngidul baca semua, pusing, nggak ngerti apa-apa, mending baca 1 buku aja. Beres kan? Tentu bukannya saya mendorong kalian jadi malas, ya. Referensi itu memang wajib ada. Tapi namanya kan referensi, ya bisa kalian pakai sebagai ilmu tambahan.

Kualitas buku dosen nggak seburuk itu

Saya lihat Mas Muhaimin bilang beli buku itu seharusnya atas dasar suka. Terus bilang juga kalau bukunya ada manfaatnya, kenapa nggak beli buku tentang Gibran? Saya nggak tahu masnya ada trauma apa, tapi percayalah sejak saya SMP buku-buku “pungli” ini justru nggak ada yang mengecewakan. Betulan worth every penny.

Baca Juga:

Dosen yang Mewajibkan Mahasiswa Beli Bukunya Sendiri Itu Kenapa, Sih?

Dulu, buku Bahasa Jawa SMP saya cetakannya bagus. Latihan soalnya banyak, layoutnya juga nggak kalah sama penerbit mayor. Terus waktu kuliah, saya ingat punya 3 buku murni karya dosen. Pertama, buku Pengantar Bahasa Indonesia. Isinya betulan daging dan detail. Lalu ada buku Second Language Acquisition. Terakhir, ada buku Cross Cultural Communication.

Parah, sih, buku yang terakhir ini saking insightful-nya masih saya simpan di rak novel karena masih saya baca. Jadi, ya lagi-lagi mungkin temannya Mas Muhaimin nggak coba baca dulu. Belum coba belum tahu, kan?

 Saya paham. Fenomena jual-beli buku dosen ke mahasiswa itu memang menyebalkan. Tapi, tentu nggak semua dosen seperti itu. Saya kira masih ada lah keuntungan yang bisa kita petik meski mengurangi uang. Misalnya, kita nggak perlu capek-capek baca semua buku referensi. Mahasiswa itu nggak cuma kuliah, ada yang nyambi jadi ketua BEM, kerja, magang, dll.

Adanya 1 buku dosen ini jelas membuat belajar jadi efisien. Pembelajaran juga jadi lebih terarah karena fokus pada 1 buku. Terakhir, sebetulnya kalau kalian mau baca, buku dosen itu nggak sejelek itu. Pada akhirnya, jual-beli buku itu bagus kalau dosen nggak maksa-maksa apalagi mengancam. Perkara ilmu kok sampe jadi masalah?

Penulis: Bella Yuninda Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Berambisi Jadi Dosen biar Terpandang dan Gaji Sejahtera, Pas Keturutan Malah Hidup Nelangsa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Desember 2025 oleh

Tags: buku Cross Cultural Communicationbuku dosenbuku pengantar kuliahbuku terbitan dosen
Bella Yuninda Putri

Bella Yuninda Putri

Seorang Gen Z. Doyan menulis nonfiksi, fiksi, sampai puisi. Suka membahas topik seputar budaya, bahasa, dan keseharian di masyarakat.

ArtikelTerkait

Dosen yang Mewajibkan Mahasiswa Beli Bukunya Sendiri Itu Kenapa, Sih?

Dosen yang Mewajibkan Mahasiswa Beli Bukunya Sendiri Itu Kenapa, Sih?

7 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor

Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor

27 Maret 2026
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026
Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel Mojok.co

Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel

27 Maret 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya
  • Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja
  • User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan
  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.