Membedah Langit Abu-Abu dan Lagu Lain Milik Tulus: Sosok yang Datang Saat Ada Perlu, Lalu Hilang Entah Kemana

Artikel

Rode Sidauruk

Siapa bilang lagu-lagu Tulus semuanya adalah bentuk rayuan atau sindiran tentang cinta? Salah besar kalau kita menganggap benar hal tersebut. Lagu Langit Abu-Abu, misalnya, aku malah melihat bahwa lagu puisi ini memiliki makna satire for those who love to come and go as they wish.

Tak mungkin secepat itu kau lupa air mata sedihmu kala itu

Well, ingat nggak pernah datang sambil mewek-mewek karena teteh-teteh warteg nagih utangmu yang sudah numpuk selama empat semester?

Mengungkapkan semua kekurangannya, semua dariku yang tak dia punya

Punya temen lama yang gak bisa diharapkan minjem uang buat bayar utang, trus bilang ke aku kalau dia pelit dan nggak sedermawan aku—biar dipinjemin duit buat bayar utang di warteg. Gimana nggak luluh coba dipuji-puji gitu, apalagi kalau sudah dibandingkan dengan temannya itu?

Daya pikat yang memang engkau punya, sungguh-sungguh ingin aku lindungi.

Yah, gimanapun juga kau itu salah satu orang berharga bagiku, my first-day di dunia rantau ini. Nggak tega juga kalau sampai perutmu kosong sampai empat semester berikutnya.

Dan setelah luka-lukamu reda, kau lupa aku juga punya rasa

Utangmu lunas dibayar dengan pinjaman uangku minggu lalu. Tau-taunya, minggu ini gantian aku yang kehabisan rupiah untuk ngeprint tugas. Kutelepon, awalnya berdering, lalu senyap. Kuulangi dan …

Lalu kau pergi kembali dengannya, aku pernah menyentuhmu apa kau malu

… suara operator di seberang berucap nomor yang anda tuju sedang having fun dengan teman lamanya. Ya gitu ya, dulu bilangnya aku yang terbaik, dia pelit. Sekarang, situasimu sudah aman, mainnya balik lagi ke dia. Nggak malu, yah? Aku juga punya perasaan—perasaan ingin menagih utang.

Di bawah basah langit abu-abu, kau di mana?

Di lengannya malam menuju minggu, kau di mana?

Iya, kau di mana di masa suramku? Aku lagi butuh kau lebih dari uangmu. Aku butuh kehadiranmu saat ini. Kehadiranmu dan nyalimu yang luar biasa itu di warnet ini untuk bantu bilang ke aa’-nya biar dibolehin ngutang—setidaknya kalau kau pun tak punya uang.

Baca Juga:  Mungkinkah Nembak Gebetan dengan Tingkat Keberhasilan Sampai 99,99%?

Kadang dering masih ada namamu, beberapa pesan singkat untukku

Hmm, hari ini, setelah kejadian keabsenanmu di masa print tugasku waktu itu, kau masih mengujiku dengan telpon dan textmu. Ada apa lagi? Apa warteg itu masih menagih isi perutmu?

Entah apa maksudmu yang kutahu sayangimu aku telah keliru

Nyesel akutuh pernah meladeni orang kayak dirimu.

Ayo tulis di buku harianmu, kelak jelaskan bila engkau punya waktu

Daripada menerorku dengan pesan WhatsApp yang hanya akan aku read, mending kirim aja deh ke emailku atau nulis Terminal Mojok untuk memberi kejelasan atas semua keanehan ini.

Di bawah basah langit abu-abu, kau di mana?

Di lengannya malam menuju minggu, kau di mana?

Hayo, kau di mana? Udah ganti cuaca dan hari, kok susah banget sih jelasin kau di mana aja. Aku butuh clarity atas semua misteri ini.

Bertemukah kau dengan sang puas, benar senangkah rasa hatimu?

Udah puas? Udah senang? Puas dan senang pernah datang pas ada perlunya aja dan ninggalin pas urusanmu dengan teteh warteg kelar?

 

Udah deh, nggak usah jadi orang yang datang nangis-nangis, nyeritain keburukan orang lain dan membandingkannya denganku, lalu kau pergi gitu aja pas lukamu sudah terbalut di saat lukaku masih panas-panasnya. Trus tiba-tiba memulai percakapan virtual dengan maksud yang sulit dipahami. Udah kenalan dengan si puas? Gimana orangnya? Memuaskankah?

Jangan suka datang pas ada perlunya aja. Sekali-kali, bantu orang lain juga ngapa. Coba sehari saja kau jadi diriku, satu hari saja … cuma sehari kok, serius sehari. Biar kau mengerti bagaimana kumelihatmu, mengagumimu, dari sudut pandangku. Melihat dan mengagumi kegokilanmu datang saat ada perlunya dan pergi saat perlunya sudah terpenuhi.

Baca Juga:  Sudah Saatnya Berhenti Menggunakan Istilah Pelakor dan Pebinor

Seandainya satu hari bertukar jiwa, yah, kita. Jadi sama-sama ngerasain gitu gimana rasanya butuh seseorang di masa-masa suram. hehe

Nggak apa-apa engkau lupakan aku, semua usahaku, semua pagi kita, semua malam kita. Tapi jangan perlakukan itu  kepada orang-orang selain aku, yah. Semoga berbahagia, orang-orang yang datang dan pergi semaunya. (*)

BACA JUGA Meresapi Lirik Lagu Tik Tok: Maknanya Dalem, Cuy! atau tulisan Rode Sidauruk lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
5


Komentar

Comments are closed.