Respons pertama kawan-kawan langsung kaget ketika tahu saya yang kelahiran Surabaya ini harus merantau ke Medan. Bagaimana tidak, di media sosial berseliweran “keseruan” warga yang hidup di sana. Mulai dari konten pengendara saling maki di jalan hingga video kelakuan rayap besi yang di luar nalar.
Setahun merantau di Medan, saya bisa mengonfirmasi gelar tadi memang layak disematkan ke Kota Para Ketua ini. Bukan karena orang-orangnya, melainkan karena institusinya. Penegakan hukum setengah-setengah dan aparatnya tidak berdaya. Sama seperti Gotham City yang pada akhirnya mengandalkan pahlawan bertopeng untuk menjadi penyelamat. Hanya bedanya, di Medan tidak ada Batman.
Walaupun saya menemukan kawan-kawan terbaik selama di sana, dengan berat hati saya harus mengakui kalau saya sangat lega dan bersyukur akhirnya pulang ke Surabaya. Kota Medan tidak pernah benar-benar serius diurus dan setidaknya ada tiga hal yang bisa dijadikan bukti.
Ketika pertama kali mendaratkan kaki di Medan, saya langsung disuguhi adegan laga mencekam. Dalam perjalanan menuju hotel, terdapat dua juru parkir yang saling berebut mobil untuk diparkirkan di lahan kekuasaannya. Teriakannya yang diikuti dengan makian khas Medan menggema.
Entah setan mana yang merasuki mereka, tiba-tiba saja keduanya sudah hampir adu jotos. Beruntung pikiran mereka langsung teralihkan karena tidak lama berselang, datang mobil lain yang hendak parkir. Parkir di lahan yang bahkan bertuliskan “dilarang parkir”.
Parkir liar tumbuh subur di Medan dan Dishub membiarkannya
Ternyata selama satu tahun menghuni Kota Medan, pemandangan tadi bukan jadi yang terakhir kalinya. Lahan-lahan yang tidak seharusnya digunakan sebagai parkiran sangat mudah ditemui.
Saking banyaknya, malah mungkin lebih mudah ditemui ketimbang Indomaret dan Alfamart. Perlu saya tegaskan, yang saya persoalkan bukan orangnya, melainkan tempatnya. Sering kali keberadaannya tidak tahu tempat. Misal, di depan RS Murni Teguh dari Jalan Veteran sampai ke Jalan Timur.
Jalan itu cukup ramai karena menghubungkan Jalan Irian Barat dan Jalan H.M. Yamin, dan selalu macet ketika jam pulang kantor. Kondisi yang sudah parah makin dibuat ruwet dengan sejumlah parkir liar di sepanjang ruas jalan.
Selain bikin jalan semakin sempit, hak pejalan kaki juga kena embat lantaran trotoarnya ikut dipakai. Yah, semoga saja tidak ada ambulans yang harus lewat di jam-jam ramai.
Saya tidak yakin keberadaan parkir liar bisa segera hilang dari Bumi Medan. Karena seringkali pengendara tidak punya pilihan lain untuk parkir di tempat yang tidak seharusnya.
Mirisnya, tidak jarang saya lihat mobil Dinas Perhubungan melewati parkir-parkir liar tersebut dan tidak ada tindakan apa-apa. Bahkan, beberapa kali saya sempat melihat orang Dinas Perhubungan malah mencoba mengatur lalu lintas di jalan sempit yang terdampak tadi daripada mencoba menertibkannya. Edan.
Tunawisma di mana-mana, Dinsos entah kemana
Di antara semua kota yang pernah saya kunjungi, paling mudah menemukan tunawisma di Medan. Terlihat hampir di setiap sudut kota. Orang tua berpakaian lusuh berjalan tanpa arah, seorang ibu bersama bayinya yang duduk dengan tatapan kosong di bawah lampu merah, dan yang paling membekas, remaja sebatang kara tanpa alas kaki yang tidur di pinggiran toko.
Setiap mengunjungi gerai ayam cepat saji di depan kos daerah Adam Malik, makan siang saya selalu ditemani seorang remaja tunawisma. Dia tidur meringkuk di sebelah mesin drive thru. Padahal jelas dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 tertulis fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
Awalnya saya mau berhusnuzan. Mungkin sebetulnya Dinas Sosial Kota Medan punya program untuk mengatasi masalah ini. Namun, semakin dipikir, malah semakin tak masuk akal.
Saya menetap di tengah kota dan masih melihat tunawisma sebanyak itu. Remaja tadi masih meringkuk di tempat yang sama setiap kali saya makan di sana. Jadi, beneran jalan nggak sih program mereka?
