Informasi
ADVERTISEMENT

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

“Rayap besi” menggerogoti Kota Medan

Saya pikir maling besi di Surabaya sudah barbar. Rupanya final boss-nya ada di Medan. Videonya berseliweran di internet dan itu saja sudah cukup jadi bukti seberapa parah kondisinya. Yang masih membuat saya kagum adalah keberanian, kecepatan, dan ketepatan mereka bekerja. 

Saking seringnya mendengar cerita soal mereka, lirik lagu parodi itu kadang masih terngiang di kepala saya “di antaraku dan besi… di antaraku dan besi…”

Beberapa kali saya memergoki langsung mereka beraksi di siang bolong dan dilakukan di tempat ramai seperti jalan raya utama. Tidak tanggung-tanggung, objek curiannya di level aset negara mulai dari kursi taman, kabel listrik, sampai tiang listrik. 

Mereka ini seringkali mencuri pagar dari rumah yang sedang ditinggal penghuninya. Entah darimana informasinya, pokoknya mereka selalu tepat mengetahui mana rumah sedang kosong dan mana yang tidak. Kejadiannya begitu cepat. Tahu-tahu, pulang dari liburan, halaman depan tinggal menyisakan pintu masuk ke rumah. 

Upaya-upaya untuk membuat jera “rayap besi” seringkali tidak membuahkan hasil dan malah dibalas dengan perlawanan sengit dari para pelaku. 

Seperti yang pernah viral pada tanggal 11 Juni 2026 lalu. Kejadiannya dekat sekali dengan tempat saya ngekos, tepatnya di Jalan Gatot Subroto Kota Medan depan showroom mitsubishi. Seorang personel Gegana Brimob berusaha menghentikan dua pria yang sedang memotong kabel lampu penerangan jalan. 

Bukannya kabur, salah satu pelaku malah balik menantangnya berkelahi. Masalahnya, kedatangan polisi di lokasi bukan dari patroli rutin. Melainkan laporan dari Satpam Showroom. Pelakunya pun baru diringkus keesokan harinya setelah videonya viral. 

Pihak berwenang tidak benar-benar hadir

Kalau ditarik benang merahnya, intinya satu. Institusi yang berwenang ada, namun tidak pernah benar-benar hadir menyelesaikan masalah sampai ke akar. Julukan Gotham City rasanya tidak berlebihan. Sebetulnya semua kejadian tadi bukanlah sesuatu yang baru. Masa perlu tunggu Batman datang baru bisa teratasi? Itulah alasan kenapa saya lega akhirnya pulang kampung ke Surabaya. Saya cuma bisa berharap, semoga tulisan ini tidak lagi relevan di kemudian hari. 

Penulis: Arief Rahman Nur Fadhilah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2026 oleh .

Arief Rahman Nur Fadhilah

Sedang menempuh S2 Psikologi Unair sembari merantau di Medan. Penikmat sunyi yang diam-diam takut ditinggal sendiri