Masa Depan Bumi Bisa Jadi Ada di Pundak Penggemar K-Pop

Masa Depan Bumi Bisa Jadi Ada di Pundak Penggemar K-Pop Terminal Mojok

Masa Depan Bumi Bisa Jadi Ada di Pundak Penggemar K-Pop (Shutterstock.com)

Menjadi penggemar musik dan idola Korean Pop (K-Pop) semakin hari kayaknya semakin menantang. Dulu, image atau citra para penggemar K-Pop selalu identik dengan hal-hal yang kurang enak seperti alay, norak, berisik, boros, labil, penggila plastik, dan lainnya, kecuali pelakor. Gimana ya, kalaupun ada niat jadi selingkuhan atau merebut laki orang, standar kami kadung lebih tinggi dari cita-cita kalian. Minimal setampan Cha Eun Woo atau V BTS, barulah kami ada niat untuk selingkuh.

Jangankan jadi selingkuhan, diputusin atau dikhianati pacar saja kami nggak perlu berlama-lama untuk bangkit dan move on. Dalam hitungan hari atau pekan, biasanya kami tersadar, “Dih, di dunia ini masih ada Oh Sehun, ngapain nangisin cowok yang kayak Oh Setan?”

Oke, balik lagi ke citra penggemar K-Pop. Seiring makin masifnya racun budaya Korea, jumlah penggemar yang bisa membedakan wajah para penyanyi tampan dan cantik dari Korea pun hampir memadati bumi. Dari 7,7 miliar penduduk bumi, sekitar 8 miliarnya adalah penggemar K-Pop. Ha, kok bisa lebih banyak? Soalnya satu penggemar K-Pop bisa punya sampai 10 kloningan akun untuk berjihad membela idola di media sosial. Nah, 8 miliar penggemar K-Pop itu—berdasar hitungan ngadi-ngadi tadi—belakangan punya citra dan peran yang diharapkan bisa membuat dunia menjadi lebih baik di masa depan.

Sejak kapan K-Popers punya citra dan peran yang diharapkan bisa membuat dunia jadi lebih baik?

Sejak dunia terbuka matanya bahwa penggemar K-Pop bisa berbuat nyata dan menyuarakan kebenaran tanpa kepentingan apa pun. Penggemar K-Pop nggak punya kepentingan politik (kecuali kalau Choi Si Won atau Kim Nam Joon mau maju jadi presiden, kami siap jadi tim sukses!).

Majalah TIME edisi terbaru bahkan menjadikan K-Pop sebagai cover dan liputan utama, 80 halaman penuh. Dalam salah satu topik liputannya, TIME membahas khusus soal “Fans as a Force for Activism”.  Ditulis sebanyak 6 halaman, topik ini mengupas khusus aksi para penggemar K-Pop yang sudah masuk kategori sebagai “aktivis”.

Yup, citra terbaru penggemar K-Pop saat ini adalah dilihat sebagai aktivis. Sebagai kelompok yang bisa bergerak memperjuangkan isu-isu yang krusial seperti HAM, lingkungan, kesehatan, kesetaraan, dan menjadikan lagu terbaru TWICE trending topic di Twitter (ya maaf, itu juga krusial buat kami).

Aksi sosial politik penggemar K-Pop yang sangat fenomenal di Amerika Serikat misalnya saat mereka memborong tiket kampanye Donald Trump pada Juni 2020, tapi tidak ada satupun yang hadir. Masih di bulan yang sama, para K-Popers kembali mengeluarkan jurus andalan mereka untuk aksi #Blacklivesmatter. Bahkan ketika boyband BTS berdonasi US$ 1 juta untuk #Blacklivesmatter, fans BTS yang dijuluki ARMY juga tak mau kalah dan sama-sama berdonasi dengan jumlah serupa.

Di Indonesia bagaimana?

Awal 2020, saya ditanya oleh beberapa jurnalis. Mereka penasaran, siapa yang menggerakkan dan mengkoordinir para penggemar K-Pop dalam gerakan aksi demonstrasi menolak Omnibus Law, pelemahan KPK, dan juga Revisi KUHP pada September 2019 lalu. Saya jawab, nggak ada.

Percayalah, penggemar K-Pop paling pantang dimobilisasi, kecuali untuk urusan antrean beli tiket konser dan proyek mendukung idola mereka. Dari ratusan ribu pemuda-pemudi yang turun ke jalan dan aksi viral lainnya yang cukup menyentil pembuat kebijakan, semua itu berangkat dari kesadaran para penggemar K-Pop akan nilai-nilai yang mereka yakini perlu ditegakkan. Selama apa yang dikampanyekan itu baik dan benar, Insya Allah penggemar K-Pop akan membantu menyuarakannya.

Jauh sebelum disorot oleh media, penggemar K-Pop toh sudah banyak berbuat meski menggunakan nama idola mereka. Tahun 2016 misalnya, penggemar Super Junior di seluruh dunia patungan untuk membangun 16 sekolah di Afrika.

K-Popers #RacetoZero

Salah satu isu yang sebenarnya sudah digaungkan oleh kawan-kawan penggemar K-Pop, tapi kurang begitu menggema adalah isu terhadap lingkungan.

Sekitar 8 bulan sebelum the 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26) atau COP26 digelar di Glasgow, gerakan penggemar K-Pop untuk mengangkat isu perubahan iklim, yakni Kpop4planet, muncul ke permukaan. Nggak main-main, lho. Gerakan yang diinisiasi oleh remaja Indonesia, Nurul Sarifah, ini sampai diliput oleh media-media internasional seperti Japan Times, SCMP, The Straits Times, dan Reuters.

Kalau ditanya, apa semangat para penggemar K-Pop sampai bikin gerakan-gerakan seperti ini? Sebenarnya sih gampang, gimana kita mau bilang menghirup udara yang sama dengan Lisa BLACKPINK atau Taeyong NCT, kalau ternyata yang kita hirup itu cuma debu-debu polusi. Hiks, sedih.

Sebelum lahir gerakan Kpop4planet, apakah penggemar K-Pop kurang “aware” soal isu lingkungan? Nggak juga, ya. Seperti yang sudah disampaikan di atas, penggemar K-Pop bisa bergerak serentak tapi jarang terkoordinir. Nah, itu yang terjadi dengan aksi-aksi amal baik mereka.

Sejak bertahun-tahun lalu, penggemar K-Pop sudah berdonasi dengan misalnya gerakan menanam pohon untuk merayakan ulang tahun idola mereka. Maret tahun lalu, fans Suga BTS di Indoneia menyelenggarakan proyek transplantasi terumbu karang untuk merayakan ulang tahun idolanya, lho. ARMY Indonesia juga menanam sebanyak 8.700 pohon bakau pada tahun lalu untuk merayakan ulang tahun Jimin BTS! Riak-riak kecil soal isu lingkungan ini diharapkan bisa menjadi ombak perubahan yang besar.

Nah, harapan akan ombak ini mulai muncul tepat pada 6 Desember 2021. Sebanyak 10 ribu penggemar K-Pop dari 83 negara sukses membuat petisi agar industri K-Pop yang mendunia ini menjadi industri yang berkelanjutan.

WOW… WOW…

Kebayang nggak sih, industri hiburan terbesar saat ini—menurut TIME—diminta menjadi industri yang berkelanjutan? Kalau ini sampai sukses, industri-industri lainnya yang selama ini berkelit untuk menjalankan bisnis secara berkelanjutan perlu kita lempar lightstick rame-rame.

Melansir dari Korea Times, petisi penggemar K-Pop dari 83 negara sukses ditindaklanjuti ke pemerintah Korea Selatan yang akhirnya menggelar konferensi untuk membahas “Sustainable K-entertainment” di gedung parlemen mereka. Salah satu permintaan penggemar K-Pop adalah mengurangi penggunaan plastik.

Terus, apa artinya idola K-Pop nggak boleh operasi plastik lagi?

HEH! Bukan begitu konsepnyaaa…

Maksudnya adalah mengurangi penggunaan plastik dalam produksi barang-barang seperti CD album, kaset, vinyl, dan merchandise lainnya. Kalian pernah kan pesan album CD idola kalian yang—Allohu Akbar—bubblewrap-nya bisa bungkus aib tetangga? Selain itu, para penggemar juga meminta pengurangan jejak karbon dalam pelaksanaan konser para idola, caranya bisa dengan menghindari penggunaan jet pribadi saat menggelar konser sampai pemanfaatan energi baru dan terbarukan untuk penerangan konser. Bisa juga dengan nggak perlu lagi ada kembang api atau petasan kertas yang berujung jadi sampah begitu konser berakhir.

Pasti bisa, pasti ada jalan. Contohnya sudah dilakukan oleh Chung Ha, penyanyi K-Pop yang pernah duet dengan Rich Brian. Album Chung Ha yang bertajuk Querencia dipuji karena menggunakan kemasan yang ramah lingkungan, lho.

Petisi penggemar K-Pop dari 83 negara itu disuarakan langsung oleh fans sekaligus aktivis bernama Lee Da Yeon di hadapan para anggota parlemen yang hadir. Blio meminta label-label raksasa seperti SM Entertainment, YG Entertainment, dan HYBE menggubris petisi ini dan bergabung dalam gerakan hijau untuk generasi mendatang. “K-Pop tiada jika bumi ini mati,” begitu pesannya.

Permintaan fans K-Pop ini segendang sepenarian dengan sikap para idolanya. Maksudnya, fans dan idola sebenarnya sama-sama ingin lingkungan dan bumi yang lebih baik.

Itulah sebabnya BLACKPINK menerima pinangan Persatuan Bangsa-Bangsa/PBB—yang bukan partai—untuk menjadi duta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yang salah satunya juga menekankan isu lingkungan dan perubahan iklim. Selain BLACKPINK, PBB juga memilih girlband Red Velvet untuk jadi duta Hari Udara Bersih Internasional pada 2020 lalu.

Sahabatnya Raffi Ahmad, Choi Si Won, yang menjadi duta UNICEF juga nggak berhenti mengampanyekan untuk menjaga lingkungan dan planet yang kita huni demi kehidupan generasi masa depan yang lebih baik. Kalau generasi kita menjadi lebih baik, siapa tahu di masa depan anak cucu kita bisa berjodoh dengan anak cucu Si Won. Eh. Halu saja dulu, nggak apa-apa~

Lalu, selain petisi di atas, aksi apalagi yang bisa kita lakukan untuk menjadikan bumi lebih baik? Banyak banget!

Tetapi pertama, kita perlu tahu bahwa pemerintah sudah menegaskan komitmennya untuk menekan emisi dan mencapai net zero emission atau karbon netral pada 2060. Peta jalan dan desain akbarnya jelas sudah ada, mulai dari hilirisasi industri pertambangan, transisi ke energi yang ramah lingkungan, penyusunan rencana penyediaan usaha tenaga listrik terhijau yang pernah ada, dan lainnya. Nggak cuma pemerintah pusat, pemerintah daerah seperti Pemerintah DKI Jakarta juga memiliki program seperti #JakartaSadarSampah dan #Jakartalangitbiru.

Tugas kita, sebagai penggemar K-Pop yang kini memiliki citra sebagai basis penggemar berhati mulia dan berjiwa aktivis (berat ya, Bund), bisa mulai mendukung dengan hal-hal kecil. Misal, kalau kamu tertarik dalam pengembangan energi baru dan terbarukan, kamu bisa ikutan program dari Kemendikbudristek dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) yang bertajuk GERILYA atau Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya untuk belajar langsung cara merakit PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) sampai cara pengelolaan bisnisnya. Praktis, Sis!

Eh, tapi itu terlalu berat, ya?

Ya sudah, dari hal kecil, ya. Misalnya, kalau kalian sudah selesai isi daya handphone atau laptop buat fangirling, jangan lupa cabut colokan listriknya. Hemat penggunaan listrik juga kunci untuk menjaga lingkungan, lho!

Atau kalau kalian punya kendaraan, beralih ke bahan bakar yang emisi gasnya lebih bersih dan lebih ramah lingkungan juga bisa. Jangan pakai barang subsidi jika mampu, sudah gitu pas harga bensin naik malah ngamuk-ngamuk. Gimana mau beralih ke bahan bakar yang ramah? Lebih bagus lagi kalau sering pakai transportasi umum.

Aksi-aksi positif lainnya yang sudah kalian lakukan seperti rehabilitasi terumbu karang, reforestasi atau penanaman pohon-pohon, penanaman pohon-pohon bakau, aksi peduli bencana alam, tetap kita teruskan, Gaes. Pokoknya tetap semangat meski beban di pundak kita sebagai penggemar K-Pop semakin berat!

Suatu saat nanti, kalau ada yang iseng bertanya, “Ah, emangnya penggemar K-Pop bisa apa?” Kita bisa tuh kasih daftar panjang sederet aksi yang telah kita lakukan atas nama kemanusiaan dan masa depan planet kita. Bermula dari mencintai idola, lalu berlanjut mencintai diri kita, sesama, dan bumi beserta seluruh isinya.

Yok, kita mulai dan dukung!

Penulis: Gustidha Budiartie
Editor: Intan Ekapratiwi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version