Kalau boleh jujur, sudah muncul dalam diri saya bibit-bibit keengganan untuk menulis apapun soal Malang. Mau itu soal kebijakan, kelakuan pejabat dan warganya, hingga soal remeh-temeh seperti tips berwisata. Semakin lama semakin muak, karena mau ditulis (dikritik) seperti apa pun, nggak akan ada yang berubah dari kota ini. Kota yang katanya identik dengan dingin dan asri ya bakal gitu-gitu aja.
Namun, entah mengapa bibit keengganan menulis soal Malang itu mudah mati. Mungkin karena rasa gemas yang nggak bisa dibiarkan begitu saja, atau mungkin karena rasa kepedulian saya terhadap kota ini. Apalagi ketika Malang (baik pemerintah dan warganya) selalu jualan hawa dingin, lingkungan asri, dan ketenangan. Saya merasa gemas, dan nggak bisa kalau nggak menuliskannya.
Sudah sejak lama Malang jualan soal hawa dingin, lingkungan asri, dan ketenangan. Semua itu kerap bersanding (bahkan berpadu) dengan statusnya sebagai kota pelajar. Paduan ini jadi kombinasi yang manjur untuk menarik para pendatang, khususnya para pelajar (mahasiswa) yang bingung mau kuliah di mana. Sederhananya, kalau mau kuliah dengan nyaman, yang hawanya dingin dan lingkungannya asri, ya, ke Malang saja.
Jualan yang basi dan semakin nggak nyambung lagi
Bicara Malang yang dingin dan asri, tentu akan nyambung kalau kita mengaitkannya dengan Malang era kolonial sampai awal 2000-an. Saat itu memang masih dingin dan masih asri. Juga masih nyaman untuk ditinggali, baik itu untuk selamanya, untuk liburan, maupun untuk merantau bagi para pelajar.
Kalau bicara di era sekarang, apalagi dalam 10-15 tahun terakhir, kota ini semakin nggak layak untuk dikaitkan dengan hawa dingin, lingkungan asri dan nyaman. Kenyataannya memang berkata sebaliknya, kok. Malang makin panas, makin padat, makin nggak asri, dan makin nggak nyaman. Entah itu untuk warga, maupun untuk pendatang.
Coba saja kalian menyelam di internet atau tanya langsung ke masyarakat soal keluhan mereka yang tinggal di Malang. Soal hawa, mereka mengeluhkan bagaimana kota ini sudah nggak sedingin dulu. Soal keasrian, mereka juga mengeluh bahwa kota ini makin padat, lahan hijau makin berkurang, seakan makin sulit untuk “bernapas”. Soal kenyamanan, makin banyak orang (khususnya mahasiswa perantau) yang merasa kota ini makin nggak nyaman.
Dinginnya Malang itu hanya di bulan Juli-Agustus saja
Malang itu punya jadwal dingin. Maksudnya, ada waktu-waktu tertentu di mana kota ini akan terasa dingin. Bulan Juli dan Agustus adalah waktu di mana Malang sedang dingin-dinginnya. Suhunya bisa sampai 18 derajat atau di bawahnya. Di bulan-bulan itu, mahasiswa baru mulai berdatangan. Makanya, banyak orang yang menganggap dinginnya Malang di bulan-bulan itu adalah sambutan kepada para pendatang.
Sayangnya, dinginnya Malang ya cuma di bulan-bulan itu saja. Masuk bulan September sampai Juni, kota ini kembali panas. Di musim hujan pun kadang masih terasa panas. Suhunya bisa berada di atas 25 derajat, lebih tinggi dari suhu rata-rata Malang yang sekitar 22-24 derajat. Bahkan nggak jarang suhu sampai menyentuh 32 derajat.
Suhunya memang masih di bawah Surabaya, tapi untuk daerah yang terkenal dengan dinginnya, Malang yang sekarang jelas jauh berbeda.
Lahan hijau berkurang, keasrian juga ikut berkurang
Selain suhu yang makin panas, salah satu masalah di Malang adalah makin berkurangnya lahan hijau. Masalah ini sudah sering sekali saya singgung di banyak tulisan, dan entah mengapa masih gitu-gitu aja. Masih belum ada penambahan lahan hijau atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) secara signifikan, dan yang ada malah semakin berkurang.
Padahal, Malang sudah mengatur ketersediaan RTH. Melalui Perda Kota Malang Nomor 6 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2022-2042, pemerintah kota menargetkan 30 persen wilayah kota sebagai RTH. Angka 30 persen ini terbagi menjadi dua, di mana 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH swasta.
Bagaimana kenyataan di lapangan? Tentu masih jauh dan belum sesuai. Per tahun 2026, persentase RTH di Kota Malang masih di bawah 20 persen. Angka ini masih jauh dari target yaitu 30 persen. Ini diperparah dengan adanya pemangkasan anggaran pemeliharaan dan perawatan RTH di tahun 2026. Jadi, ya, GWS aja, deh.
Berkurangnya lahan hijau jadi salah satu alasan utama mengapa Malang sudah nggak asri lagi. Bayangkan saja, tanah yang tadinya dipenuhi pepohonan dan tumbuhan hijau, berubah menjadi beton-beton, menjadi bangunan-bangunan.
Malang masih nyaman? Ah, nggak juga
Malang sudah nggak dingin dan sejuk lagi, juga sudah nggak asri lagi. Kalau situasinya begini, apakah masih layak disebut sebagai kota yang nyaman? Apakah masih layak untuk jualan kenyamanan untuk para pendatang? Apakah masih nyaman untuk belajar dan tinggal? Tentu saja tidak.
Malang semakin jauh dari kata dingin dan asri, juga semakin jauh dari kata nyaman. Makanya, buat siapa pun yang berniat untuk merantau ke Malang untuk kuliah, apalagi yang termakan jualan basi bahwa kota ini dingin, asri, dan nyaman, mending mikir dua ratus kali, deh. Beneran!
Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Malang Dingin Itu Seharusnya Wajar, tapi Kini Justru Jadi Anomali dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok