Warga lokal Jombang, khususnya anak mudanya, sering kebingungan mencari hiburan maupun tempat nongkrong nyaman di akhir pekan. Sebenarnya ada banyak mal atau pusat perbelanjaan seperti Linggarjati, Bravo, Keraton, hingga Borobudur. Namun, warlok malas ke sana karena nuansanya kelewat ketinggalan zaman, terlalu jadul.
Mal-mal yang disebutkan tadi semuanya berukuran mungil dengan fasilitas yang itu-itu saja. Daripada jadi lokasi nongkrong atau belanja, banyak warlok memanfaatkannya sebagai tempat berteduh ketika cuaca sedang terik-teriknya.
Nggak heran kalau banyak warlok, khususnya anak muda, lebih memilih melipir ngemal ke daerah tetangga seperti Mojokerto dan Kediri. Saya akui, mal-mal di sana jauh lebih menarik untuk nongkrong atau sekadar cuci mata.
Main ke mal-mal Jombang seperti balik ke era 2000-an
Jujur saja, mal Jombang itu punya persoalan besar soal nuansa yang jadul. Begitu masuk gedung, atmosfer yang terasa adalah suasana belanja tahun 2000-an. Penataannya padat, pilihan gerai makanannya terbatas, dan ruang geraknya sempit. Bagi mereka yang mencari konten estetis untuk media sosial, mal Jombang bukanlah tujuan yang tepat.
Itu mengapa banyak orang lebih memilih ke Sunrise Mall Mojokerto atau Kediri Town Square (Ketos) di akhir pekan. Jarak lebih dari 30 km jadi tidak masalah demi healing.
Apa yang ada di Sunrise Mall dan Ketos tidak ada di mal-mal Jombang. Di sana warlok Jombang bisa menikmati bioskop dengan banyak pilihan layar, gerai kopi internasional, hingga merek pakaian yang memang sedang tren. Ada perasaan puas saat bisa berjalan di koridor mal yang luas tanpa harus bersenggolan dengan tumpukan barang diskonan di tengah jalan.
Begitu juga dengan Ketos. Secara umur, mal ini sebenarnya tidak lagi muda, tapi daya tariknya nggak kalah dengan mal-mal baru. Di sana kalian bisa menemukan ekosistem hiburan yang lengkap dalam satu gedung. Bagi warga Jombang, perjalanan satu jam ke Kediri itu bukan beban, melainkan ritual wajib untuk merasakan atmosfer kota besar yang modern.
Jarak puluhan kilometer tidak jadi masalah
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, warlok Jombang perlu menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencapai Sunrise Mall dan Ketos. Namun, tidak ada satu pun orang Jombang yang mengeluhkan itu. Sebab, sulit dimungkiri, ada kepuasan tersendiri jika bisa update story sosial media atau sekadar pamer tiket bioskop dari luar kota.
Berbeda dengan mal-mal Jombang. Walau dekat, rasanya begitu berat melangkahkan kaki ke sana. Sebab, orang-orang tahu tidak ada yang menarik di sana.
Mall di Jombang akhirnya hanya menjadi pilihan darurat, tempat untuk beli kebutuhan pokok yang mendesak atau sekadar mampir mencari udara dingin saat dompet sedang tipis. Sementara untuk urusan memanjakan diri, membuang penat, dan belanja yang serius, Sunrise Mall dan Ketos tetap jadi tujuan warlok Jombang.
Mungkin sudah saatnya Jombang punya ruang publik atau pusat perbelanjaan yang tidak hanya menjual barang, tapi juga menjual suasana. Sampai saat itu tiba, jangan heran jika jalanan ke arah Mojokerto dan Kediri akan selalu penuh dengan plat S Jombang setiap akhir pekan. Sebab, bagi warga Jombang, healing itu harus menyeberang batas kota.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
