Saya adalah keturunan Jawa yang sejak lahir dan besar di Sumatera. Secara garis keturunan, mungkin lidah saya “harusnya” cocok dengan makanan Jawa. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Sejak kecil, saya tumbuh dengan cita rasa khas Sumatera yang terkenal gurih, asin, dan pedasnya berani. Di rumah, meskipun keluarga masih sering memasak makanan Jawa, rasanya sudah banyak mengalami penyesuaian.
Gudeg yang katanya identik dengan manis pekat, di rumah kami dibuat tidak terlalu manis. Masih ada sentuhan gula, tapi tidak sampai mendominasi. Tempe bacem pun begitu tetap manis, tapi seimbang dengan gurih. Intinya, keluarga kami seperti sudah “mengkompromikan” rasa Jawa dengan lidah Sumatera. Oleh karena itulah saya merasa cukup percaya diri saat harus merantau ke Jawa Tengah. Dalam pikiran saya, ya paling beda tipis.
Hari-hari pertama di tanah perantauan benar-benar membuka mata dan lidah saya. Hampir setiap makanan yang saya coba memiliki kecenderungan manis yang cukup kuat. Awalnya saya masih mencoba positif. “Mungkin cuma warung ini,” pikir saya. Tapi setelah pindah-pindah tempat makan, hasilnya kurang lebih sama.
Sayur terasa manis. Lauk ada manisnya. Bahkan beberapa sambal pun punya jejak rasa manis.
Sambalnya kok manis?
Jujur saja, sebagai orang yang terbiasa dengan rasa tegas dan pedas yang “nendang”, kondisi ini cukup membuat saya kewalahan. Bukan berarti makanannya tidak enak banyak yang tetap lezat tapi lidah saya seperti terus mencari sesuatu yang hilang. Sensasi asin-gurih-pedas yang biasanya langsung menyambar, di sini terasa lebih halus dan kalem.
Puncak kebingungan saya terjadi pada suatu malam ketika rasa rindu kampung halaman tiba-tiba menyerang. Saat itu saya sedang sangat ingin makan pedas. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan memesan pecel lele di pinggir jalan. Dalam bayangan saya, ini menu yang “aman”. Di mana-mana, pecel lele identik dengan sambal yang pedasnya nampol.
Saya sudah membayangkan keringat bercucuran, hidung mulai berair, dan mulut yang terbakar nikmat.
Saat suapan pertama sambal menyentuh lidah, saya langsung terdiam beberapa detik. Ada pedas, iya… tapi yang lebih dulu terasa justru manis. Pedasnya seperti tertutup lapisan gula yang cukup dominan. Bukan sambal yang saya bayangkan. Bukan sambal yang biasa saya temui di Sumatera.
Di situ saya benar-benar merasa lidah Sumatera saya sedang menangis.
Bingung, kaget, sekaligus sedikit lucu kalau diingat sekarang. Saya sampai sempat mikir, “Ini memang resepnya begini, atau saya yang salah ekspektasi?” Setelah beberapa kali mencoba pecel lele di tempat berbeda, barulah saya menerima kenyataan: di beberapa daerah Jawa Tengah, sambal memang sering diberi sentuhan manis.
Makanan Jawa memang manis-manis
Sejak saat itu, saya mulai lebih memperhatikan pola rasa makanan Jawa. Ternyata memang ada filosofi rasa yang berbeda. Banyak masakan Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta, mengedepankan keseimbangan manis dan gurih. Gula jawa bukan sekadar pemanis, tapi bagian penting dari karakter rasa.
Sementara di banyak daerah Sumatera, profil rasa cenderung lebih tegas: asin, gurih, pedas kuat, dan kadang asam segar. Cabai bukan pelengkap dia adalah bintang utama. Tidak heran kalau lidah saya butuh waktu untuk beradaptasi.
Masa-masa awal merantau itu jujur cukup menantang secara kuliner. Saya beberapa kali merasa cepat enek karena terlalu sering bertemu rasa manis. Bahkan pernah suatu hari kepala saya benar-benar terasa pusing karena seharian makan makanan dengan profil rasa yang mirip. Mungkin terdengar lebay, tapi buat yang lidahnya terbiasa pedas-asin, perubahan ini memang cukup terasa.
Namun seiring waktu, saya mulai belajar bahwa ini bukan soal mana yang lebih enak. Ini soal kebiasaan yang dibentuk bertahun-tahun. Teman-teman saya yang asli Jawa justru merasa makanan Sumatera terlalu “keras” rasanya. Terlalu pedas, terlalu asin, terlalu berani. Di situ saya sadar: ternyata lidah juga punya latar budaya.
BACA JUGA: Orang Surabaya dan Obsesinya terhadap Sambal Petis
“Sambalnya manis nggak?”
Pelan-pelan saya mulai menemukan cara bertahan hidup. Pertama, saya belajar bertanya sebelum memesan: “Sambalnya manis nggak, ya?” Kedua, saya mulai mencari warung yang terkenal dengan sambal super pedas tanpa tambahan gula berlebihan. Ketiga ini yang paling penting, saya mulai stok sambal botolan dari rumah.
Percayalah, sambal dari kampung halaman itu seperti penyelamat di perantauan.
Meski begitu, pengalaman ini justru membuka wawasan saya tentang kekayaan rasa di Indonesia. Dulu saya mengira pedas adalah standar kenikmatan. Sekarang saya lebih bisa menghargai bahwa setiap daerah punya identitas rasa sendiri yang lahir dari sejarah, budaya, dan kebiasaan masyarakatnya.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
