Mahasiswa Kupu-Kupu Jangan Minder, Kalian Justru Lebih Realistis daripada Aktivis Kampus yang Sibuk Rapat Sampai Lupa Skripsi dan Lulus Jadi Pengangguran Terselubung

4 Sisi Terang Mahasiswa Kupu-Kupu yang Selama Ini Dipandang Sebelah Mata Mojok.co

4 Sisi Terang Mahasiswa Kupu-Kupu yang Selama Ini Dipandang Sebelah Mata (unsplash.com)

Di kampus-kampus seluruh Indonesia, ada sebuah kasta tak kasat mata yang dilestarikan turun-temurun. Kasta ini membagi mahasiswa menjadi dua kubu besar: Golongan Kura-Kura (Kuliah-Rapat) yang dianggap kasta Brahmana, dan Golongan Kupu-Kupu (Kuliah-Pulang) yang sering dianggap kasta Sudra.

Sebagai mantan mahasiswa yang pernah mencicipi bangku kuliah di jurusan Sastra Arab—dan kini menjadi “Menteri Urusan Rumah Tangga” bagi dua anak laki-laki yang hiperaktif—saya sering tersenyum kecut melihat dinamika ini.

Narasi yang dibangun selalu sama: Mahasiswa Kura-Kura (aktivis) adalah pahlawan. Mereka kritis, peduli rakyat, dan calon pemimpin bangsa. Sementara Mahasiswa Kupu-Kupu adalah pecundang. Mereka apatis, egois, dan tidak punya masa depan karena “kurang relasi”.

Halah, kalam farigh (omong kosong).

Izinkan saya, seorang ibu yang sudah kenyang melihat realitas pasca-kampus, membela kehormatan kalian, wahai para Mahasiswa Kupu-Kupu. Jangan minder. Jangan merasa kecil hati saat teman aktivismu menyindir kalian karena tidak ikut rapat BEM sampai jam 3 pagi. Sesungguhnya, kalian sedang berada di jalan yang benar (Shirotol Mustaqim) menuju kewarasan dan kesuksesan yang lebih realistis.

Rapat Organisasi: Simulasi Negara atau Simulasi Pengangguran?

Mari kita bedah kegiatan suci para aktivis ini: Rapat. Dulu, saya sering melihat teman-teman aktivis berkumpul di PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa). Asap rokok mengepul, kopi gelas plastik berserakan, muka kusut kurang tidur. Apa yang mereka bahas? AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga). Bayangkan, mereka berdebat berjam-jam hanya untuk menentukan apakah kata “dan” harus diganti dengan “serta”.

Mereka merasa sedang mensimulasikan negara. Mereka merasa sedang mengurus hajat hidup orang banyak. Padahal, yang mereka lakukan sebenarnya adalah simulasi birokrasi yang tidak efisien.

Sementara mereka sibuk berdebat soal politicking kampus yang lingkupnya cuma seupil, kalian para Mahasiswa Kupu-Kupu sudah pulang ke kos. Kalian mandi, makan dengan tenang, mengerjakan tugas kuliah, lalu nonton Netflix atau baca buku, atau bahkan freelance cari uang tambahan.

Dalam kacamata Sastra Arab, kalian seperti Isim Mabni. Kata yang tetap, stabil, dan tidak mudah berubah-ubah oleh keadaan. Kalian punya pendirian. Kalian tahu prioritas utama kalian adalah belajar (sesuai amanah orang tua yang bayar UKT). Sementara para aktivis itu kadang seperti Isim Mu’rab yang labil, berubah-ubah harakat akhirnya tergantung “angin politik” kampus. Sibuk sana-sini, tapi esensinya (IPK) sering kali keteteran.

Mitos “Relasi” dan “Soft Skill”

Argumen andalan para aktivis untuk merendahkan Kupu-Kupu adalah: “IPK tinggi nggak guna kalau nggak punya soft skill dan relasi!”

Ini adalah gaslighting akademis terbesar abad ini. Tolong dicatat ya, Adik-adikku. Di dunia kerja nanti, HRD tidak akan bertanya: “Dulu kamu menjabat sebagai Ketua Divisi Logistik di Himpunan Mahasiswa tahun berapa?”

Tidak. HRD tidak peduli. Yang mereka tanya adalah: “Kamu bisa Bahasa Inggris nggak? Kamu menguasai Excel level apa? Kamu punya portofolio apa?”

Relasi yang didapat dari organisasi kampus itu sering kali semu. Teman rapatmu yang dulu solid berorasi bareng di jalanan, begitu lulus, mereka akan sibuk menyelamatkan nasib masing-masing. Mereka akan sibuk melamar kerja, sibuk nikah, sibuk bayar cicilan. Relasi sesungguhnya itu dibangun di dunia profesional, bukan di ruang sekretariat himpunan yang bau apek.

Mahasiswa Kupu-Kupu yang pulang cepat untuk ikut kursus coding, kursus bahasa asing, atau magang, justru sedang membangun Hard Skill yang laku dijual. Itu bukan apatis. Itu pragmatis. Dan di ekonomi yang sedang sulit ini, menjadi pragmatis adalah koentji bertahan hidup.

BACA JUGA: Yang Mahasiswa Kupu-kupu Kan Kami, Kenapa Situ yang Repot

Mahasiswa Kupu-Kupu adalah Bentuk “Zuhud” Modern

Saya jadi teringat konsep Zuhud dalam tasawuf. Meninggalkan keramaian duniawi untuk fokus pada hal yang esensial. Mahasiswa Kupu-Kupu sebenarnya sedang mempraktikkan Zuhud versi kampus.

Begini, kalian menolak tergoda oleh gemerlap popularitas semu sebagai “Anak Hits Organisasi”. Kalian menolak validasi sosial dari jaket himpunan yang penuh emblem. Kalian memilih jalan sunyi: perpustakaan, kosan, kampus.

Yang jelas, kalian sadar bahwa tugas utama mahasiswa—secara fiqih pendidikan—adalah belajar. Orang tua kalian di kampung membanting tulang, menjual sawah, atau berutang demi membayar UKT kalian, bukan untuk membiayai kalian rapat proker (program kerja) yang nggak jelas output-nya.

Bayangkan perasaan Ibu kalian. Dia mengirim uang bulanan dengan harapan anaknya cepat lulus, dapat kerja enak, dan hidup bahagia. Eh, anaknya malah sibuk mengurus drama organisasi, lulusnya molor sampai 7 tahun, dan pas lulus IPK-nya nasakom (nasib satu koma). Itu namanya durhaka berkedok aktivis.

Sebagai ibu dua anak, saya akan lebih bangga kalau anak saya nanti jadi Kupu-Kupu yang lulus Cum Laude tepat waktu, daripada jadi Ketua BEM yang lulusnya di-DO (Drop Out) atau lulus jalur belas kasihan dosen.

Romantisasi Penderitaan

Kaum aktivis sering kali meromantisasi penderitaan. “Gue nggak tidur 2 hari nih ngurus acara seminar.” “Gue sakit tipes demi organisasi.”

Bangga kok sama penyakit? Bangga kok sama manajemen waktu yang buruk? Itu bukan dedikasi, Bos. Itu namanya kalian tidak bisa memprioritaskan kesehatan. Kalau mengurus diri sendiri saja tidak becus, bagaimana mau mengurus negara?

Mahasiswa Kupu-Kupu yang tidur 8 jam sehari, makan teratur, dan wajahnya glowing karena tidak stres mikirin dana usaha (danus), adalah pemenang kehidupan yang sesungguhnya. Kalian merawat amanah Tuhan berupa tubuh. Kalian menjaga kewarasan mental.

Ingat, skripsi itu butuh otak yang fresh. Skripsi butuh fokus. Susah sekali mengerjakan Bab 4 (Analisis Data) kalau otakmu isinya penuh dengan intrik politik pemilihan ketua himpunan. Akhirnya apa? Skripsi terbengkalai. Minta tolong joki. Atau copas sana-sini. Hancur sudah integritas akademis yang katanya kalian junjung tinggi saat demo.

BACA JUGA: Alasan Mengapa Menjadi Mahasiswa Kupu-Kupu Itu Baik

Aktivis yang Lulus Jadi Pengangguran

Ini fakta pahit yang sering saya temui. Banyak teman saya dulu yang sewaktu mahasiswa sangat vokal, sangat aktif, sangat “berkuasa” di kampus. Tapi begitu lulus, mereka shock culture.

Di dunia kerja, tidak ada yang mau mendengarkan orasi mereka. Di dunia kerja, yang dihargai adalah kinerja, bukan suara. Mereka yang terbiasa main perintah (sebagai senior) tiba-tiba harus jadi bawahan yang disuruh-suruh. Ego mereka terluka. Akibatnya? Mereka jadi kutu loncat, atau malah menganggur lama karena merasa “pekerjaan ini tidak selevel dengan idealisme saya”.

Sementara si Kupu-Kupu yang pendiam itu? Dia sudah meniti karier dengan tenang. Dia sudah jadi manajer. Lalu, dia sudah bisa beli rumah (KPR sih, tapi kan punya). Dan, dia sudah bisa memberangkatkan orang tuanya umroh. Kenapa? Karena dia terbiasa fokus pada tujuan (Focus on Goals), bukan fokus pada keramaian (Focus on Noise).

Pesan Ibu untuk Mahasiswa Kupu-Kupu

Jadi, untuk kalian yang setiap jam 3 sore sudah ada di dalam kamar kos, memakai daster atau celana kolor, sambil nonton drakor atau main game: tegakkan kepala kalian.

Kalian tidak salah. Kalian sedang menghemat energi untuk pertarungan yang lebih besar nanti: pertarungan karier dan rumah tangga. Simpan suara kalian. Simpan tenaga kalian. Gunakan waktu luang kalian untuk mengenali diri sendiri, bukan untuk memuaskan ego senioritas di kampus.

Kalau ada yang bilang kalian “Mainnya kurang jauh, pulangnya kurang malam”, jawab saja dengan senyuman manis ala saya: “Iya, main saya memang nggak jauh. Tapi Insya Allah masa depan saya yang melesat jauh. Daripada main jauh-jauh tapi lulusnya nyasar ke jurang pengangguran.”

Nikmati masa muda kalian dengan tenang. Tidurlah yang nyenyak. Karena nanti kalau sudah punya anak seperti saya, tidur nyenyak adalah kemewahan yang mustahil didapatkan.

Jadilah Kupu-Kupu yang indah. Bermetamorfosis dengan sempurna dalam diam, lalu terbang tinggi meninggalkan ulat-ulat yang masih sibuk berdebat memperebutkan selembar daun yang mulai kering.

Sekian. Anak sulung saya baru saja menumpahkan susu di karpet. Saatnya Kupu-Kupu rumah tangga ini beraksi membersihkan kekacauan, sebuah skill nyata yang lebih berguna daripada kemampuan memimpin rapat paripurna.

Penulis: Fauzia Sholicha
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Sisi Terang Mahasiswa Kupu-Kupu yang Selama Ini Dipandang Sebelah Mata

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version