Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Mahasiswa di Tengah Gempuran Terorisme dan Radikalisme

Khasbi oleh Khasbi
30 Juli 2019
A A
radikalisme

radikalisme

Share on FacebookShare on Twitter

Apa kabar dunia pendidikan tinggi? Mahasiswa apa kabar? Masihkah kalian nyenyak dalam tidur panjang? Mahasiswa yang tercinta, Ibu Pertiwimu sedang dilanda sakit, masih pedulikah kalian?

Di tengah kemelut pongahnya gerakan mahasiswa. Pemerintah melalui Kemenrestekdikti tiba-tiba membatasi proses komunikasi mahasiswa. Dan, mak jleb kebijakan ini akan berdampak lebih buruk lagi, khususnya di tengah arus gerakan mahasiswa.

ADVERTISEMENT

Kemenrestekdikti akan batasi mahasiswa dalam berjejaring di media sosial. Dalam hal ini, Kementerian akan bekerja sama dengan BTPN dan BIN.

Makin mak jleb aja nih para aktivis mahasiswa. Sanggupkah mereka terus bertahan dalam keambiguan ini. Hem, kita lihat saja!

Tapi benarkah demikian?

Menteri Riset Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir membela bahwa upaya pembatasan itu adalah untuk pencegahan terorisme dan radikalisme. Pihak Kemenrestekdikti tidak akan memantau satu persatu mahasiswa dalam berekspresi di media sosial.

Tapi mohon maaf, Bapak Menteri Yang Mulia, eh, maksudnya Yang Terhormat, apa yang menjadi pertimbangan untuk membuat kebijakan semacam itu? Kami para mahasiswa tentu bertanya-tanya? Untuk apa sebenarnya pengambilalihan ruang privasi kami itu?

Iya, kendatipun Bapak Menteri membela bahwa data nomor telepon dan media sosial mahasiswa dibutuhkan hanya saat ada indikasi ‘terorisme dan radikalisme’, apakah itu adalah jalan satu-satunya? Apakah itu cukup aman bagi kami yang tak tahu persoalan intelejen? Apakah cukup aman untuk kami yang sedang dalam kepongahan gerakan?

Baca Juga:

Nasib apes mahasiswa tanggung, susah dapat beasiswa karena kebanyakan untuk mahasiswa kurang mampu

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

Kami tetap merasa bahwa kebijakan Bapak Menteri ini adalah upaya mengambil alih ruang privasi. Ruang privasi adalah ruang sebabas-bebasnya berekspresi. Ruang privasi sangat dibutuhkan bagi mahluk sosial macam kami. Jika ruang privasi diotak-atik, lalu ke mana kami hendak berekspresi sebebas-bebasnya?

Jadi, mohon dipertimbangkan lagi kebijakan itu. Kami tetap mendukung pemerintah, kok, Pak! Jangan cap kami sebagai orang subversif hanya karena beda pendapat semacam ini. Sebagai warga negara yang baik, kami tetap mendukung sepenuhnya langkah pemerintah untuk memberantas orang-orang yang terpapar terorisme dan radikalisme, titik!

Solusi yang Ambigu

Benar saja, zaman semakin maju. Tekhnologi semakin canggih, sampai mengalahkan ‘kecanggihan’ manusia. Kita tahu itu, dan kita sepakat dengan hal itu. Modernisasasi adalah anak kandung percepatan perubahan ini. Modernisasi menyerempak begitu luas sampai ke sudut terdalam.

Lalu apa konsekuensi logisnya?

Ihwal yang timbul dari pergerakan banter ini adalah kerusakan sistem dan tatanan manusia. Di segi agama, manusia makin teraleniasi. Sedang di segi pendidikan, manusia semakin tak (merasa) membutuhkan ‘ilmu’, dan seterusnya.

Laku, efek paling menonjol di beberapa dekade ini adalah soal terorisme dan radikalisme. Sebuah efek yang muncul dari kemajuan tekhnologi tetapi terpaksa berbenturan dengan sikap ekslusifisme dalam beragama. Lalu, benarkah terorisme dan radikalisme berbahaya bagi kehidupan manusia?

Benar, sangat berbahaya! Fakta yang terjadi di, runtuhnya Gedung WTC New York pada 11 September 2011. Bom bunuh diri di Bali, Indonesia. Bom bunuh diri di depan Gereja di daerah Surabaya dan berjubel lainnya. Sangat berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan manusia.

Tetapi, memburu manusia yang berpaham ekslusif semacam itu dengan pengebirian komunikasi (tawaran dari Kemenrestekdikti) adalah cara yang ambigu (kurang solutif menurut saya). Tak akan pernah menyelesaikan persoalan. Justru, yang ada makin mengeruhkan suasana.

Indonesia adalah negara heterogen. Membatasi komunikasi semacam itu hanya akan mempolarisasikan kembali polarisasi yang sudah ada. Bukan solusi yang solutif, yang ada justru paradoks. Masyarakat Indonesia semakin dibatasi, semakin (mencari) kebebasan pula mereka.

Kita sudah cukup belajar pada sejarah Orba. Bagaimana ketika kebebasan semakin dibatasi? Luluh lantak!

Pendekatan Lemah Lembut

Memang, saya juga sepakat dengan pendapat Kemenretikdikti bahwa model ini adalah pendekatan lemah lembut. Tapi, ada yang terlupa dari pendapat itu. Apa itu?

Indonesia adalah negara bertuhan. Pancasila adalah manifestasinya. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat bertuhan. Dalam bertuhan, masyarakat Indonesia dinaungi oleh Pancasila. Dari logika implisit itu kita bisa berkesimpulan bahwa; Tuhan masyarakat Indonesia adalah sama.

Lalu, mayarakat Indonesia itu siapa saja? Iya kita semua. Termasuk mereka yang berpaham ‘terorisme dan radikalisme’.

Dari kesimpulan itu, kita bisa menemukan sebuah solusi lebih lemah lembut dari solusi Kemenretikdikti. Apa itu? Mendoakan orang yang terpapar terorisme dan radikalisme supaya mendapat hidayah (pencerahan dari Tuhan).

Coba bayangkan saja, seluruh masyarakat Indonesia memberondong Tuhan dengan do’a? Apakah Tuhan tidak akan ‘welas asih’ pada kita? Apakah Tuhan akan membiarkan mahluknya bersedih karena tak terkabul do’anya? Jadi, mari bersama-sama berdoa pada Tuhan supaya orang yang terpapar terorisme dan radikalisme sadar!

Terakhir diperbarui pada 18 Januari 2022 oleh

Tags: Generasi MudaMahasiswaRadikalismeteroristerorisme
Khasbi

Khasbi

Seorang Ayah satu anak, Guru PAI di sebuah SD Negeri dan Guru Ngaji. Senang menulis, membaca ngopi dan berdiskusi serta aktif berorganisasi.

ArtikelTerkait

paylater, beli rumah

Paylater Bikin Susah Beli Rumah? Yang Benar Saja!

13 Februari 2023
Hal-hal yang Perlu Kamu Ketahui Terkait Jurusan PGSD Terminal Mojok

Hal-hal yang Perlu Kamu Ketahui Terkait Jurusan PGSD

28 Juni 2022
5 Istilah Unik yang Cuma Diketahui Mahasiswa UT Terminal Mojok

5 Istilah Unik yang Cuma Diketahui Mahasiswa UT

12 November 2022
Kampus Elit, Parkir Sulit tukang parkir liar

Kampus Elit, Parkir Sulit

16 September 2022
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Kemampuan Bahasa Inggris Jadi Syarat Lulus Kuliah Itu Merepotkan, apalagi untuk Mahasiswa Angkatan Tua Mojok.co

Kemampuan Bahasa Inggris Jadi Syarat Lulus Kuliah Itu Merepotkan, apalagi untuk Mahasiswa Angkatan Tua

10 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Culture Shock Naik Kapal Batu Layar dari Lombok ke Surabaya: Penumpang Cekcok dengan Brimob dan Keributan Lainnya

Lombok jadi surga pariwisata, tapi bikin warganya cuma jadi penonton dari luar pagar kemewahan

23 Juli 2026
Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman Mojok.co

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman

24 Juli 2026
MagangHub Kemnaker bukan tempat cari magang, tapi wadah menguji kesabaran para fresh graduate Mojok.co

MagangHub Kemnaker bukan tempat cari magang, tapi wadah menguji kesabaran para fresh graduate

25 Juli 2026
4 taktik menaklukan Stasiun Manggarai saat jam padat, tempat paling kacau se-Jakarta Mojok

4 taktik menaklukan Stasiun Manggarai saat jam padat, tempat paling kacau se-Jakarta

24 Juli 2026
Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian Mojok.co

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

25 Juli 2026
Tolong hentikan tradisi perpisahan sekolah anak SD di hotel atau tempat mubazir lainnya, ini pemborosan tak berguna!

Tolong hentikan tradisi perpisahan sekolah anak SD di hotel atau tempat mubazir lainnya, ini pemborosan tak berguna!

25 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.