Saya tidak akan buka dengan statistik. Tidak juga dengan kalimat motivasi yang sudah ribuan kali kamu baca di caption Instagram. Saya mau mulai dengan satu pertanyaan yang, kalau dijawab jujur, bisa agak menyakitkan. Sudah berapa semester kamu kuliah Akuntansi, dan seberapa nyaman kamu kalau tiba-tiba diminta membaca satu halaman IFRS tanpa bantuan kamus terjemahan bahasa Inggris?
Kalau jawabannya tidak terlalu nyaman, atau bahkan terang-terangan tidak bisa, kamu tidak sendirian. Tapi bukan berarti itu bukan masalah. Justru sebaliknya. Di jurusan yang seluruh standar profesionalnya ditulis dalam bahasa Inggris, ketidakmampuan membaca bahasa itu dengan lancar bukan sekadar kekurangan kecil. Itu lubang besar yang semakin dalam semakin lama kamu biarkan terbuka.
“Akuntansi kan angka”, argumen yang terdengar masuk akal tapi salah kaprah
Ini argumen paling tua dan paling malas di jurusan Akuntansi. Benar, angka tidak berbahasa. Tapi angka tidak pernah berdiri sendiri. Di belakang setiap jurnal, setiap neraca, setiap catatan atas laporan keuangan, ada teks panjang yang menjelaskan mengapa angka itu ada, bagaimana ia dihitung, dan atas dasar asumsi apa ia dibuat.
IFRS ditulis dalam bahasa Inggris. ISA, standar audit internasional yang kamu pakai kalau nanti bekerja di firma audit, ditulis dalam bahasa Inggris. Riset dari Deloitte, PwC, EY, KPMG tentang pembaruan regulasi, implikasi perpajakan lintas negara, atau tren pelaporan keberlanjutan, semuanya dalam bahasa Inggris. Bukan karena dunia tidak adil, tapi karena memang itulah bahasa kerja profesi ini di level internasional.
Mahasiswa yang tidak bisa mengakses sumber-sumber itu secara mandiri akan selalu bergantung pada interpretasi orang lain. Mereka tidak membaca IFRS, mereka membaca ringkasan IFRS buatan orang lain. Mereka tidak membaca jurnal aslinya, tapi abstrak yang sudah dikutip orang lain. Ini bukan belajar Akuntansi. Ini belajar bayangan Akuntansi.
Menunda sampai semester akhir itu bukan strategi, itu taruhan
Setiap semester ada versi yang sama dari kalimat ini: “nanti saja, sekarang masih banyak yang lebih penting.” Dan kalimat itu diucapkan lagi di semester berikutnya, lagi, lagi, sampai tiba-tiba sudah semester tujuh dan tinjauan pustaka skripsi harus mengacu pada minimal tiga jurnal internasional.
Bahasa tidak bekerja seperti mata kuliah yang bisa di-SKS-kan. Tidak ada sistem kebut semalam untuk kemampuan membaca akademik dalam bahasa asing. Yang dibutuhkan adalah eksposur, repetisi, dan waktu. Mahasiswa yang rutin membaca satu artikel berbahasa Inggris seminggu sejak semester dua akan berada di titik yang sangat berbeda dengan yang baru mulai di semester enam. Bukan karena yang satu lebih pintar, tapi karena salah satunya memberi otaknya waktu untuk memproses.
Yang lebih tidak menyenangkan lagi: beban di semester-semester akhir tidak pernah berkurang. Skripsi, magang, persiapan kerja, semua datang bersamaan. Justru di titik itulah kemampuan bahasa Inggris yang belum matang paling terasa menyiksa.
Takut salah di depan orang lain
Tidak ada mahasiswa yang suka terdengar bodoh. Dan di kelas Akuntansi yang rata-rata isinya orang-orang analitis dan kritis, tampil kagok berbahasa Inggris rasanya seperti kekalahan kecil yang memalukan.
Maka banyak yang memilih diam. Tidak mencoba berbicara. Kalau terpaksa menulis dalam bahasa Inggris, pakai Google Translate dulu, poles sedikit, selesai. Tidak pernah benar-benar berlatih, karena berlatih artinya membuat kesalahan, dan membuat kesalahan artinya terlihat tidak kompeten.
Padahal logika ini terbalik. Kesalahan adalah satu-satunya cara bahasa masuk ke dalam sistem memori jangka panjang. Kamu tidak akan lupa cara menggunakan kata setelah kamu melakukan kesalahan dan menerima koreksi. Tapi kamu sangat mungkin lupa kata yang cuma kamu baca di kamus tanpa pernah mencoba memakainya. Orang-orang yang sekarang paling fasih berbahasa Inggris bukan orang yang tidak pernah salah. Mereka adalah orang yang pernah salah paling banyak dan tidak berhenti mencoba.
Rasa malu itu valid. Tapi membiarkannya menentukan seberapa jauh kamu berkembang, itu pilihan yang konsekuensinya nyata.
Bahasa Inggris sudah ada di dalam sistem Akuntansi, bukan di luar
Sebagian mahasiswa masih memisahkan bahasa Inggris dari dunia akademik Akuntansi: mereka hanya mengurusnya di kelas bahasa Inggris, lalu menganggapnya selesai Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Di banyak kampus, skor TOEFL atau TOEIC sudah menjadi prasyarat konkret: untuk mengikuti program magang tertentu, mendaftar beasiswa, mengambil kelas pertukaran, bahkan mengajukan proposal penelitian di beberapa program studi. Bukan sekadar syarat wisuda yang bisa diurus mepet. Ini syarat yang aktif memengaruhi akses kamu ke kesempatan selama kuliah.
Lebih jauh dari itu, bagaimana kamu menggali literatur internasional sangat menentukan kualitas skripsi. Membaca abstrak tidak cukup. Kamu perlu memahami metodologi penelitian, membedah kerangka teoretis, dan mensintesis argumen dari berbagai sumber ke dalam tulisanmu sendiri. Kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan tidak akan mampu menyelesaikan proses itu
Dan setelah lulus, rekrutmen di firma Akuntansi besar hampir semuanya menyertakan komponen bahasa Inggris dalam seleksi. Bukan sekadar tes tertulis, tapi wawancara, presentasi, dan simulasi kasus yang menuntut kemampuan berkomunikasi secara profesional. Ini bukan ancaman. Alumni-alumni yang ada mengalami ini semua, secara nyata.
BACA JUGA: 7 Dosa Mahasiswa Jurusan Akuntansi yang Sering Disembunyikan
Kalau satu kelas santai, kamu tidak harus ikut
Ada fenomena yang sangat umum di jurusan Akuntansi: ketika mayoritas kelas memutuskan bahwa sesuatu tidak terlalu penting, individu yang berpikir sebaliknya sering merasa canggung. Kalau terlalu serius dianggap sok. Terlalu ambisius dianggap tidak santai. Maka banyak yang akhirnya menyesuaikan diri dengan arus, bukan karena mereka yakin itu benar, tapi karena lebih mudah.
Lima tahun ke depan, kelas itu akan tersebar. Masing-masing menghadapi rekrutmen, wawancara, dan tuntutan profesional sendiri-sendiri. Tidak ada lagi arus untuk diikuti. Dan di titik itulah, pilihan-pilihan kecil selama kuliah, termasuk pilihan tentang bahasa Inggris, akan menunjukkan dampaknya.
Tidak perlu mendeklarasikan diri sebagai yang paling rajin di kelas. Tidak perlu dramatis. Cukup memulainya dari hal yang paling mudah dijangkau. Seperti, gantilah bahasa di software yang kamu pakai sehari-hari, ikuti satu akun berbahasa Inggris yang membahas isu Akuntansi atau keuangan. Atau, cobalah baca satu artikel jurnal per minggu meskipun masih lambat. Tidak ada yang revolusioner dari langkah-langkah itu. Namun, jika kita menjalankannya secara konsisten selama satu tahun, hasilnya akan jauh berbeda daripada tidak melakukan apa pun
Pada akhirnya, ini bukan soal bahasa
Masalah sebenarnya bukan bahasa Inggris itu sendiri. Masalahnya adalah pola pikir yang memisahkan bahasa dari keahlian inti, yang menganggap bahasa sebagai pelengkap dan bukan infrastruktur. Pola pikir itu yang membuat banyak mahasiswa Akuntansi berbakat tiba di titik yang harusnya bisa mereka capai lebih jauh, tapi terhenti karena tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa kerja profesinya sendiri.
Akuntansi di level yang serius tidak beroperasi dalam bahasa Indonesia saja. Standarnya internasional, referensinya internasional, dan makin banyak klien serta kolaborasinya juga internasional. Kemampuan bahasa Inggris bukan nilai tambah di atas kompetensi teknis. Ia adalah bagian dari kompetensi teknis itu sendiri.
Tidak ada waktu yang lebih baik untuk mulai dari sekarang. Bukan karena kalimat itu terdengar bagus, tapi karena setiap semester yang lewat tanpa progres adalah biaya yang nyata, bahkan kalau kamu tidak langsung merasakannya.
Penulis: Muhamad Alif Pebiansyah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Akuntansi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
