Maaf-maaf Saja, Semarang Jauh Lebih Superior ketimbang Cikarang, apalagi dalam 6 Hal Ini

Selamat Tinggal Bekasi, Ternyata Semarang Lebih Indah untuk Ditinggali dialek semarang

Selamat Tinggal Bekasi, Ternyata Semarang Lebih Indah untuk Ditinggali (Pixabay.com)

Meski cuma bermukim di Semarang sekitar empat tahunan, jujur, saya sangat jatuh cinta dengan kota itu. Bahkan rasa cinta kepada Semarang setara dengan cinta pada tempat asal saya yaitu Cikarang, yang telah saya tinggali puluhan tahun.

Gara-gara rasa cinta ini, saya kerap membanding-bandingkan antara Semarang dengan Cikarang. Sekali pun Cikarang itu bagian dari Jabodetabek yang katanya daerah megapolitan, dan konon semua hal ada di sana. Akan tetapi , saya tetap merasa iri tentang beberapa hal terkait Semarang. Dan beberapa hal inilah yang bikin saya iri.

Kemauan Pemerintah Semarang membuat transportasi publik yang baik

Dalam hal ini kita berbicara perihal Bus Raya Terpadu (BRT) besutan pemerintah daerah ya. Bukan KRL, atau LRT, yang merupakan program dari pemerintah pusat.

Soal BRT sepertinya bukan cuma Cikarang yang kalah telak dari Semarang. Bahkan Bandung dan Surabaya pun bertekuk lutut. Pemkot Semarang setidaknya menganggarkan sekitar Rp200 M (2022-2023) untuk mengoperasikan BRT-nya. Sedangkan Bandung dan Surabaya masing-masing cuma Rp15 M dan Rp70 M saja.

Beragam makanan khas yang enak

Saya nggak bermaksud mengatakan makanan khas Cikarang nggak enak ya. Makanan khas Cikarang juga enak-enak kok. Hanya saja lidah saya lebih dimanjakan dengan berbagai makanan khas Kota Atlas. Seperti lumpia, tahu gimbal dan roti ganjel rel.

Selain nikmat di lidah, makanan khas Kota Atlas itu punya sejarah dan ceritanya sendiri. Misal roti ganjel rel yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Roti ganjel rel ini terinpirasi dari Ontbijtkoek, roti rempah asal Belanda. Bedanya, roti ganjel ini terbuat dari tepung gaplek.

Wisata sejarah Semarang jauh lebih menarik

Wisata sejarah memang tak banyak di Cikarang. Apalagi jika dibandingkan beragam wisata sejarah di Semarang. Hal tersebut cukup wajar. Mengingat umur Kota Semarang jauh lebih tua yaitu 475 tahun.

Kayanya nggak cukup sehari untuk plesiran ke beragam tempat wisata sejarah di Semarang. Seperti kota lama, Gereja Blenduk, Sam Po Kong, Tugu Muda, Lawang Sewu, dan masih banyak lagi. Minimal butuh waktu sekitar dua hari untuk menikmati beragam wisata tersebut.

Baca halaman selanjutnya

Mall banyak, kotanya bersih…

Mall semakin banyak

Cikarang memang bagian dari Jabodetabek, yang katanya pusatnya Indonesia itu. Sayangnya mall di Cikarang belum semenarik daerah tetangganya, macam Kota Bekasi dan Jakarta.

Bahkan, saya berani bilang bahwa mall di Semarang masih banyak yang lebih menarik ketimbang di Cikarang. Dan, jumlahnya masih akan terus bertambah. Seperti mall yang buka baru-baru ini kayak The Park Mall dan Uptown Mall BSB City.

Semarang bersih

Kebersihan kota merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian khusus setiap pemerintah daerah. Tak terkecuali di Cikarang. Di sana masih banyak sampah yang menumpuk sembarangan di berbagai sudut Cikarang. Contohnya di sungai dan pasar. Kalau nggak diurus secara benar, malah bisa mengundang penyakit.

Malu dong sama Pemkot Semarang, yang menang penghargaan kota wisata terbersih di Asia Tenggara. Bukan cuma itu saja, kota ini juga pernah meraih penghargaan Adipura sebanyak enam kali berturut-turut. Kota Lumpia menjadi satu-satunya kota yang mendapatkan penghargaan tersebut enam kali berturut-turut.

Punya klub bola berprestasi

Perkara sepak bola sebenarnya Cikarang nggak terlalu kalah jauh. Cikarang punya Stadion Wibawa Mukti. Sementara Semarang punya Stadion Jatidiri. Namun, bedanya terletak pada prestasi.

Kota Semarang punya PSIS yang berkompetisi di Liga 1. Sedangkan klub bola asal Cikarang yaitu Persikasi masih berlaga di Liga 3. Itu baru perihal kasta. Belum bahas prestasinya.

PSIS sudah menjuarai kasta tertinggi liga indonesia sebanyak tiga kali. Tepatnya pada 1973, 1985, dan 2006. Sekarang pun PSIS punya skuad yang cukup kompetitif untuk bisa meraih gelar itu kembali. Saya nggak perlu bandingin sama Persikasi ya, soalnya nggak apple to apple.

Begitu sekiranya iri hati saya sebagai warga Cikarang kepada Kota Semarang. Semoga Venice van Java terus berkembang. Hingga bisa sejajar dengan kota-kota besar lainnya. Bukan hanya di tingkat nasional tapi internasional. Cikarang juga jangan lelah mengejar ketertinggalan.

Penulis: Ahmad Arief Widodo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bagi Orang Cikarang, Jakarta Itu Surga Dunia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version