Informasi
ADVERTISEMENT

Logat orang Lamongan terlalu keras dan cepat di kuping orang Mojokerto

Logat orang Lamongan terlalu keras dan cepat di kuping orang Mojokerto Mojok.co

Sebagai orang yang lahir, tumbuh besar, dan menghabiskan puluhan tahun hidup di Lamongan, saya selalu menganggap bahwa gaya interaksi sosial di daerah saya adalah hal yang biasa-biasa saja. Sampai akhirnya, saya menikah dengan perempuan asal Mojokerto dan mulai rutin wara-wiri ke sana selama setahun terakhir.

Keputusan menikah itu ternyata tidak hanya mengubah status sipil saya di KTP, tetapi juga membuka mata saya lebar-lebar soal sebuah konsep bernama hospitality atau keramahtamahan daerah.

Ada culture shock kecil-kecilan yang saya alami ketika pertama kali menginjakkan kaki di lingkaran keluarga dan lingkungan sosial istri saya di Mojokerto.

Keramahan yang tidak dibuat-buat, dari tukang parkir hingga bahasa krama di rumah mertua

Di Mojokerto, saya menemukan tingkat keramahtamahan yang jujur saja sempat bikin saya kaget, sungguh berbeda dengan Lamongan. 

Ketika berkunjung ke rumah mertua dan bertamu ke rumah kerabatnya, telinga saya disuguhi oleh tutur kata yang teramat sangat halus. Penggunaan bahasa Jawa Krama masih terawat dengan begitu natural dalam interaksi sehari-hari. 

Cara mereka menyapa, menyajikan hidangan, hingga mendengarkan obrolan selalu dibungkus dengan gestur ngemong dan penuh penghormatan. Awalnya, saya pikir keramahtamahan itu cuma berlaku di ranah domestik atau keluarga saja, namanya juga menantu baru kan? Namun, prasangka saya keliru.

Ketika saya jalan-jalan ke pusat kota Mojokerto, cangkruk di kedai kopi, atau sekadar belanja di pertokoan lokal, atmosfer ramah itu tetap konsisten. Bahkan tukang parkir di Mojokerto itu rata-rata ramah, berbahasa Jawa Krama, dan mengucapkan terima kasih tanpa wajah cemberut. Sebuah pengalaman langka yang membuat adem di hati.

Penjual di Paciran Lamongan dianggap suka marah-marah di kuping orang Mojokerto

Sebaliknya, giliran istri saya yang mengalami culture shock berat ketika saya ajak main ke Lamongan, khususnya saat kita melipir ke kawasan pesisir seperti Paciran.

Suatu hari, setelah membeli jajanan di desa saya, istri saya cerita dengan wajah kaget, “Kenapa sih penjualnya tadi kok marah-marah? Aku ada salah omong tah?“

Saya yang mendengar pertanyaan itu langsung tertawa. Saya jelaskan pelan-pelan ke istri saya bahwa default atau “setelan pabrik” cara bicara orang Pantura memang seperti itu. Nada bicaranya tinggi, artikulasi tegas, dan suaranya keras lantang mengalahkan deru ombak laut.

Yah, meskipun secara niat hati warga pesisir Lamongan itu sangat baik, jujur, dan tidak picik, cara penyampaian yang serba keras dan terkesan “ngegas” itu bisa ditafsirkan lain oleh orang luar daerah.

Menjauh sejenak untuk melihat sisi lain

Dari dinamika kecil dalam kehidupan pernikahan kami inilah, saya sampai pada sebuah kesimpulan kalau selama 30 tahun menetap di Lamongan, saya tidak pernah merasa ada yang salah dengan gaya komunikasi dan pelayanan publik di daerah sendiri. Saya menganggap nada keras dan impresi galak sebagai hal yang lumrah. 

Akan tetapi, setelah menikah dan sering bolak-balik ke Mojokerto, saya baru menyadari bahwa untuk urusan hospitality, pelayanan, dan kelembutan interaksi sosial, Mojokerto memang berada di level yang lebih oke.

Peristiwa ini menyadarkan saya pada satu pencerahan, kadang-kadang, kita memang perlu menjauh sejenak dari rumah sendiri agar bisa melihatnya secara utuh.

Ini bukan berarti Lamongan buruk dan Mojokerto tanpa cela. Tentu saja bukan. Warga pesisir Lamongan juga punya nilai plusnya sendiri. Meski demikian, saya kira tak ada salahnya juga kan, kalau kita warga Lamongan belajar sedikit kelembutan hospitality dari tetangga kita di Mojokerto.

Agar kalau ada wisatawan luar daerah yang mampir beli soto atau jalan-jalan ke Paciran, mereka tidak mengira sedang mendengarkan orang marah-marah, melainkan merasa disambut dengan hangat. 

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Lamongan bisa lebih unggul dari Tuban kalau Pemkab berani benahi persoalan mendasar ini.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2026 oleh .

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.