Ditolak oleh orang yang kita cintai bukan sekadar masalah kehilangan pasangan, tapi serangan langsung terhadap harga diri. Saat seperti inilah, Sheila on 7 menawarkan sesuatu yang berbeda.
Industri musik Indonesia meromantisasi kesedihan dan memosisikan pendengarnya sebagai korban yang tak berdaya. Nah, Sheila on 7, lewat Eross Candra, menghadirkan “lirik-lirik narsistik” yang berfungsi sebagai perisai ego bagi kita yang sedang patah hati.
Bagi saya, mendengarkan “lirik-lirik sombong” ini adalah cara terbaik untuk memulihkan diri. Alih-alih tenggelam dalam labirin melankolis dan kesedihan yang berkepanjangan, Sheila on 7 justru menawarkan sebuah delusi yang sehat.
Sheila on 7 bikin laki-laki jadi punya harga diri
Lewat lagu “Terlalu Singkat”, Sheila on 7 membangun narasi bahwa laki-laki itu punya harga diri. Ini bukan tentang betapa malangnya laki-laki ketika cinta menolak, melainkan betapa ruginya si dia karena melewatkan cinta kita.
Dan bisa aku katakan, jadi kekasihku
Akan membuat kau jauh lebih hebat
Percaya padaku, uh
Percaya padaku, uh
Jiwaku untukmu, uh
Hidup terlalu singkat
Untuk kamu lewatkan tanpa mencoba cintaku
Lirik ini adalah pernyataan harga diri yang luar biasa. Eross tidak menulis tentang memohon kesempatan, tetapi tentang menawarkan sebuah peningkatan kualitas hidup.
Sheila on 7 memosisikan subjek “Aku” sebagai katalisator kehebatan. Pesannya jelas. “Jika kamu menolakku, kamulah yang rugi karena telah melewatkan kesempatan emas untuk menjadi lebih hebat di sampingku.”
Ini adalah cara yang sangat efektif untuk mengubah rasa minder menjadi rasa percaya diri yang agresif.
Melindungi mental
Jika lagu “Terlalu Singkat” bermain di area posisi tawar, lagu “Pria Kesepian” milik Sheila on 7 bermain di area perlindungan mental.
Apakah diriku terlalu wibawa dan tampan untuk selalu kau miliki?
Apakah diriku terlalu wibawa dan tampan untuk selalu kau miliki?
Pastilah diriku terlalu wibawa dan tampan untuk selalu kau miliki
Pastilah diriku terlalu wibawa dan tampan untuk selalu kau miliki
Melalui pengulangan lirik yang sugestif seperti mantra, Sheila on 7 mengajak kita untuk teguh. Bahwa kita itu “terlalu wibawa dan tampan”. Secara psikologis, ini adalah bentuk narsisme defensif. Saat realita menghantam dengan fakta bahwa kita telah kalah, lagu ini mengajak kita membangun benteng imajiner.
Sheila on 7 meyakinkan kita. Bahwa penolakan itu terjadi bukan karena kita kurang, tapi kita “terlalu berlebih” sehingga si dia merasa tidak sanggup memiliki kita. Ini adalah kebohongan yang kita butuhkan agar tetap bisa berdiri tegak menghadapi kenyataan bahwa kita ditolak olehnya.
Manuver ego yang cerdik dari Sheila on 7
Strategi narsisme defensif ini juga merambah ke wilayah harga diri di tengah tekanan standar sosial-ekonomi melalui lagu “Pe De”. Alih-alih meratapi ketidakmampuan materi, Sheila on 7 melakukan manuver ego yang cerdik. Dan puncaknya terdapat pada lirik:
Aku memang belum punya mobil
Yang bisa teduhkanmu dari hujan/
Tapi aku punya lagu
Yang bisa menghangatkanmu setiap saat
Aku memang nggak funky
Tapi bukan gembel yang hidup tanpa usaha
Tapi kalo kamu bener cewek baik
Kamu pasti pasti falling in love with me
Di sini, Eross mengakui kekurangan fisik (materi) namun segera melapisinya dengan keyakinan bahwa dia memiliki nilai yang lebih hakiki. Lirik “Tapi kalau kamu bener cewek baik” berfungsi sebagai jebakan logika yang melindungi ego.
Jika seorang wanita menolak karena masalah materi, maka wanita itulah yang gagal menjadi “orang baik”. Bukan si pria yang kurang berharga. Sebuah manuver yang bikin kaget.
BACA JUGA: Terima Kasih Sheila on 7 Sudah Lahir dan Merilis Lagu yang Begitu-begitu Aja
Kontras dengan lagu-lagu orang kalah lainnya
Sikap Sheila on 7 ini sangat kontras dengan tren lagu-lagu sadboy modern atau karya legendaris seperti “Pupus” dari Dewa 19. Dalam “Pupus”, Dewa 19 mengajak kita meratapi ketidakberdayaan total lewat pengakuan bahwa hati telah remuk seluruhnya karena cinta bertepuk sebelah tangan.
Lirik tersebut memaksa kita mengakui kehancuran diri. Begitu juga dalam lagu “Buta Hati” milik Naif. Sudah resmi tidak mendapatkan cinta, tapu tokoh “Aku” masih tetap mencintai tokoh “Kau”.
Sebaliknya, Sheila on 7 menolak narasi patah hati yang berkepanjangan. Eross Candra tidak ingin kita meratapi hati yang hancur, melainkan ingin kita percaya bahwa kitalah pihak yang paling bernilai dalam hubungan tersebut.
Perbedaan ini sangat krusial. Sementara band lain membiarkan kita membusuk dalam hati yang remuk, Sheila On 7 memberikan kita perisai untuk keluar dari medan perang penolakan. Dan kita, berubah menjadi sosok yang “terlalu wibawa untuk dimiliki”. Yah, meskipun itu hanya sebuah delusi pelipur lara.
Penulis: Chaidir Amry
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
