Putuskan hubungan toxic kalian dengan Windows 11, karena Linux siap menjadi pendamping hidup yang setia, ringan, dan yang paling penting: GRATIS.
Beberapa waktu lalu, saya melakukan perjudian finansial dengan membeli laptop murah meriah: Advan Soulmate X. Dengan harga Rp2 jutaan, tentu saya nggak berharap laptop ini bisa dipakai meretas Pentagon. Dibekali prosesor kelas entry-level, RAM 4GB, dan SSD 128GB, ekspektasi saya cuma satu, bisa buka YouTube dan ngetik di Word tanpa emosi.
Masalahnya, laptop ini datang dengan OS paling laknat sedunia, Windows 11 Home Single Language.
Selama sebulan membersamai Windows 11 di laptop ini, rasanya seperti menyuruh tukang becak ikut balapan F1. Jalan sih jalan, tapi nggereng doang. Orang lain sudah lap ke-5, kita baru oper gigi satu.
Saya sempat mencoba menyuap laptop ini agar kerjanya lebih bener. Saya tambah RAM jadi 12GB dan tanam SSD tambahan 256GB. Saya rela merogoh kocek lagi di saat harga hardware sedang tidak sopan. Tapi apa daya, meski RAM sudah lega, Windows 11 tetap terasa seperti beban hidup yang berat. Buka YouTube saja kipasnya teriak, apalagi multitasking. RAM 12GB rasanya mubazir karena dimakan sistem yang greedy.
Hingga akhirnya, saya mengambil keputusan untuk hijrah ke Linux.
Linux memberikan nyawa kedua untuk laptop saya
Awalnya saya masih ragu, jadi saya main dua kaki (dual boot). Windows 11 masih saya simpan buat jaga-jaga. Tapi lama-kelamaan, saya sadar kalau hubungan saya dengan Windows sudah toxic. Akhirnya, saya talak tiga Windows 11 dan pindah total ke Linux Mint demi menyelamatkan nyawa laptop ini. Kenapa Mint? Karena UI-nya mirip Windows 10, jadi kurva belajarnya nggak bikin gegar budaya.
Begitu logo Linux Mint muncul setelah instalasi, Advan Soulmate X saya seperti terlahir kembali. Laptop Rp2 jutaan ini mendadak punya performa layaknya laptop Rp5 jutaan. Buka tab Firefox bejibun? Gaspol. Ngoding di VS Code sambil mendengarkan podcast orang-orang pintar? Hayuk.
Yang paling bikin terharu, instalasi Linux Mint beserta aplikasi dasarnya cuma memakan penyimpanan sekitar 20-an GB. Sisanya lega! Bandingkan dengan Windows yang instalasinya saja sudah bikin SSD 128GB sesak napas. Belum lagi bloatware nggak penting yang di Linux Mint nyaris tidak ada.
Sebagai web developer dan penulis, kombinasi Advan + Linux Mint ini adalah sweet spot. Menjalankan server lokal atau manajemen package jadi jauh lebih ringan karena Linux nggak butuh emulator berat-berat. Walaupun harus diakui, untuk buka Android Studio tetap berat (sadar diri itu penting, Kawan), tapi saya akali dengan remote developing di Google Cloud. Masalah selesai.
Gaming? Lancar jaya!
Bagaimana dengan gaming? Tentu saya nggak halu mau main Cyberpunk 2077 di CPU AMD 3020e. Tapi mitos bahwa Linux nggak bisa buat nge-game itu salah besar. Berkat Steam dan fitur Proton-nya, banyak game Windows yang bisa jalan mulus di Linux.
Di Winter Sale kemarin, saya khilaf beli Counter Strike: Source. Hasilnya? Lancar jaya, rata kanan! Saya juga main FIFA 11 lewat aplikasi bernama Bottles (semacam emulator Windows yang ringan). Lancar tanpa kendala. Gaming di Linux dengan laptop kentang mengajarkan kita arti syukur, nggak perlu grafis ray-tracing, yang penting gameplay asyik dan laptop nggak meledak.
Bagi kaum mendang-mending seperti saya, hijrah ke Linux adalah hidayah dari Allah. Saya sudah nggak perlu darah tinggi melihat notifikasi Windows Update yang sering muncul di saat genting. Dompet tipis yang tak mampu beli Macbook justru memaksa saya belajar lebih dalam.
Percayalah, mengetik perintah sudo di terminal itu rasanya kayak jadi hacker di film Mission Impossible, padahal aslinya cuma mau update browser.
Jadi, kalau kamu punya laptop kentang yang megap-megap menjalankan Windows, sudahi siksaan itu. Putuskan hubungan toxic kalian dengan Windows, karena Linux Mint siap menjadi pendamping hidup yang setia, ringan, dan yang paling penting: GRATIS.
Penulis: Muhammad Afsal Fauzan S.
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Keunggulan Sistem Operasi Linux Dibandingkan Windows
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















