Hal-hal Unik yang Saya Jalani Saat Menjadi Ekspatriat di Arab Saudi

Hal-hal Unik yang Saya Jalani Saat Menjadi Ekspatriat di Arab Saudi

Hal-hal Unik yang Saya Jalani Saat Menjadi Ekspatriat di Arab Saudi (Pixabay.com)

Saya pikir Brasil akan menjadi destinasi terakhir kami sebagai tempat tinggal waktu kami pindah ke sana pada 2019. Namun, tahun lalu, 2022, kami mendapat tawaran sebagai ekspatriat di Arab Saudi dan kami putuskan untuk mengambil kesempatan itu. Sejujurnya kami sempat ragu, mengingat bahwa kehidupan kami di Brasil sudah mulai tertata, baik secara adaptasi budaya maupun kehidupan sosial. Saya pun sudah mulai beradaptasi dengan makanan, sudah mulai menjalin pertemanan dengan orang lokal, dan pekerjaan saya sebagai pengajar bahasa Indonesia di KBRI Brasilia juga mulai berjalan lancar.

Namun, tawaran untuk menjadi ekspatriat di Arab Saudi lumayan menggiurkan, baik secara finansial dan fasilitas. Selain itu, jarak antara Indonesia ke Arab Saudi lebih dekat daripada Indonesia ke Brasil. Hal ini tentu akan memudahkan kami untuk mudik sewaktu-waktu. Pertimbangan utama lainnya adalah bahwa Arab Saudi adalah negara Islam, jadi Pak Suami berpikir bahwa ini akan memudahkan adaptasi kami sebagai sesama muslim. Akhirnya, kami sepakat melanjutkan petualangan sebagai ekspatriat di Kota Jubail, sebuah kota industri di Arab Saudi.

Lalu bagaimana kehidupan sebagai ekspatriat di Arab Saudi? Tinggal di Arab Saudi sebagai ekspatriat itu lumayan unik sih. Kami seperti hidup di masyarakat di dalam masyarakat. Artinya kami harus melakukan double penyesuaian.

Adaptasi selalu jadi kunci

Dulu waktu kami tinggal di Brasil yang notabene lingkungannya ya orang-orang Brasil, saya hanya perlu belajar dan beradaptasi dengan budaya Brasil saja. Sedangkan saat ini di Arab Saudi, kami harus beradaptasi tidak hanya dengan budaya Arab Saudi, tapi juga dengan budaya multinasional di lingkungan tempat tinggal kami. Mengingat bahwa ekspatriat biasanya diberi tempat tinggal di sebuah compound yang isinya semua orang asing dari berbagai macam negara dengan penjagaan ketat.

“Kenapa kok kita tidak dikasih perumahan yang tetanggaan sama orang Arab asli toh Pak?” Sempat saya bertanya kepada Pak Suami.

“Kurang tahu sih apa pertimbangan perusahaan dan pemerintah. Tapi sepertinya ini untuk menjamin keamanan saja. Soalnya dulu pernah pada tahun 2003 ada teror bom bunuh diri dia area perumahan yang menewaskan tidak hanya orang Arab tapi juga ekspatriat.”

“Oh, gitu.”

Abaya (juga) adalah kunci

Sebelum berangkat ke Saudi, saya harus kembali ke Indonesia dulu untuk mengurus beberapa dokumen. Pak Suami berpesan, ”Jangan lupa beli abaya.”

“Loh, memangnya pakai abaya itu mandatory kah? Bukannya sekarang Saudi sudah semakin terbuka? Kemarin ibuku pergi haji pakai gamis warna warni tidak apa-apa. Banyak yang kayak gitu. Waktu kita ke Dubai dan Bahrain yang juga negara muslim, saya juga pakai jeans dan blazer saja.”

“Sudahlah, pokoknya nanti kamu mendarat di bandara Damam harus pakai abaya warna hitam. Di sini itu bukan Jeddah atau Riyadh, meski banyak orang asing, tapi perempuan berjilbab biasanya pakai abaya warna hitam.”

Ya wes saya manut saja. Malah saya sangat bersyukur Pak Suami tetap menganut motto “di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung”. Dan ternyata memang benar, di kota tempat tinggal kami; mayoritas perempuannya memakai abaya, bahkan bercadar. Di mal, di taman, di restoran, di supermarket; semuanya memakai abaya. Meski ada juga beberapa yang tidak berhijab, tapi tetap pakai abaya.

Meski awalnya kalau jalan kaki saya suka kesrimpet abaya, jujurly sekarang saya malah menikmati pakai abaya. Entah ini perasaan saya saja atau memang benar adanya, saat memakai abaya di tempat umum, saya merasa tidak ada lagi “mata” yang menatap saya. Selain itu, Mbak-mbak Arab petugas visa dan Mas-mas Arab petugas imigrasi di bandara terasa sangat ramah sekali saat melayani kami.

Kebiasaan orang Arab yang tidak kami temui di negara lain adalah adanya kabin khusus keluarga di restoran. Mengingat bahwa mayoritas perempuan Arab bercadar, jadi biasanya restoran menyediakan kabin-kabin meja makan yang tertutup tirai. Sehingga para perempuan Arab bisa makan dengan nyaman. Kami biasanya juga memilih duduk di kabin tertutup ini.

Minggu libur? Tidak di Arab Saudi

Satu hal lagi yang membuat kami masih sering belibet di Saudi ini, yaitu tentang hari kerja. Saya dan Pak Suami akhirnya menemukan strategi dengan membuat istilah “Sunday is Monday” untuk mempermudah kami mengingat hari atau membuat jadwal janji. Mengapa begitu? Ya, karena hari kerja di Saudi dimulai pada hari Minggu. Sedangkan kita biasanya di negara lain memulai hari kerja pada hari Senin. Makanya otak kami seringkali membuat kesalahan saat membuat janji. Istilah “Sunday is Monday” ini lumayan efektif melatih kami.

Khusus untuk Jumat, restoran biasanya buka setelah salat Jumat. Sedangkan hampir semua toko dan mal mulai buka pada jam 4 sore.

Tentang bahasa untuk berkomunikasi, kami tidak terlalu bermasalah karena kami bisa berbahasa Inggris. Staf di compound, restoran, hotel, dan supermarket rata-rata juga orang asing yang berasal dari India, Pakistan, Filipina, dan Nepal. Jadi, biasanya untuk sehari-hari kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Lalu bagaimana dengan penyesuaian dengan sesama ekspatriat yang berasal dari berbagai negara? Ini lumayan unik juga sih. Ternyata pengalaman saya mengajarkan bahasa Indonesia kepada orang asing selama sepuluh tahun ditambah tinggal di Brasil belum cukup membuat saya mudah memahami pergaulan internasional. Mengingat bahwa setiap negara punya cara dan kebiasaan yang berbeda-beda dalam menghadapi sebuah situasi. Definisi sopan santun juga berbeda-beda. Ungkapan rasis pun juga berbeda-beda.

Perkumpulan ibu-ibu RT di Arab Saudi

Nah, di compound tempat tinggal kami itu ada grup Whatsapp untuk ibu-ibu. Ini sungguh lucu banget sih. Soalnya waktu kami tinggal di Brasil, tidak ada grup Whatsapp perkumpulan kayak gini. Sama tetangga apartemen saja tidak saling kenal. Lah, ini di Saudi malah ada semacam perkumpulan ibu-ibu RT yang pertemuan tiap bulan dengan judul Morning Coffee.

Saya kasih sedikit bocoran isi grup Whatsapp ini ya. Pada suatu hari, seorang ibu-ibu Amerika komplain di grup Whatsapp kami penghuni compound. Dia mengeluh karena dia menemukan beberapa balon bekas bertebaran di area kolam renang. Mungkin ada keluarga lain yang baru saja mengadakan pesta semalam dan tidak membereskan sampah-sampah itu. Lalu ibu-ibu yang lain juga menimpali tentang kesadaran akan kebersihan. Satu lagi menimpali akan pentingnya tanggung jawab. Dan sebagainya dan sebagainya. Lalu, seorang ibu-ibu India meminta maaf karena dia tidak sempat membereskan lokasi bekas pesta.

Amerika begini, India begitu

“Walah Pak, ini grup Whatsapp kok semacam grup Whatsapp emak-emak komplek di Indonesia. Full komplenan.” Saya ketawa cekikikan sambil menunjukkan grup Whatsapp kepada Pak Suami.

“Itu hanya perbedaan kebiasaan saja kukira.” ujar Pak Suami.

“Maksudnya?”

“Ya, kalau di Amerika itu memang budayanya semua hal harus dikerjakan sendiri. Sementara di India kalau punya pembantu, yang bersih-bersih ya pembantunya. Mungkin saja itu si ibu-ibu India sudah konfirmasi ke staf compound kalau mau membuat pesta. Artinya nanti yang akan bersih-bersih ya tim kebersihan compound.” 

“Owalah, bisa jadi ya.”

Inilah sekilas kehidupan kami sebagai ekspatriat di Arab Saudi. Hidup kami memang baru dimulai, tapi selayaknya petualangan, semua harus dinikmati dan dihadapi. Semoga, petualangan ini berakhir seperti petualangan Bilbo Baggins: penuh cerita, penuh makna.

Penulis: Lia Widyastuti
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Siapa Bilang Ekspatriat di Arab Saudi Bisa Naik Haji dengan Mudah?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version