Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Liburan Ke Puncak Bogor Itu Sudah Keputusan yang Benar, Pemerintah lah yang (Selama Ini) Salah

Fikri Rahmat Utama oleh Fikri Rahmat Utama
28 Januari 2025
A A
Ngapain sih (Masih) Nekat Berlibur di Puncak Saat Libur Panjang? Udah Jelas-jelas Bakal Macet Nggak Ngotak, Masih Aja ke Sana puncak bogor

Ngapain sih (Masih) Nekat Berlibur di Puncak Saat Libur Panjang? Udah Jelas-jelas Bakal Macet Nggak Ngotak, Masih Aja ke Sana (Akhmad Dodi Firmansyah via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kemacetan Puncak Bogor sering jadi momok menakutkan bagi wisatawan. Tapi selama ini tetap saja ramai yang datang ke sana. Ini berarti tempat itu memang bagus, kebijakan pemerintah saja yang tidak menyelesaikan masalah.

Perlu kita ketahui bersama Puncak itu merupakan kawasan paling utama untuk Pemerintah Kabupaten maupun Provinsi. Banyak aset wisata milik kedua pemangku kebijakan ini bertebaran. Pemasukan daerah juga begitu besar, saking besarnya, Kabupaten Bogor itu masih bergantung pada Puncak lewat pajak.

Kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bogor pada 2023 lalu mencapai sekitar 12 juta dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor wisata mencapai Rp500 miliar. Namun, Puncak masih menjadi lokasi mayoritas wisatawan untuk datang berkunjung ke Kabupaten Bogor. Saking fenomenalnya, ada namanya Puncak 2 di Kecamatan Sukamakmur untuk menyaingi Puncak (1) di Ciawi dan sekitarnya.

Lalu bagi wisatawan Jabodetabek, Puncak adalah tempat paling mungkin untuk menikmati alam khususnya pegunungan. Akses tol langsung mengarah dari Jakarta masuk ke Simpang Gadog Ciawi. Akses motor juga tergolong cukup ramah dari Jakarta bahasa kasarnya tinggal lurus mengikuti jalan raya Bogor, Kota Bogor, Ciawi, sampai ke Puncak.

Jadi masuk akal saja bila sejak dulu selalu menjadi lokasi strategis untuk berlibur. Namun yang jadi pertanyaan adalah apakah potensi ini menjadi suplemen bagi pemerintah? Sepertinya tidak, padahal kemacetan ini bukan baru beberapa tahun ini tapi sejak jaman baheula.

Akses Puncak Bogor yang dari dulu selalu bermasalah

Kita bicara akses dulu aja deh. Jalan tol menuju Puncak Bogor (dari dulu) hanya sampai ke Simpang Gadog, sehingga pengendara mobil harus bergabung dengan kendaraan motor untuk naik ke atas. Banyak jalur alternatif sebenarnya, tetapi semua sudah tahu, jadi sama saja macet bila libur panjang seperti saat ini.

Berbagai rekayasa lalu lintas juga telah diterapkan seperti ganjil-genap, one way, dan sebagainya. Tapi tetap saja yang namanya primadona, selalu menjadi pilihan utama, dan incaran semua orang, Puncak Bogor tetaplah macet. Ini terjadi setiap tahun namun anehnya pemerintah tidak punya kebijakan jelas mengenai ini.

Saya tak ingin menyalahkan pemerintah yang mana, mau kabupaten, provinsi, dan pusat pun sama saja tak punya kebijakan jelas mengenai kemacetan Puncak. Padahal semua dapat untung dari wisatawan yang berkunjung ke Puncak.

Baca Juga:

5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur

6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang

Beberapa waktu lalu setelah macet horor pada September 2024, pemerintah mulai ramai-ramai untuk bersuara mencari solusi. Mau bikin kereta gantung lah, bus lah, kereta api lah, sampai jalan tol baru. Ini semua bagus, bagus banget tapi sampai saat ini perencanaan yang jalan pun tidak ada. Oh iya, kemarin katanya mau buat bus dari Cibinong Kabupaten Bogor ke Puncak, tapi tertunda lagi.

Lagi-lagi ini bukan soal kenapa masyarakat Jabodetabek ke Puncak Bogor, bukan. Justru kita harus bersyukur khususnya orang Bogor dengan ramainya wisatawan, tapi pemerintah ini yang tidak punya kebijakan jelas untuk mengurangi kemacetan.

Kabupaten Bogor jangan diem-diem bae

Ini kita baru bicara kebijakan pemerintah soal kemacetan, belum pungli di Bogor. Itu mungkin akan muncul pertengkaran yang baru lagi. Tapi apa pun itu tak elok rasanya hanya menyalahkan warga tanpa sadar ada pihak berwenang yang berlindung di balik itu.

Masalah ini sejatinya tak perlu berlarut-larut bila semua solusi yang dimiliki pemerintah baik daerah, provinsi, dan pusat bisa merealisasikan semua rencananya. Namun sering mendapatkan jawaban kalau butuh biaya besar untuk mengatasi kemacetan, padahal tinggal dibagi kecil-kecil ke setiap pemerintah.

Pemerintah pusat dengan idenya kemarin yang mengadakan bus untuk bisa langsung dari Cibinong ke puncak harus segera merealisasikan program itu. Jangan lagi program itu hanya panas-panas di awal tanpa ada bentuknya. Itu solusi yang bagus kalau jadi, kalau tidak yah sama saja.

Pemerintah provinsi bisa merealisasikan jalan tol Puncak 2 yang menghubungkan antara Sentul ke Cianjur, sehingga mobil bisa teralihkan ke sana. Ini butuh dana patungan antara provinsi, beberapa kabupaten, dan tentu bisa kurang minta ke pemerintah pusat.

Untuk Kabupaten Bogor, yang paling menikmati uang dari wisatawan yang berkunjung ke Puncak, juga tentu tak boleh diam. Bila tak mampu untuk membuat jalan tol dan pengadaan bus, maka bisa memperbaiki jalan-jalan alternatif yang selama ini banyak dilewati wisatawan.

Jalan itu perlu diperluas, diperhalus, dan ditambah rambu-rambunya. Sehingga tak seperti sekarang pemerintah seakan lepas tangan dengan adanya jalur alternatif, warga dan wisatawan dia biarkan mencari sendiri. Pemerintah Kabupaten Bogor harus mengatur jalan mana yang perlu dilewati wisatawan agar tak ada lagi kemacetan horor seperti yang sudah-sudah, jalan utama macet, jalan alternatif sama kondisinya.

Penulis: Fikri Rahmat Utama
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Puncak Bogor: Tempat Healing yang Bisa Bikin Kamu Sinting

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2025 oleh

Tags: Kemacetanprogram pemerintahPuncak Bogorwisata
Fikri Rahmat Utama

Fikri Rahmat Utama

Pria kelahiran Banggai, Sulawesi Tengah. Saat ini bekerja sebagai wartawan yang berfokus pada isu perkotaan dan pedesaan. Sejak masa kuliah, konsisten menulis isu-isu kemasyarakatan seperti sosial, ekonomi, dan budaya.

ArtikelTerkait

4 Lampu APILL di Jogja yang Sebaiknya Dihindari

4 Lampu APILL di Jogja yang Sebaiknya Dihindari

16 Januari 2022
Jika Neraka Dunia Benar-benar Ada, Sawangan Depok Adalah Buktinya

Jika Neraka Dunia Benar-benar Ada, Sawangan Depok Adalah Buktinya

3 April 2024
Pulang Lebih Malam Nggak Menjamin Terhindar dari Kemacetan macet

Pulang Lebih Malam Nggak Menjamin Terhindar dari Kemacetan

11 November 2022
Surat Cinta untuk Walikota: Pak, Malang Macet, Jangan Urus MiChat Saja!

Mati Tua di Jalanan Kota Malang

28 Maret 2023
Namanya doang Study Tour, Aslinya Lebih Banyak Jalan-jalan daripada Studinya Mojok.co

Namanya doang Study Tour, Aslinya Lebih Banyak Jalan-jalan daripada Studinya

28 Desember 2023
Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi Mojok.co

Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berhasil kurangi medsos dan hapus pesan, seporsi kemenangan yang meringankan hidup saya Mojok.co

Berhasil kurangi medsos dan hapus pesan, seporsi kemenangan yang meringankan hidup saya

1 Agustus 2026
Alasan modal Rp100 miliar lebih baik "disulap" jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren Mojok.co

Alasan modal Rp100 miliar lebih baik “disulap” jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren

2 Agustus 2026
Pengalaman cabut gigi gratis dengan dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

Pengalaman cabut gigi gratis oleh dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

4 Agustus 2026
Jalan Alternatif Jogjakarta-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

2 Agustus 2026
Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026
Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

7 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.