Sebagai mahasiswa Universitas Negeri Semarang, hidup saya selama ini tidak jauh dari kampus, kos, warung makan, dan jalanan yang kalau hujan sedikit langsung berubah jadi kolam dadakan. Ritmenya tidak terlalu cepat. Masih ada waktu untuk berhenti, ngobrol, dan mengeluh bersama soal tugas yang tidak selesai-selesai. Semua terasa cukup manusiawi. Lalu saya liburan ke Jakarta.
Selama ini, Jakarta hanya saya lihat di berita, di film, atau di feed orang-orang yang kariernya sudah pakai blazer. Saya datang dengan ekspektasi besar. Gedung tinggi, transportasi canggih, orang-orang keren dengan langkah percaya diri. Semua itu memang ada. Tapi ada satu hal yang tidak saya temukan sebanyak yang saya kira yaitu rasa hangat.
Dan semakin lama saya di sana, semakin saya sadar bahwa mungkin masalahnya bukan pada orangnya, tapi pada ritmenya. Jakarta terlalu cepat untuk berhenti sebentar dan menyapa. Sementara Semarang masih punya ruang untuk sekadar menoleh dan bilang, “Eh, kamu kelihatan capek.”
Di Jakarta, menyapa itu butuh keberanian ekstra
Pengalaman paling terasa adalah soal sapa-menyapa. Di Jakarta, orang jalan cepat sekali. Seolah-olah trotoar adalah lintasan lari dan siapa pun yang melambat akan disalip tanpa ampun. Wajah-wajahnya serius. Tatapan matanya lurus ke depan atau tertunduk ke layar ponsel.
Saya beberapa kali mencoba tersenyum ketika mata kami tidak sengaja bertemu. Bukan karena iseng, tapi karena sudah kebiasaan di Semarang begitu. Responsnya? Hampir tidak ada. Bukan jutek, tapi seperti tidak punya ruang untuk membalas. Di situ saya sadar, di kota sebesar itu, interaksi kecil bisa terasa seperti gangguan kecil.
Bandingkan dengan Semarang. Keluar kos saja sudah disapa ibu kos, tukang laundry, atau tetangga yang kebetulan lewat. Di kampus UNNES, bahkan orang yang tidak terlalu kenal pun masih sering lempar senyum atau anggukan. Hal sederhana itu bikin hari terasa tidak terlalu berat. Kita merasa ada di lingkungan, bukan cuma lewat di antara kerumunan.
Gestur kecil yang diam-diam penting
Hal kedua yang terasa banget adalah soal menunduk sopan ketika lewat depan orang yang sedang duduk. Di Semarang, itu seperti refleks otomatis. Tidak perlu diajari secara formal. Badan sedikit condong, langkah sedikit melambat, kadang disertai “monggo pak/bu” yang lirih tapi tulus.
Gestur kecil itu sebenarnya sederhana, tapi maknanya dalam. Ada kesadaran bahwa kita berbagi ruang. Ada penghormatan kecil yang mungkin tidak tercatat dalam undang-undang, tapi hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Dan anehnya, justru hal kecil seperti itu yang bikin suasana terasa hangat.
Selama di Jakarta, saya jarang melihat kebiasaan itu. Orang lewat ya lewat saja. Tegap, cepat, efisien. Mungkin bukan karena tidak sopan, tapi karena ritmenya memang tidak memberi jeda. Tapi dari situ saya sadar, ketika kota bergerak terlalu cepat, hal-hal kecil seperti itu bisa perlahan hilang tanpa kita sadari.
Di Semarang, kamu punya identitas, bukan nomor antrean
Di Jakarta, semuanya terasa sistematis dan profesional. Semuanya cepat dan rapi. Tidak banyak basa-basi, tidak banyak obrolan. Efisien memang. Tapi lama-lama terasa dingin. Interaksi berjalan sesuai fungsi. Tidak ada yang salah, justru itu mungkin standar kota modern. Tapi buat saya yang terbiasa dengan obrolan receh, rasanya ada yang kurang.
Berbeda dengan Semarang, tukang parkir bisa hafal motor kita. Ibu warung tahu kita biasanya pesan apa. Bahkan kadang mereka ikut komentar soal hidup kita. Memang kadang terasa kepo, tapi di situ kita merasa dikenal. Kita bukan sekadar pelanggan, tapi bagian dari rutinitas mereka.
Baca halaman selanjutnya
Sibuk yang terlihat dan terasa
Budaya sibuk yang terlihat dan terasa
Selama di Jakarta, saya merasa semua orang terlihat sibuk. Bahkan yang sedang duduk pun auranya seperti sedang memikirkan target. Ada tekanan tak terlihat untuk terus bergerak dan terlihat bergerak. Seolah-olah diam adalah kemunduran. Cara orang berjalan saja sudah seperti presentasi PowerPoint. Tegas, cepat, penuh tujuan. Saya yang jalannya santai ala mahasiswa kos sempat merasa seperti mengganggu arus.
Di Semarang, orang tetap punya ambisi. Tetap kerja keras. Tapi tidak terasa harus dipamerkan setiap detik. Nongkrong lama tidak otomatis dianggap malas. Duduk santai di angkringan tidak membuat kita merasa tertinggal dari peradaban. Ada ruang untuk pelan, dan dari ruang itulah keramahan muncul.
Jakarta tidak salah, tapi…
Pada akhirnya, saya tidak ingin menyalahkan Jakarta. Kota sebesar itu memang menuntut warganya bergerak cepat. Tekanan hidupnya nyata. Biaya hidupnya tinggi. Persaingannya ketat. Mungkin kalau saya tinggal lebih lama, saya juga akan berubah.
Tapi sebagai mahasiswa UNNES yang baru beberapa hari merasakan ritme ibu kota, saya merasa Semarang masih lebih bersahabat. Bukan karena lebih maju atau lebih hebat, tapi karena masih punya waktu untuk hal-hal kecil.
Jakarta mungkin kota untuk mengejar masa depan. Tempat orang membangun mimpi setinggi gedung pencakar langit. Tapi Semarang, sejauh ini, masih kota yang memberi ruang untuk merasa cukup.
Dan kadang, di tengah dunia yang terlalu sibuk membuktikan diri, merasa cukup itu jauh lebih menenangkan daripada terlihat sukses.
Penulis: Willyam B. Permana Purba
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kenapa 30 Menit di Semarang Dibilang Jauh, tapi di Jakarta Dibilang Deket
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
