Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Lama-lama Sinetron ‘Tukang Ojek Pengkolan’ Membosankan Juga

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
26 Juli 2020
A A
sinetron tukang ojek pengkolan lama-lama membosankan mojok.co

sinetron tukang ojek pengkolan lama-lama membosankan mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Mundurnya Kang Tisna yang diceritakan kembali ke Bandung dan berjualan buah mengurangi satu klise cerita Tukang Ojek Pengkolan, yakni adegan marah-marah. Mbak Yuli, istrinya Kang Tisna, seakan nggak punya kerjaan lain (atau cerita lain) selain marah-marah kepada suaminya itu. Entah kehabisan ide cerita atau memang ceritanya begitu-begitu saja dalam mengembangkan kekayaan karakter tokohnya.

Adanya pandemi, juga menggugurkan satu cerita klise yang selalu diulang sampai bosan, yakni percintaan Mas Bobby dan wanita-wanitanya. Kalau ada variasi saya rasa tidak masalah, tapi jika tiap menemukan satu pangkal cerita dan selesainya begitu-begitu saja, rasanya bosan juga. Kisahnya muter antara Bobby dan Annisa, jika nggak Bobby yang ada wanita baru, pasti sebaliknya. Kisahnya hanya bermuara gitu-gitu terus, bak tidak ada pengembangan lainnya.

Sebenarnya dulu ada kisah cinta Mas Pur yang muter-muter nggak jelas. Tapi berhubung masih satu garis lurus dengan lika-liku kehidupan tukang ojek pengkolan, kisah cinta ini selalu ditunggu dan nggak buat bosan. Apa lagi pas Mas Pur ambyar. Namun, menikahnya Mas Pur rasanya membuat nyawa karakter seorang Purnomo dalam kisah ini menjadi mengendur. Tapi ya bagaimana lagi, toh mereka mengembangkan tokoh-tokoh tambahan yang, maaf-maaf saja, kurang penting hadirnya.

Tapi tidak hanya sampai di sana, makin lama, sinetron Tukang Ojek Pengkolan makin hanya berputar dalam kubangan yang nggak jelas. Alih-alih mengisahkan kisah hidup tukang ojek, kini mengisahkan orang per orang dalam satu desa. Ya, kita sama-sama tahu, kualitas sinetron kejar tayang dan digarap dengan sungguhan akan berbeda hasilnya. Jangan dibandingkan dengan Preman Pensiun.

Klise yang membuat Tukang Ojek Pengkolan membosankan #1 Permasalahan selalu bermula dari salah paham

Tidak ada konflik langsung antara satu tokoh dengan tokoh lainnya (selain kisah Pur dan Ojak mengenai jasa titip). Yang paling terasa saat Mas Ferdy digosipkan tidak lolos tes rapid dan terkena virus corona. Kabar tersebut menyebar akibat kesalahpahaman Pengky yang menerima informasi secara asal-asalan.

Contoh lainya, ketika Mbak Rinjani dikabarkan hamil. Ini juga berkutat pada permasalahan klise bernama salah paham. Kali ini informasi yang langsung ditarik garis lurusnya oleh mertua blio sendiri. Kemudian menyebar ke Keluarga Sucipto dan akhirnya menyebar ke seluruh kampung. Pihak yang dirugikan (Mas Pur) marah-marah, mencari biang gosip, dan sudah. Iya, sudah, kan salah paham.

Sebenarnya banyak opsi lain ketimbang mengambil jalan pintas salah paham. Semisal Mas Ferdy benar-benar tidak lolos tes rapid dan terkena corona. Dari sana cerita bermulai dan seluruh warga desa melakukan tindakan ketika ada tetangga yang terjangkit virus. Itung-itung memberikan pelajaran bagi pemirsanya semisal hal ini kejadian di sekitar rumahnya.

Klise yang membuat Tukang Ojek Pengkolan membosankan #2 Plot dikembangkan dari gosip

Bahkan dalam spin-off Abi Umi, sinetron ini seakan tidak bisa lepas dari plot cerita yang berawal dari gosip. Di masa pra-pandemi misalnya, gosip dimulai dari Mbak Sri Wahyuni (sekarang tokoh ini dihilangkan) dan akan menghadirkan cerita konflik ecek-ecek ke depannya. Lalu selama pandemic, cerita lebih lebar dan ba-bar, menyangkut ibu-ibu Rawa Bebek keseluruhan.

Baca Juga:

5 Alasan yang Membuat Sinetron Indonesia Semakin Membosankan. Produser dan Sutradara Perlu Lebih Kreatif!

Sinetron Indonesia Kalah Telak Dibanding Drakor dan Dracin, Alur Ceritanya di Luar Nalar

Contohnya ketika Mbak Amira cerita kepada Mpok Uyun mengenai dapur rumah tangga, kemudian Mpok Uyun menyebarluaskan gosip tersebut. Hal ini semakin riuh kala ibu-ibu lain join this party. Palingan kata-katanya seperti ini, “Walah, saya nggak nyangka…” atau “Tuh kan, apa saya bilang…”.

Pengamatan saya, ada beberapa langkah dalam menjadikan sesuatu yang sepele ini menjadi besar. Bikin saja satu episode untuk menggambarkan awal mula gosip, nanti aka nada 3-4 episode selanjutnya gosip akan menyebar luas dan konflik-konflik aneh terbentuk. Dilanjutkan dengan 1-3 episode lagi sebagai pertentangan pihak yang digosipkan dengan yang menggosipkan, dan penyelesaian semua ini hanya sekitar 1 episode saja. Ditutup dengan, “Oh, jadi gitu…” atau “Maaf, ya”. Sudah.

Kalau tetap mau menggunakan konsep gosip dan menimbulkan gesekan cerita sih saran saya tetap gunakan jasa Mbak Sri Wahyuni saja. Perannya sebagai katalisator tokoh satu dan tokoh lainnya. Jadi penonton bisa paham, apa lagi nenek saya. Nih, ya, saya itu bosan jika ditanya nenek saya mengenai apa yang terjadi dalam sinetron ini.

Klise yang membuat Tukang Ojek Pengkolan membosankan #3 Tokoh-tokoh dipasangkan hanya untuk bermusuhan

Bang Ojak dan Mak Mae, misalnya. Konflik di antara mereka berdua terus terjadi dari awal cerita hingga kini. Apakah lupa beberapa bulan yang lalu mereka pernah bersalaman dan bermaafan? Kok ya konflik di antara mereka dikembangkan kembali.

Konflik lainnya berlangsung antara Mas Pur dan Mas Jhon. Awalnya sih seru, lama-lama bosan juga. Ejek-ejekan antara keduanya juga rasanya aneh jika ditampilkan dalam jam prime time. Kondisi Mas Pur berantem pun seakan menjadi kebutuhan kala spin-off Abi Umi, Mas Jhon belum ada, Mas Pur malah “dipaksa” berantem dengan Amin Gober. Padahal sebelumnya mereka baik-baik saja.

Barangkali sinetron ini akan naik kualitasnya jika dibikin per musim kayak Preman Pensiun. Setahun sekali atau enam bulan sekali. Jika tiap hari, penonton seakan disajikan tayangan yang melulu seperti itu, tidak berkembang dan dengan konflik yang serupa. Biar ada waktu untuk memikirkan jalan cerita ketimbang terus menanti sponsor yang tampil di tengah tayangan.

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Mas Pur yang Ditinggal Nikah Mbak Novita dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Juli 2020 oleh

Tags: sinetron indonesiatukang ojek pengkolan
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Fans Fanatik Sinetron Adalah Manusia Paling Barbar Seantero Galaksi terminal mojok.co sinetron indonesia ikatan cinta catatan hati seorang istri

Fans Fanatik Sinetron Adalah Manusia Paling Barbar Seantero Galaksi

7 Januari 2021
tukang ojek pengkolan pak sofyan penghasilan kekayaan mojok.co

Tukang Ojek Pengkolan Sebaiknya Menghilangkan Tokoh-tokoh Tidak Penting Ini

4 Agustus 2020
Nostalgia 9 Sinetron Anak-anak Generasi 90-an, Masih Ingat Terminal Mojok

Nostalgia 9 Sinetron Ramah Anak, Generasi 90-an Masih Ingat?

28 November 2022
Persamaan Franchise Fast and Furious dan Sinetron Indonesia terminal mojok.co

Persamaan Franchise Fast and Furious dan Sinetron Indonesia

8 Agustus 2021
7 Adegan Sinetron Indonesia yang paling Memuakkan Terminal Mojok

7 Adegan Sinetron Indonesia yang paling Memuakkan

13 Juli 2022
Syuting di Eropa Nggak Bikin Sinetron Indonesia Naik Kelas

Syuting di Eropa Nggak Bikin Sinetron Indonesia Naik Kelas

12 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.