Ada juga yang melanjutkan kuliah S2 karena merasa salah jurusan saat kuliah S1?
Dahulu, waktu masa-masa pendaftaran kuliah S1, saya seperti hilang arah hidup. Nggak tahu mau lanjut ke mana dan ambil jurusan apa. Saya cuma punya satu pedoman pasti, pokoknya harus diterima dulu di UGM. Urusan memilih jurusan apa, saya serahkan ke semesta.
Akibatnya, saya manut-manut saja saat diceburkan ke fakultas sejuta umat, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Jujur saja, ini demi menuruti sabda orang tua. Biar gampang cari kerja katanya. Lucunya, waktu SMA saya malah dicemplungkan ke jurusan IPA juga atas arahan mereka.
Jadilah saya makhluk tersesat yang dilepas begitu saja di rimba ilmu sosial yang asing. Rasanya seperti dilempar ke labirin tanpa peta. Masuk kelas pengantar akuntansi, kepala langsung cenat-cenut. Belajar hukum ekonomi, mata berkunang-kunang. Praktis, saya cuma bisa berpasarah menjalani babak yang sejak semula memang salah alamat.
Mulai berdamai dan mencintai Manajemen Pemasaran, tapi terhambat mitos klise
Boro-boro memikirkan kuliah S2, saat awal masuk S1 di FEB UGM saya merasa asing karena salah jurusan. Anehnya, di tengah jalan saya menemukan secercah harapan. Ya, saya jatuh cinta pada ilmu pemasaran. Bagi saya, disiplin ilmu ini punya daya tarik tersendiri karena ada unsur seni dan kreativitasnya. Nggak melulu soal angka yang bikin pusing kepala.
Sayangnya, saat kuliah S1, di kelas pemasaran wajib, ada satu sosok dosen yang namanya sudah harum sebagai pembantai mental mahasiswa. Beliau punya hobi favorit, yakni menunjuk mahasiswa secara acak buat adu argumentasi sampai skakmat. Maksudnya baik, tapi apa daya, mental tempe saya waktu itu nggak cukup kuat buat menghadapi tekanan di ruang publik.
Keraguan saya akhirnya membulat sempurna ketika cercaan dari luar berdatangan. Banyak orang dengan entengnya bilang kalau pemasaran itu cuma ilmu ecek-ecek. Stigmanya, semua orang bisa jualan. Kata mereka, rugi bandar masuk jurusan pemasaran. Sudah susah payah masuk kampus populer di universitas mentereng, tapi ujung-ujungnya malah mendalami ilmu yang dianggap sebelah mata.
Akhirnya, di titik itulah saya memilih memutus hubungan dan meninggalkan cinta pertama saya pada dunia marketing di FEB UGM. Memang, waktu itu saya terlalu pengecut untuk mengambil risiko dan memperjuangkan apa yang saya cintai.
Terhasut teman mengambil jurusan Manajemen Keuangan, berujung kelimpungan
Ternyata, hasutan soal jalan sukses di manajemen nggak berhenti sampai di situ. Di kalangan mahasiswa, ada semacam doktrin kalau mahkota tertinggi ilmu manajemen itu jatuh pada jurusan Manajemen Keuangan. Konon, ilmu di kelas Manajemen Keuangan nyaris mustahil ditandingi atau digeser oleh cabang ilmu lain.
Mau sok-sokan ambil Manajemen Operasional? Langsung kalah telak dibantai anak-anak teknik industri. Nekat pilih Manajemen Sumber Daya Manusia? Jelas nggak ada apa-apanya dibanding anak-anak psikologi yang memang ahli soal problematika manusia.
Singkatnya, dengan naifnya, saya ikut-ikutan arus mengambil jurusan Manajemen Keuangan. Tanpa minat, tanpa bakat, dan hanya modal nekat. Tentu saja, di penjurusan tersebut saya kembali tertatih. Selain karena dasarnya memang nggak suka, saya kembali dipaksa mengakrabkan diri dengan angka-angka, rumus, dan grafik laporan keuangan yang sebenarnya saya hindari.
Untungnya, saya bisa juga menyandang gelar sarjana dengan mengandalkan daya ingat alias hafalan mati-matian. Meskipun, harus rela lulus sedikit terlambat dibanding teman-teman seangkatan. Saya masih ingat betul momen setelah keluar dari ruang sidang skripsi. Bukan senyum kelegaan yang merekah, melainkan air mata yang tumpah karena nggak percaya bisa selamat melewati siksaan akademis tersebut selama empat tahun. Tentu saja, sampai saat itu, saya juga belum terpikir untuk melanjutkan kuliah S2.
Menebus kesalahan masa lalu dengan mengambi S2 jurusan Manajemen Pemasaran
Tuntas sarjana, minat saya justru semakin betah berkubang di dunia bisnis dan pemasaran. Alih-alih melamar kerja kantoran sesuai standar saklek orang tua, saya memilih sibuk merawat usaha jualan pakaian yang dirintis sejak kuliah. Lantaran melihat saya nggak ada usaha melamar kerja, orang tua mengancam saya harus kuliah lagi.
Setelah negosiasi alot, jalan tengah pun tercapai. Saya bersedia lanjut kuliah S2 dengan syarat mutlak memegang kendali penuh atas jurusan. Ogah ambil program Magister Sains yang kelewat teoretis, saya melabuhkan pilihan ke program Master of Business Administration (MBA) di MM UGM yang lebih sejalan dengan panggilan jiwa.
Benar saja, menjalani S2 Manajemen Pemasaran mengalir tanpa beban berarti. Puncaknya, saat sidang tesis, penelitian saya menuai pujian dari penguji. Saya keluar ruangan dengan senyum paling lebar. Bukan sekadar merayakan lulus. Namun, karena akhirnya merasakan betapa nikmatnya mendalami ilmu yang benar-benar dicintai.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
