Hampir dua tahun saya lulus dari Unesa, sampai sekarang, jujur saya masih selalu rindu sama kampus tercinta saya ini. Bagi saya, hidup sebagai mahasiswa Unesa, tepatnya di kampus Ketintang, adalah kebahagiaan tiada tara. Banjir saat hujan, macet waktu jam pulang, ataupun cuaca panas pas siang-siang kini jadi hal yang kerap saya rindukan.
Nah, makanya, tidak perlu heran kalau sebulan sekali kadang saya keluyuran ke Unesa. Ya, itu untuk mengobati kerinduan saya pada kampus ini.
Tapi, menyenangkan bukan berarti kehidupan saya di Unesa benar-benar tenang. Di luar, saya dan teman-teman kelihatannya memang hanya haha-hihi, tapi asal kalian tahu, aslinya kehidupan akademik kita juga dikejar-kejar deadline. Bayangin, selama kuliah, saya dituntut menghasilkan satu matkul satu artikel jurnal.
Bayangin, kalau satu semester ada sepuluh matkul, ya bisa 10 artikel jurnal. Fyi, ini pun jadi salah satu jalan jika saya ingin dapat nilai A. Saya yakin, kondisi itu sampai sekarang tidak berubah, bahkan mungkin lebih parah.
Mahasiswa Unesa sekarang makin terlihat bahagia
Kalau dilihat-lihat, mahasiswa Unesa makin kesini terlihat makin bahagia. Dari gerbang kampusnya yang mentereng saja sudah menampakan betapa percaya dirinya mereka. Hehehe. Buktinya, kemarin sampai ada yang dilamar pasangannya di depan gerbang Unesa, seakan-akan kampus pendidikan ini menjadi saksi kisah cinta mereka.
Tapi, bukan masalah gerbang saja yang membuat warga kampus ini terlihat bahagia. Fasilitasnya pun kini mulai banyak mendukung kehidupan mahasiswa agar mereka lebih sejahtera. Pertama, banyak ruang terbuka, misalnya foodcourt yang diperlebar, kemudian taman kampus juga banyak direnovasi supaya ramah sebagai tempat kumpul. Lalu, Indomaret juga sudah dibuka di area kampus, ditambah Family Mart kini dibangun tepat di depan gerbang masuk Unesa.
Ya, itu hanya beberapa dari sekian pembaharuan di Unesa. Belum semuanya. Tapi, jangan senang dulu, agaknya makin bagus fasilitasnya, makin parah pula tuntutan akademiknya!
Tekanan akademik Unesa bikin mahasiswa nggak tenang
Seperti yang telah saya katakan di awal, mahasiswa Unesa hanya kelihatan haha-hihi di luar. Tuntutan akademik mereka itu di luar nalar, sama seperti kampus lainnya. Kalau saya mendengar keluh kesah adik kelas saya yang sedang kuliah disini, haduh jujur saya kasihan.
Pertama, mereka dituntut buat segera lulus. Lulus 4 tahun itu sepertinya bukan hal ideal di Unesa. Idealnya, 3,5 tahun saja. Bahkan kalau bisa, kalian lulus 2 tahun saja. Pokoknya, kudu lulus cepat. Banget.
Makanya, jangan disangka mahasiswa semester enam Unesa masih sibuk menikmati matkul. Tidak. Mereka sudah dituntut segera seminar proposal. Sembari nyiapin proposal, mereka juga lagi mondar-mandir ngelaksanain magang.
Oiya, juga tidak ketinggalan, pun mereka masih harus menjalani satu matkul satu jurnal. Bahkan, kata dosen saya, ada konsep satu dosen satu Scopus. Akhirnya, muncul tantangan pada mahasiswa bahwa mereka bisa lulus tanpa skripsi, ya asal terbit di Scopus!
Kemudian, dosen di Unesa itu the real sibuknya minta ampun. Kondisi gedung perkuliahan yang tidak memadai kadang menjadi alasan untuk mengubah kelasnya jadi online. Padahal aslinya, mereka sedang sibuk rapat ini-itu, seminar sana-sini, pokoknya sulit sekali untuk diajak bertemu.
Aneh kan, jarang ngajar tapi tugas mahasiswa diminta terbit jurnal. Tapi nggak usah kaget-kaget amat. Ya beginilah kondisi pendidikan di Indonesia, dimaklumi saja.
Kontradiktif
Kalau diminta mendeskripsikan kehidupan kuliah di Unesa, saya kira kata yang paling tepat adalah kontradiktif. Kuliah yang sebenarnya harusnya tidak seperti itu, tapi yang terjadi sebaliknya. Dosen harusnya tidak seperti itu, tapi yang terjadi sebaliknya. Mahasiswa harusnya tidak seperti itu, tapi yang terjadi sebaliknya. Kampus harusnya tidak seperti itu, tapi yang terjadi sebaliknya.
Ya, demikian kehidupan mahasiswa Unesa yang begitu seimbang, yakni antara menyenangkan dan menegangkan. Meski saya akui itu semua saya rindukan, saya harap Unesa bisa berubah. Tidak perlu lah sivitas akademikanya (dosen dan mahasiswa) dituntut jurnal, seperti kata Mas Hazel, jurnal itu harusnya pilihan, bukan paksaan!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Unesa Adalah Kampus Paling Pick Me, Hobi Caper ke Pemerintah, padahal Kampusnya Masih Banyak Masalah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
