Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

Hazel Venansius Kemal oleh Hazel Venansius Kemal
19 Maret 2026
A A
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Halo, saya seorang mahasiswa S1 Manajemen Bisnis yang baru saja menginjak semester dua. Jika ditanya bagaimana kesan pertama saya menjadi mahasiswa di semester satu kemarin, jawaban jujur saya adalah: kaget dan kelelahan. Bukan karena materi kuliah yang sulit dipahami, tapi karena tuntutan kampus yang menurut saya terlalu ambisius dan belum waktunya diberikan kepada kami. Salah satu yang paling mengganjal adalah keharusan mahasiswa semester awal untuk melakukan riset dan menulis jurnal ilmiah.

Sebagai mahasiswa baru yang baru saja melepas seragam putih-abu-abu, bayangan saya di semester awal adalah membangun fondasi. Saya pikir saya akan fokus belajar dasar-dasar manajemen, pengantar bisnis, atau cara kerja organisasi. Kita ini baru saja melepas seragam SMA, masih beradaptasi dengan cara belajar di kelas besar, cara dosen mengajar, hingga cara mengelola jadwal sendiri.

Tapi, secara mendadak, kita dihadapkan pada tugas yang memakan waktu dan energi luar biasa: membuat jurnal ilmiah.

Fenomena “ghosting” dan beban yang tidak proporsional

Program menulis jurnal ini, dalam hemat saya, lebih banyak menjadi beban administratif daripada sarana pengembangan ilmu. Dampaknya sangat nyata di lapangan, terutama saat kerja kelompok. Sering kali, ketika sesi pengerjaan jurnal dimulai, banyak teman yang tiba-tiba “menghilang” atau ghosting. Susah dihubungi, tidak membalas grup WhatsApp, atau mendadak punya seribu alasan untuk absen.

Awalnya saya kesal, tapi jika dipikir lagi, mereka bukan malas, mereka hanya kewalahan. Kami dihadapkan pada rutinitas yang sangat padat: tugas harian yang menumpuk, ujian yang menuntut nilai tinggi agar IP tidak anjlok, hingga kesibukan organisasi yang sering kali dianggap wajib untuk “branding” diri. Ketika tugas jurnal yang rumit itu dipaksakan masuk ke jadwal yang sudah penuh sesak, mahasiswa akhirnya memilih mana yang harus dikorbankan.

Sayangnya, yang dikorbankan sering kali adalah komitmen kelompok, yang akhirnya menyusahkan mahasiswa lain yang mencoba tetap bertahan.

BACA JUGA: Dosen Seenaknya Nyuruh Mahasiswa untuk Publikasi Jurnal, padahal Uang Mahasiswa Cuma Dikit dan Nggak Dikasih Subsidi Sama Sekali

Demi marketing dan angka di atas kertas?

Ada desas-desus yang cukup santer terdengar di kalangan mahasiswa bahwa kewajiban jurnal ini sebenarnya adalah strategi marketing kampus. Dengan banyaknya publikasi mahasiswa—meskipun hanya di tingkat Sinta 6—kampus bisa “pamer” prestasi dan menaikkan nilai akreditasi. Kita, para mahasiswa, seolah dijadikan mesin produksi jurnal massal untuk mempercantik brosur penerimaan mahasiswa baru.

Baca Juga:

Alasan Saya Memilih Tugas Akhir Skripsi meski Pilihan Lain Terlihat Lebih “Waras”

Pengakuan Joki Skripsi di Jogja: Kami Adalah Pelacur Intelektual yang Menyelamatkan Mahasiswa Kaya tapi Malas, Sambil Mentertawakan Sistem Pendidikan yang Bobrok

Selain itu, tugas jurnal ini sering kali dijadikan “tiket emas” untuk mendapatkan nilai A secara instan. Memang terdengar menggiurkan bagi mahasiswa yang mengejar IP tinggi, tapi apakah ini sehat secara akademis? Ketika nilai A diberikan hanya karena kita berhasil mempublikasikan tulisan (yang mungkin dikerjakan dengan terburu-buru atau sekadar copy-paste format), maka esensi dari belajar itu sendiri hilang. Kita tidak lagi mengejar pemahaman ilmu, melainkan hanya mengejar transaksi. Ibaratnya, “Saya kasih jurnal, tolong kasih saya nilai A.”

Jurnal harusnya menjadi pilihan, bukan paksaan administratif

Inilah yang saya sebut sebagai paksaan administratif. Menulis jurnal tidak lagi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu ilmiahnya, melainkan hanya sekadar citra positif. Fokusnya bergeser dari “apa yang dipelajari” menjadi “mana bukti publikasinya.”

Padahal, setiap mahasiswa punya minat yang berbeda. Ada mahasiswa manajemen yang memang ingin jadi akademisi atau peneliti, maka silakan mereka difasilitasi. Namun, banyak juga mahasiswa yang lebih tertarik pada praktik bisnis lapangan, kewirausahaan, atau pengembangan soft skill/hard skill manajerial.

Memaksa semua orang untuk masuk ke jalur riset di semester satu adalah kebijakan yang kaku dan tidak efisien. Riset itu berat dan butuh dedikasi tinggi. Jika dijadikan kewajiban massal bagi mahasiswa baru yang dasar ilmunya saja belum matang, hasil jurnalnya pun hanya akan menjadi sampah digital yang tidak memberikan kontribusi nyata bagi dunia ilmu pengetahuan.

Biarkan kami beradaptasi

Sebagai mahasiswa manajemen bisnis, saya diajarkan untuk melihat sesuatu dari sisi efisiensi dan skala prioritas. Menurut saya pribadi, menyuruh mahasiswa semester satu mengerjakan riset dan jurnal adalah langkah yang tidak efisien. Program ini mungkin niatnya baik agar mahasiswa kenal dunia penelitian sedini mungkin. Tapi pelaksanaannya menutup mata terhadap kondisi asli mahasiswa di lapangan.

Harapan saya, kampus bisa lebih bijak melihat beban mahasiswanya. Biarkan kami yang baru masuk ini bernapas dan beradaptasi dulu dengan dunia kampus yang sudah cukup kompleks ini. Biarkan kami menguasai dasar-dasar ilmu yang kami ambil dengan tenang tanpa dihantui tagihan jurnal ilmiah.

Menulis jurnal dan melakukan riset tentu penting. Tapi tolong berikan di waktu yang pas dan kepada mereka yang memang berminat. Jangan jadikan riset sebagai beban yang justru membuat mahasiswa kehilangan semangat belajar, bahkan sebelum mereka benar-benar memulai perjalanan akademiknya.

Penulis: Hazel Venansius Kemal
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2026 oleh

Tags: jurnal ilmiahkewajiban menulis jurnalmahasiswa baruSkripsi
Hazel Venansius Kemal

Hazel Venansius Kemal

Mahasiswa semester 2 Universitas Dinamika Surabaya. Menaruh perhatian atas isu-isu Pendidikan, Politik, dan Ekonomi.

ArtikelTerkait

Dosen Pembimbing Bersifat Buruk, Skripsi dan Lulus Jadi Lama! (Unsplash) berkas kelulusan jasa edit skripsi

Mengganti Tugas Akhir Skripsi dengan Magang Itu Pendapat yang Naif dan Nggak Berpikir Panjang

3 Agustus 2025
skripsi ratusan halaman data skripsi kutipan dalam karya tulis skripsi dibuang mojok

Skripsi Bukan Dijual, Bisa Jadi Masuk Jadwal Retensi Arsip (JRA)

23 Juli 2020
PPSMB UGM: Ospek Terbaik yang Bikin Iri Mahasiswa Kampus Lain

PPSMB UGM: Ospek Terbaik yang Bikin Iri Mahasiswa Kampus Lain

8 Agustus 2023
Angkatan 2022 Udah Siap-siap Skripsi, Eh MSIB Tiba-tiba Muncul Lagi: Magang atau Wisuda, Pilihan yang Bikin Galau

Angkatan 2022 Udah Siap-siap Skripsi, Eh MSIB Tiba-tiba Muncul Lagi: Magang atau Wisuda, Pilihan yang Bikin Galau

1 Juli 2025
3 Hal Sepele yang Bisa Mempercepat Proses Sempro Mahasiswa Mojok

3 Hal Sepele yang Bisa Mempercepat Proses Sempro Mahasiswa

13 Januari 2024
Mendeley, Solusi Mudah Menulis Sitasi

Mendeley, Solusi Mudah Menulis Sitasi

11 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.