Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Keliatan Masuk Akal

Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Keliatan Masuk Akal

Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Keliatan Masuk Akal (Pixabay.com)

Saya masih ingat motor Beat saya yang rilisan tahun 2015 adalah motor yang dibeli dengan cara kredit. Waktu itu DP-nya adalah 1 juta dengan angsuran per bulan Rp500 ribu selama 35 bulan (3 tahunan). Jadi total saya membayar sekitar Rp18,5 juta. Saat itu, harga untuk cash-nya adalah sekitar Rp13 jutaan – Rp14 jutaan tergantung tipenya. Jadi kalau ditambahkan dengan DP di awal, maka ada selisih sekitar Rp4 jutaan – 5 jutaan antara harga cash dengan harga kredit motor.

Waktu itu, saya sudah menyadari sesuatu yang aneh dari skema kredit motor ini. Bagaimana bisa seseorang yang sebenarnya tidak cukup mampu membayar Rp14 jutaan untuk sebuah motor, tapi diberikan kesempatan membeli motor dengan harga yang jauh lebih mahal. Terlebih angka di atas belum dihitung dengan biaya administrasi, asuransi, dan biaya tambahan lainnya. Maka jauh lebih mahal. Paradoks bukan?

Kita tentu sudah familiar bahwa dealer motor selalu punya pola dalam kreditnya, yaitu makin sedikit uang mukanya, maka makin lama tenornya dan makin banyak cicilan yang dibayarkan jika diakumulasikan hingga tenor berakhir. Kelihatannya ringan karena uang yang dikeluarkan hanya ratusan ribu per ber bulan.

“Ahh 500 ribu kan hanya sekian persen dari total gaji 2 juta saya.”

Tapi sebenarnya, kalau melihat kondisi itu, kita harusnya tahu, kredit motor ini menyiksa kita diam-diam karena mengalihkan perhatian kita dari yang harusnya tahu soal total pengeluaran yang dibayarkan selama tenor, jadi ke soal kemampuan bayar kita untuk setiap bulan.

Kena gocek dealer

Kita sering terkecoh karena dealer-dealer itu lebih suka ngasih penawaran dengan embel-embel “DP cuma 1 juta, cicilan hanya 500 ribu per bulan, atau cukup membawa KTP dan KK.” Akhirnya ya fokusnya soal itu.

Kita diam-diam terjebak dalam situasi yang namanya “price salience”, yaitu dealer membuat cicilannya kelihatan ringan, tapi menyembunyikan total bebannya dari perhatian kita sebagai konsumen.

Tapi bayangkan bagaimana tagihan Rp500 ribu itu tetap datang menggerogoti keuangan kita tidak peduli sedang sakit, kena PHK, dagangan sepi, atau kondisi keuangan yang sedang mencekik. Pokoknya Rp500 ribu harus tetap keluar dari rekening kita setiap bulannya.

Ada satu paradoks lagi yang membuat mengapa kredit motor jadi jauh lebih menyiksa, yaitu statusnya yang bagi mayoritas orang difungsikan alat produktif. Status tersebut berarti motor dibeli bukan sekadar untuk keinginan tapi sebagai sarana untuk menghasilkan pendapatan. Ia digunakan untuk pergi ke kantor, pabrik, mengantar dagangan atau orderan, alat bantu kurir, dan lain-lain.

Ironisnya, ketika ada keterlambatan dan ketidaksanggupan dalam membayar, maka motor berpotensi ditarik. Akibatnya bisa merembet tidak hanya seseorang kehilangan motornya, tapi juga kehilangan alat untuk menghasilkan pendapatan, bukan? Pendapatan yang dia butuhkan untuk membayar cicilan.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Inilah yang saya anggap sebagai sebuah siksaan. Sebab seseorang memerlukan motor untuk memperoleh penghasilan. Kemudian penghasilan itu dia gunakan untuk membayar cicilan. Namun, ketika penghasilannya tersendat, motor yang menjadi alat meraih pendapatan justru terancam diambil.

Depresiasi yang gila-gilaan

Selain itu, kredit motor jadi jauh lebih menyiksa karena nilai barangnya yang cepat turun dengan drastis. Sehari keluar dari dealer, maka motor tersebut sudah berlabel bekas. Dan harganya akan langsung terjun bebas ratusan hingga jutaan. Depresiasi harga motor memang gila.

Apalagi setelah sudah digunakan satu atau dua tahun, atau bahkan lecet, maka jangan berharap mendapat harga jual yang sepadan dengan harga belinya. Apalagi kalau belinya skema kredit.

Jadi kita mengangsur barang dengan nominal yang sama selama 3 tahun, tapi nominalnya turun drastis setiap hari, minggu, dan tahun. Ilustrasinya begini, misal seseorang membeli motor kredit dengan total angsurannya 31 juta.

Sementara harga cash-nya sekitar 23 jutaan. Artinya dari segi harga saat ini saja dia sudah rugi 8 juta. Setahun kemudian, harga bekas motor tersebut di pasaran menyusut jadi hanya 20 juta. Maka secara tak langsung, dia merugi 11 juta.

Bayangin, dia mengangsur dengan nominal yang tetap sementara setiap waktunya, harga motornya itu menyusut. Jadi motornya makin tua, tapi utangnya terasa muda. Motor, dalam penggunaannya juga menuntut biaya operasional harian dan pajak.

Kredit motor memang merugi, oper kredit pun pikir dua kali

Situasi ini tentu berbeda dengan kredit rumah misalnya. Cicilan rumah memang jauh lebih besar dan tenornya jauh lebih panjang. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah, rumah punya nilai ekonomi dan bisa jadi lebih tinggi harga jualnya. Sebaliknya, motor justru terus kehilangan nilai selama masa kredit terus berlangsung.

Mau lakukan oper kredit pun, orang akan mikir dua kali karena lebih baik beli motor bekas yang jauh lebih murah.

Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa kredit motor adalah bentuk penyiksaan nyata yang rasa sakitnya bukan datang dari bunga kreditnya. Rasa sakitnya datang dari status kreditnya yang dibebankan pada barang yang nilainya terus turun, tapi fungsinya sangat vital bagi kehidupan ekonomi banyak orang.

Jadinya, orang yang berpenghasilan rendah membutuhkan motor agar bisa bekerja, tetapi karena penghasilannya rendah, ia mau tidak mau hanya bisa memperoleh motor melalui skema yang membuat harga motor tersebut jauh lebih mahal.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kredit Motor Itu Nggak Dosa, kok Dinyinyirin sih?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version