Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang (wikipedia.org)

Julukan “Kota Apel” yang melekat di Kota Batu jelas bukan tanpa alasan. Ada masanya, apel Batu itu jadi yang terbaik. Kalau bicara apel, ya pasti bicara Kota Batu. Tapi itu dulu, Saat itu, apel Batu memang sedang bagus-bagusnya. Kualitas dan rasanya nggak perlu diragukan. Sekarang, situasinya berbeda. Apel Batu sudah nggak kayak dulu lagi. Makanya, ketika sekarang mendengar Batu dijuluki kota apel, saya malah bertanya, “memangnya masih?”

Saat ini, apel Batu memang perlahan ditinggalkan. Kualitasnya menurun, biaya perawatannya makin tinggi, dan akhirnya banyak petani yang sudah kapok menanam apel. Mereka bahkan memilih menanam komoditas lain. Dan pemerintah, kayak nggak ngapa-ngapain, kayak nggak ada usaha nyata menyelamatkan nasib apel Batu.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Kota Batu, ada perasaan sedih ketika mengetahui fakta bahwa apel Batu berada di masa senjakalanya. Tapi ya mau gimana lagi, lha wong kondisinya saat ini memang lagi miris, kok. Dan kalau melihat kebijakan yang terkait tanah dan pertanian/perkebunan di Batu, apa yang terjadi saat ini nggak terlalu mengejutkan.

Apel Batu ditinggalkan karena kualitasnya memang menurun

Perubahan yang paling kelihatan dari apel Batu adalah soal kualitas. Iya, kualitas apelnya saat ini memang sudah sangat menurun. Apel Batu sudah nyaris nggak ada menarik-menariknya, baik dari segi bentuk, ukuran, sampai rasa. Bentuknya makin jelek dan nggak menarik, ukurannya makin kecil, serta rasanya yang makin biasa saja. Kalah sama apel impor, bahkan kalah sama apel dari Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Apa penyebabnya? Ya banyak. Mulai dari perubahan iklim di Kota Batu, hingga minimnya peremajaan pohon. Soal perubahan iklim di Kota Batu misalnya, makin hari makin panas, dan makin nggak sejuk. Makin banyak bangunan, ruang terbuka hijau makin berkurang. Di situasi yang seperti ini, siklus pembuahan dan penyerbukan pohon apel jelas nggak akan maksimal. Imbasnya, buah apel juga jadi jelek.

Minimnya peremajaan pohon juga bikin kualitas apel menurun. Kita tahu, pohon apel itu punya umur. Pohon-pohon apel di Kota Batu itu umurnya sudah terlalu tua. Banyak yang sudah puluhan tahun. Padahal, idealnya pohon apel itu harus diremajakan tiap 15 tahun sekali, ditanam ulang dari bibit. Biar apa? Ya biar kualitas apelnya tetap terjaga.

Masalahnya, nggak semua petani bisa melakukannya. Hanya petani-petani yang punya lahan luas yang sanggup, dan itu nggak banyak. Sebab apel yang ditanam dari bibit, butuh waktu 3-4 tahun baru bisa benar-benar produksi maksimal. Makanya, banyak petani yang mempertahankan pohon-pohon apel yang tua dengan berbagai macam penyakit dan keluhannya. Mereka kayak merelakan kualitas demi bisa produksi terus. Dilema? Tentu saja.

BACA JUGA: Andai Dulu Kota Batu Nggak Memisahkan Diri dari Malang, Ini yang Akan Terjadi

Para petani pindah ke jeruk. Lebih mudah, lebih murah, dan lebih menguntungkan

Selain masalah kualitas, alasan apel Batu mulai ditinggalkan ya karena apel ini cukup rumit untuk urusan perawatan dan produksi. Apel butuh perhatian lebih, butuh perawatan yang tekun, dan tentunya butuh tenaga dan biaya yang lebih besar. Sialnya, harga dan permintaan pasar masih naik turun, nggak pernah benar-benar stabil. Mempertahankan apel di situasi seperti ini sama saja masuk meja judi dengan probabilitas kalah yang tinggi.

Situasi inilah yang bikin banyak petani apel di Kota Batu meninggalkan apel. Mereka pindah dari apel ke jeruk. Menurut mereka, jeruk lebih masuk akal. Jeruk itu perawatannya bisa dibilang lebih mudah, biaya produksinya juga cenderung lebih murah, dan tentunya lebih bisa menguntungkan. Intinya lebih masuk akal, lah.

Sekarang, harga obat/pestisida untuk apel dan jeruk itu berbeda. Menurut kawan saya yang seorang sales pupuk dan pestisida, harga pestisida untuk apel itu lebih mahal ketimbang pestisida jeruk. Harganya bisa 2 kali lipat lebih mahal. Dan untuk jumlah pohon atau luas lahan yang sama, penggunaan pestisida apel lebih banyak macamnya, bisa 4-6 macam.

Gambarannya begini. Dalam sekali ngompres (nyemprot obat) kebun apel seluas 1 hektar, biaya operasionalnya (pestisida sampai upah buruhnya) ada di kisaran 4-7 juta. Sedangkan jeruk, untuk luas lahan yang sama, hanya ada di angka 2,5-4 juta saja. Dari sini sudah kelihatan mana yang lebih mahal.

Melihat biaya perawatan dan produksinya, nggak heran kalau banyak petani apel di Kota Batu yang memilih banting setir menjadi petani jeruk. Lebih murah, dan tentunya lebih pasti. Apalagi, harga jeruk bisa dibilang lebih oke ketimbang harga apel yang naik-turunnya agak ngeri. Petani jadi lebih tenang kalau menanam jeruk.

Alih fungsi lahan jadi masalah serius di Kota Batu

Sebenarnya, perubahan lahan apel menjadi lahan jeruk itu termasuk alih fungsi lahan. Tapi itu masih tetap jadi perkebunan. Yang jadi masalah adalah alih fungsi lahan dari lahan perkebunan menjadi lahan non perkebunan. Entah itu jadi hotel, villa, atau bahkan tempat wisata. Hal ini sudah terjadi bertahun-tahun di Kota Batu, dan ini jelas merupakan masalah serius.

Saya kasih contoh yang paling baru. Ada satu tempat wisata baru di Kota Batu bagian Utara, nggak jauh dari rumah saya. Namanya Mikutopia. Itu adalah tempat wisata yang dibangun di atas lahan produktif Tanah Kas Desa (TKD) yang mayoritas berupa kebun apel seluas sekitar 10 hektar. Bayangkan, ada kebun apel, luasnya 10 hektar, lahan produktif pula, lalu sekarang berubah menjadi tempat wisata. Ya gimana apel Batu nggak mati kalau gini caranya?

BACA JUGA: 3 Fakta Menarik tentang Kota Batu yang Jarang Dibicarakan Orang, Salah Satunya Pernah Terkenal dengan Perkebunan Kina

Apel sebagai ikon Kota Batu, masih pantaskah?

Melihat situasi apel di Kota Batu yang makin mengkhawatirkan, kita jadi bertanya-tanya, masih pantaskah apel dijadikan sebagai ikon Kota Batu? Pertanyaan ini juga berkali-kali muncul di tongkrongan saya dengan teman-teman.

Saya, sih, oke-oke saja kalau ada yang bilang bahwa apel sudah nggak layak jadi ikon Kota Batu. Kenyataannya memang begitu, kok. Apel Batu ini sudah jelek, dan itu sudah jadi rahasia umum. Apel juga sudah mulai ditinggalkan oleh petani-petaninya. Lahan-lahan sudah pada dilepas, dijual ke orang-orang luar, dialihfungsikan jadi berbagai macam bangunan.

Dan, pemerintah kota juga kayak nggak peduli dengan situasi apel di Kota Batu saat ini, kok. Pemerintah nggak segera bikin kebijakan nyata untuk, let’s say, menyelamatkan nasib apel Batu. Dan pemerintah juga kayak tutup mata melihat terlalu banyaknya alih fungsi lahan yang terjadi di Kota Batu. Pemerintah kayak nggak peduli.

Jadi, setelah penjabaran panjang lebar, menjawab pertanyaan di paragraf pertama tulisan ini, apakah Kota Batu masih layak dijuluki kota apel? Jawaban saya, nggak layak! Sudah nggak layak. Kalau menurut wong mbatu lainnya gimana? Beneran nggak layak, kan?

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Rindu Kota Batu Versi Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version