Ketika mendengar nama Banjar, yang ada di pikiran orang biasanya kalau nggak Banjarnegara, ya Banjarbaru. Padahal, masih ada satu Banjar yang orang nggak pahami, yaitu Kota Banjar yang ada di ujung timur Jawa Barat.
Pengalaman pertama saya melangkahkan kaki di Kota Banjar justru membuka mata lebar-lebar. Di balik statusnya yang sering dianggap cuma sekadar kota transit belaka, tersimpan keindahan alam yang asri serta identitas budaya Pasundan yang sangat pekat.
Tersesat dalam stereotip nama
Sebelum benar-benar menginjakkan kaki di sini, saya termasuk golongan orang yang sering kali salah mengira keberadaan Kota Banjar. Dalam benak saya sebelumnya, Banjar hanyalah sebuah titik persinggahan biasa di jalur selatan, tempat bus-bus antarkota menepi sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Jogja atau Bandung. Saya tidak pernah membayangkan ada kehidupan yang begitu hangat dan berkarakter kuat di balik stasiun dan terminalnya.
Namun, begitu saya menyusuri sudut-sudut kotanya secara langsung, prasangka ditiup angin begitu saja. Kota Banjar memiliki ritme kehidupan yang tenang tanpa riuk pikuk khas perkotaan besar yang bising dan bikin stres, menjadikannya ruang rehat yang sangat nyaman bagi para pelancong.
Pesona Alam dan Kuliner Khas Pasundan
Lanskap alam Kota Banjar menyajikan kesegaran yang masih alami dan jarang tersentuh komersialisasi berlebihan. Perbukitan hijau yang mengelilingi wilayah ini serta aliran legendaris Sungai Citanduy memberikan panorama visual yang menyejukkan mata sepanjang hari. Saya sempat menikmati udara segar di kota ini. Cukup menenangkan untuk pikiran yang berisik dari riuhnya ibu kota.
Tidak hanya alamnya, denyut kebudayaan dan sensasi kuliner Pasundan di sini terasa begitu otentik dan memanjakan lidah. Saya sempat mencicipi nasi liwet khas Banjar yang disajikan hangat dengan ikan asin, sambal terasi yang pedasnya pas bikin ketagihan. Kehangatan warga lokal yang saya temui kian menegaskan bahwa Banjar punya karakter unik yang berdiri tegak di atas identitas kulturalnya sendiri.
Pekerjaan rumah Kota Banjar bernama promosi wisata masif
Sangat disayangkan jika potensi seindah dan seunik ini terus-menerus tenggelam di bawah bayang-bayang nama besar daerah tetangganya. Kota Banjar membutuhkan strategi promosi wisata yang masif, terarah, dan adaptif terhadap media digital agar pesonanya mampu terdengar lebih luas hingga ke luar Jawa Barat.
Tanpa adanya branding yang kuat, keindahan alam dan kekayaan budayanya hanya akan menjadi rahasia umum di antara para pelintas jalan raya tanpa pernah benar-benar diapresiasi secara utuh.
Pengenalan destinasi secara konsisten melalui platform modern akan sangat membantu menghapus kekeliruan nama yang selama ini terjadi di masyarakat umum. Kota Banjar sudah saatnya bersolek, berbenah, dan menunjukkan pada dunia luar bahwa mereka bukanlah sekadar Banjarnegara atau Banjarbaru.
Mereka adalah permata tersembunyi di tanah Pasundan yang memiliki pesona eksotis tersendiri dan sangat layak untuk dijadikan tujuan utama perjalanan wisata.
Kota Banjar kecil, tapi penuh pesona
Kota Banjar telah membuktikan kepada saya bahwa ukuran wilayah bukanlah penentu kaya atau miskinnya sebuah daerah akan pesona wisata. Perjalanan pertama ini memberikan kesan mendalam tentang bagaimana sebuah kota kecil mampu merawat tradisi dan melestarikan alamnya dengan sangat baik.
Sudah sepantasnya Kota Banjar tidak lagi hanya menjadi tempat melintas, melainkan destinasi utama yang dicari dan dikenang.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Selain Kurang Pamor dan UMK Terkecil, Kota Banjar juga Kota Paling Menyedihkan di Jawa Barat
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
