Kereta api eksekutif sering dianggap sebagai pilihan moda transportasi yang terlalu mahal. Sebab, dengan harga yang bisa lebih dari dua kali lipat dari ekonomi, kereta kelas ini hanya menawarkan perbedaan dari aspek tempat duduk saja plus selimut. Nggak ada tambahan akomodasi lain seperti snack atau minuman ringan.
Nggak heran, ketika diberikan sebuah pilihan ketika naik kereta, ya kebanyakan orang, terutama kaum mandang-mending secara ekonomi lebih memilih kelas ekonomi. Terlebih sekarang ada kelas ekonomi premium yang tempat duduknya dianggap sedikit lebih manusiawi.
Tapi sebagai orang yang beberapa kali menggunakan kereta api eksekutif, saya menyadari bahwa sebenarnya ada beberapa keunggulan dari kereta api eksekutif yang jarang disadari oleh banyak orang. Terutama bagi kalangan mendang-mendung.
Kenyamanan dan ketenangan
Umumnya, kalangan mendang-mending biasanya menganggap harga yang lebih mahal dari kelas eksekutif adalah hanya soal kaki bisa selonjor atau nggak. Padahal kaki yang selonjor itu penting bagi mereka yang seharian sudah wira-wiri urusan pekerjaan. Kaki yang leluasa berselonjor, kursi yang empuk, dan selimut yang hangat memberikan rasa nyaman sehingga mengurangi mikro stres yang menumpuk.
Kereta api eksekutif juga menawarkan ketenangan. Penghuninya memang tipe manusia yang umumnya memahami bahwa ketenangan datang dari sikap diri sendiri. Sedikit kebisingan artinya tak menghargai penumpang lain yang sedang terlelap. Di sana, volume suara antarpenumpang lebih pelan, percakapan jarang terdengar keras, dan minim orang lalu-lalang.
Selain itu, bagi yang gampang mabuk perjalanan atau vertigo nggak perlu terlalu khawatir karena segala fasilitas di kelas eksekutif benar-benar meminimalisir segala gejala yang bikin perjalanan jadi nggak nyaman itu.
Akhirnya seseorang bisa fokus tidur dan beristirahat sebelum nantinya melanjutkan tanggung jawabnya setelah tiba di kota tujuan.
BACA JUGA: KA Argo Wilis, Kereta Api Eksekutif Terbaik Penghubung Surabaya-Bandung
Lebih punya privasi di kereta api eksekutif
Di area publik seperti kereta api, privasi kadang jadi barang langka. Nah kereta api eksekutif mampu memberikan itu, terutama bagi mereka yang mudah lelah bersosialisasi. Sudahlah tenaga habis sebelum di stasiun, kemudian harus menghadapi situasi di mana percakapan penumpang lain yang tak bisa terkontrol, tentu membuat seseorang jadi makin penat. Kelas eksekutif memberi rasa aman untuk mereka.
Kemudian kelas eksekutif juga cocok bagi mereka yang butuh fokus dan tetap menghadap layar laptop selama perjalanan. Kursi kelas eksekutif kan dilengkapi meja mini yang cukup untuk ditaruh laptop.
Banyak ditemukan tipe orang yang memang dikejar dengan tanggung jawab sehingga perlu tetap fokus. Mereka yang harus tetap rapat melalui zoom, mengerjakan tugas dadakan, atau deadline pekerjaan lain yang bisa diselesaikan daripada hanya duduk bengong di atas kereta.
Kalau di kelas ekonomi, bagaimana cara mereka melakukan itu? Mau melakukan di kantin pun ada batas waktunya loh. Karena kalau sudah terlalu lama, akan ditegur petugasnya untuk bergantian dengan penumpang yang lain.
Mengurangi drama publik dan ketersinggungan
Ini yang terlihat sangat kentara perbedaannya. Di kelas ekonomi, nggak jarang kita menjumpai penumpang lain yang nggak nyaman karena disenggol lututnya tanpa sengaja, atau dianggap terlalu egois merebut ruang untuk kaki mereka yang berhadap-hadapan dengan kita.
Sudahlah capek dan pegal fisik, ini ditambah dengan capek mental karena harus benar-benar sabar biar drama dan ketersinggungan tetap bisa ditekan.
Nah di kereta api eksekutif, semua hal yang berpotensi menyulut ketersinggungan itu bisa cenderung berkurang. Yah karena mau berposisi seperti apa pun, yah bebas. Mau selonjoran juga nggak ada yang melarang. Kursi mau dimiringkan biar nyaman untuk tidur pun silakan. Bagi perempuan, kelas eksekutif juga memberikan rasa aman lebih banyak dari risiko-risiko pelecehan terselubung. Sebab tetap ada pembatas antar dua kursi yang saling berdampingan.
Pada akhirnya, kaum mendang-mending terlalu fokus pada biaya tiket, tapi lupa memperhatikan biaya setelah tiba, yaitu badan capek dan pegal, kepala cenat-cenut, dan mood yang jadi buruk. Eksekutif memang terasa lebih mahal di awal, tapi justru memberi kompensasi lebih baik soal tenaga dan emosi yang terjaga. Dan di usia tertentu, yang diinginkan seseorang dari perjalanan bukan lagi sekadar sampai, tapi sampai tanpa badan terasa hancur.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















