Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Keribetan yang Terjadi Akibat Nama Bapak Nggak Ada di Akta Kelahiran

Vivi Wasriani oleh Vivi Wasriani
12 Februari 2021
A A
perlengkapan bayi baru lahir akta kelahiran nggak ada nama bapak mojok

akta kelahiran nggak ada nama bapak mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sebelumnya izinkan saya bercerita sedikit soal diri saya. Saya adalah anak kelima sekaligus bungsu yang lahir pada pertengahan 2003. Walau saya lahir pada tahun tersebut, tapi saya nggak langsung dibuatkan akta kelahiran. Entah karena apa dan bagaimana, saya baru dibuatkan akta pada 2011 di mana umur saya sudah menginjak delapan tahun, yang kebetulan pada saat itu ada program pembuatan akta kelahiran gratis yang diselenggarakan oleh Dinas Dukcapil.

Awalnya saya nggak paham dan nggak ambil pusing soal akta saya. Entah soal akta saya yang baru diterbitkan delapan tahun kemudian ataupun soal isi dari akta tersebut. Ya gimana, wong saya masih bocil. Tentu saja saya nggak ngerti sepenting apa data saya dan keluarga. Setelah usia saya sudah sebanyak ini, akhirnya saya baru merasa betapa ribetnya menghadapi berbagai masalah dan kesalahpahaman yang timbul akibat isi dari akta kelahiran saya yang agak unik tersebut.

Jadi begini, isi akta lahir saya itu tanpa nama bapak dan hanya tercantum nama ibu. Iya, jadi di akta, saya terlihat seperti anak yatim dan ibu saya terlihat seperti single parent. Huhu, sedih, deh. Padahal, alhamdulillah bapak saya masih sehat hingga hari ini. Daripada bingung, sini saya ceritain kenapa bisa begitu. Ibu saya bercerita waktu pembuatan akta, bapak saya sedang nggak di rumah, alias bekerja di luar kota.

Nah, kebetulan, buku nikah orang tua saya itu sudah lama hilang karena banjir yang bikin buku nikah blio kendang ke antah-berantah. Ditambah faktor keterlambatan pembuatan akta untuk saya, di mana waktu itu saya sudah masuk sekolah dasar, daripada ribet mengurus buku nikah baru yang mana bapak ibu saya harus menyelenggarakan pernikahan secara negara kembali yang tentu saja memerlukan waktu lebih lama, pihak Dinas Dukcapil memberi tawaran.

Tawaran tersebut adalah nama bapak saya nggak perlu dicantumkan di akta lahir saya, dan hanya mencantumkan nama ibu. Jadilah akta kelahiran saya yang sekarang, yang sering menimbulkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman yang paling sering saya alami adalah ketika mengurus data pendidikan saya ataupun keperluan lain yang memerlukan akta kelahiran. Nggak jarang saya dikira anak yatim.

Masih mending kalau dianggap yatim. Bahkan yang paling parah, pernah ada orang yang baru kenal saya karena suatu urusan pekerjaan, lantas melihat akta lahir saya, kemudian curiga saya bukan anak sah alias anak hasil hubungan gelap. Duh Gusti, sedih banget, tapi agak lucu juga. Tentu saja blio nggak ngomong langsung. Hanya saja tersirat dari raut wajah dan pertanyaan yang terdengar menjurus ke kecurigaan tersebut.

Saya mengerti sih, kecurigaan tersebut memang bukan tanpa alasan. Wong nama ayah saya memang nggak ada tercantum kok. Kalau sudah begitu, ya saya tersenyum saja. Pun teman-teman saya yang tahu fakta tersebut juga awalnya melontarkan kalimat keheranan. “Kok bisa gitu, ya?” kata mereka.

Dan keribetan yang lain adalah tentu saja, perihal ijazah dan data saya di Data Pokok Pendidikan alias Dapodik. Dari apa yang saya tahu, data pelajar di Dapodik itu penting banget, walau banyak juga data pelajar yang masih salah. Nah, ketika di penghujung tahun ajaran begini, pemutakhiran data hampir pasti dilakukan oleh pihak sekolah. Maka, dimulai lagi keribetan yang bikin saya perlu bolak-balik fotokopi data ini-itu untuk keperluan sinkronisasi data Dapodik.

Baca Juga:

Kartu Keluarga dan Dokumen Kependudukan yang Dikeluarkan Dukcapil Sekarang Nggak Sebagus Dulu, Nggak Ada Bedanya sama Fotokopian

Baru-baru ini, saya dibuat tersenyum maklum ketika guru saya kebingungan melihat data orang tua saya yang adalah data ibu. Bahkan di ijazah saya sekalipun menggunakan nama ibu. Padahal, murid-murid lain menggunakan nama ayah. Lantas, dengan sedikit canggung, guru ini bertanya kenapa data saya menggunakan data ibu dan meminta data ayah saya, yang diakhiri dengan kata maaf.

Mungkin blio mengira data tersebut berkaitan dengan hal sensitif, dan blio nggak mau nyenggol hal yang barangkali jadi menyakitkan bagi saya. Saya bisa menebak perkiraan blio. Barangkali blio kira saya adalah produk buatan pabrik broken home yang saking bencinya ibu saya, sampai nggak sudi naruh nama ayah saya di akta kelahiran saya. 

Padahal sungguh, itu semua murni karena buku nikah bapak ibu saya yang seenaknya berenang saat banjir dan nggak mau pulang lagi. Hadeeeh.

BACA JUGA Segera Keluar dari Lingkaran Pertemanan Toxic Sebelum Kamu yang Dianggap Toxic dan tulisan Vivi Wasriani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2021 oleh

Tags: akta kelahiran
Vivi Wasriani

Vivi Wasriani

Hobi bernapas dan suka makan.

ArtikelTerkait

Kartu Keluarga dan Dokumen Kependudukan yang Dikeluarkan Dukcapil Sekarang Nggak Sebagus Dulu, Nggak Ada Bedanya Sama Fotokopian!

Kartu Keluarga dan Dokumen Kependudukan yang Dikeluarkan Dukcapil Sekarang Nggak Sebagus Dulu, Nggak Ada Bedanya sama Fotokopian

30 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya (Wikimedia Commons)

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya

10 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.